Hidup Damai di Rammang Rammang

Sebenarnya, liburan natal kemarin saya dan beberapa teman mo ke Toraja. Momennya pas, karena setiap menjelang natal mereka punya program Lovely December. Rencana kami pun urung terwujud karena yang punya mobil lagi ada acara juga. Kami nyari destinasi yang cukup dekat dari Makassar. Jadinya, kami ke Rammang-Rammang.
Pedesaan di daerah Maros ini punya banyak karst, baik dalam bentuk perbukitan maupun batuan besar yang teronggok dan terhampar luas di darat dan sungai. Baru tau juga setelah googling kalo Rammang-Ramang ini termasuk perbukitan karst terbanyak setelah Cina dan Vietnam.
Akses kesana cukup mudah. Kalo dari Makassar ke Maros sekitar 2 jam, sudah termasuk macet normalnya. Nanti ketemu pertigaan Pabrik Semen Bosowa belok kanan deh. Patokannya sih kantor PLN. Kalo langsung belok kiri, nanti ketemu yang kayak gini

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/5e9/12526018/files/2015/01/img_7915-2.jpg

Yep. Bisa dibilang pedesaan, tapi ga yang terlalu ndeso banget sih. Karena sudah banyak yang punya rumah beton gitu. Oh iya, didaerah sini juga ada dermaga untuk langsung ke desa Berua. Tapi viewnya kurang bagus dan perahunya ga selalu stand by. Di kanan kiri jalan diapit persawahan. Pemandangan yang sebelah kanan benar-benar luar biasa. Persawahan dengan latar bukit karst dan karst kecil yang terbagi acak. Saya sih liat karst yang tersebar ini ada yang membentuk gugusan seperti Stonehenge.
Nah, kalo lurus dikit setelah PLN nanti sebelum jembatan ada dermaga buat ke desa Berua yang bakal nganterin ke “Hidden Paradise”

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/5e9/12526018/files/2015/01/img_6947-0.jpg

Oh iya… Di sana sudah ada gapura yang dibangun provider XL. Jadi ga usah takut nyasar. Untuk perahunya, itu biayanya dipatok sama mereka Rp 200.000,- kapasitas bisa sampe 5 orang. Dengan sedikit nego, akhirnya Rp 170.000,- (namanya juga cowok, kalo nego kayak gini sih bukan ahlinya hahah). Perjalanan menuju desa Berua sekita 30 menit. Sepanjang perjalanan menuju desa Berua pemandangan sungainya seperti ini. Silakan deskripsikan sendiri dah

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/5e9/12526018/files/2015/01/img_7913-0.jpg

Ada beberapa tips yang bisa kalian pertimbangkan kalo mo kesini
1. Naik perahu usahakan tidak duduk di belakang mesin. Jadi kalo ga ada yang duduk di belakang mesin, cuma 4 orang aja kapasitasnya. Duduk dibelakang mesin bakal kepanasan. Kebayang dong, perjalanan 30 menit kepanasan dekat mesin bisa mateng hehehe.
2. Sebelum berangkat, buat perjanjian dengan harga yang udah kalian nego tetap bisa minta special offering. Kalian bisa minta berhenti pas spot tertentu kalo mo foto-foto. Atau minta diantar ke Telaga Bidadari. Telaga yang letaknya tersembunyi di antara karst.
3. Waktu terbaik ke Rammang-Rammang sih sebenarnya pas musim hujan. Tapi bukan berarti harus hujan-hujanan loh yaaa. Soalnya kalo kemarau, sungainya sering surut. Kadang pas berangkat, sungainya pasang. Tapi pas mo pulang malah surut, jadi harus nunggu sungainya penuh dulu hahahaha…. Kalo nekat yaa dorong aja perahunya
Nah, desa Berua nya seperti ini

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/5e9/12526018/files/2015/01/img_7914-0.jpg

Rasanya 30 menit perjalanan ga bisa tutup mata saking takjubnya sama tempat ini. Tempatnya menawarkan kedamaian dan ketenangan. Desa Berua cuma ada 10 rumah dengan asumsi satu rumah diisi bapak, ibu dan 3 orang anak. Jadi hanya dihuni sekitar 50 jiwa (tidak termasuk anjing yang berkeliaran disini yaah). Semua rumah masih rumah panggung khas sulawesi. Listrik mengandalkan tenaga surya dan generator sebagai cadangan. Lokasinya di dominasi sawah. Rasanya sih, tiap rumah punya petakan sawah sendiri. Benar-benar damai…

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/5e9/12526018/files/2015/01/img_7613.jpg

Oh iya… Sebelumnya, saya sudah cerita di blog teman saya, Aqid. Doi traveller sejati deh, tiap weekend bisa kemana-mana. Cerita singkatnya bisa liat di sini selain ceritanya yang keren, yg punya blog juga masih single loh. Sapa tau mau jadi travel mate nya hehehehe (bales promote yaah, qid)

The Amazing 7 Days : I Have No Idea

Rabu, 20 November 2013

Pagi ini mendung masing membekas di langit. Menghitam, menebar terror dengan aroma dinginnya. Meringkuk, melipat badan ternyata belum cukup untuk menutup celah tubuh agar tak tertembus angin.

Dingin, ketika mata terpejam lalu kau seolah datang dan semakin dingin ketika sadar bahwa itu tak nyata.
Dingin, ketika bersua dalam diam yang cukup panjang.
Dingin, ketika kau duduk memunggungi. Tak ingin beradu pandangan, tak ingin bertatap muka.
Dingin, ketika melihat history percakapan. Berawal dengan tawa basa basi lalu kemudian berakhir begitu saja tanpa basa basi.
Dingin, ketika kau hanya mampu berkata, “Tidak apa-apa”.
Dingin, ketika mendengar tentangku, seolah kau ingin segera mengakhiri cerita itu.
Dingin, bukan seperti es yang mampu membatu. Namun dingin seperti kabut, hanya seberkas, sekejap, menghilang.  Tek berbekas, namun berjejak tetesan air pada dedaunan.

Ngalor-ngidul

I have no idea for this day. Setiap ditanya sama Edhy atau Mamank “Mau kemana hari ini?”, saya hanya bisa ketawa cengengesan ga jelas. Benar-benar ga tau mau kemana. Apalagi cuacanya mendung gini. Yaaah sedari awal sih emang tujuan cutinya itu cuma buat nonton Catching Fire sama main ke Gua Jomblang atau Gua Pindul. Tapi setelah dapet info dari teman-teman, karena daerah gunung Kidul sana lagi sering hujan. Jadi banyak jadwal yang di cancel. Selain itu di Gua Pindul kalo musim hujan gini airnya jadi keruh jadi ga bagus buat main air. Jadi tips cuti kali ini adalah jangan lupa perhitungkan musim. Cuti di musim hujan seperti ini bisa bikin jadwal kalian banyak yang gagal.

Akhirnya jadilah kami makan siang dulu sambil memikirkan kemana kami akan pergi selanjutnya. Kami (Saya, Mamank, Edhy dan Fauzan)  makan siang di Soto Pak Min. Saya sudah sering mendengar bagaimana mereka sangat menyukai Soto Pak Min yang rasanya enak itu (setidaknya melalui twitter). Awalnya sih sempat bayangin kalo tempatnya tuh bagus, ga kayak warung-warung biasanya. Ternyata setelah sampe jadi under-estimate gitu kalo ternyata tempatnya dipinggir jalan dengan tenda doang.

Saya segera menghilangkan pikiran negatif saya setelah melihat antrian parkiran yang penuh banget. Soto Pak Min ga mungkin ga enak, parkirannya aja penuh gini. Setelah liat menunya, ternyata yang disajikan cukup sederhana. Hanya soto ayam, namun beberapa variasi misalnya pake dagingnya aja, pake paha ayam, pake ceker dan lain-lain.

Okee… Jogja emang tempatnya kuliner. Wisata kuliner juga ga harus mahal-mahal kok. Nah, ini salah satunya. Baru kali ini makan soto ayam yang bener-bener gurih banget. Sorry, Soto Lamongan di Sidogiri, kamu punya saingan yang namanya Soto Pak Min di Jogja hahahaah… Pokoke mak nyuuuusss! (ala-ala Bondan Winarno). Oh iya, ngomong-ngomong Bondan Winarno, jadi lupa kalo pas di sana pengen banget ke Kopitiam Oey. Pengen ngerasain teh talua itu. Haaaahh… nantilah kalo ketemu Kopitiam Oey lagi.

“Jadi kemana kita ini?”

“Mo ka dulu service motor sama Fauzan, baru nanti mo cari sepatu running”

“Oke, kalo bgtu saya sama Edhy tunggu di Toga Mas samping Gramed. Nanti kita temani cari sepatu, Mang,” berasa keluar tanduk hahaha… entah kenapa kalo lagi temanin orang belanja itu sangat mengasyikkan untuk dipengaruhi (senyum jahat).

Toga Mas

Menurut saya, Toga Mas ini adalah surganya buku diskon. Tiap hari dapat special diskon untuk genre tertentu. Makanya kemarin borong novel soalnya hari selasa smua novel diskon 25% cooooyy. Toga Mas yang di samping Gramedia ini adalah Toga Mas yang dulunya di depan Empire XXI. Pas kuliah, ini jadi salah satu tongkrongan favorit. Saya selalu mimpi bisa tinggal di antara dua gedung ini, XXI dan Toga Mas. Sempurna sekali!

Yang bikin betah selain bukunya adalah café nya. Untungnya sih Toga Mas pindah, café nya juga ikut pindah. Udah kayak satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan gitu deeh… Saya dan Edhy kemudian berlama-lama di Toga Mas dan itu membuat saya berhasil menemukan bukunya Yoris Sebastian sama Komaruddin Hidayat. Lumayanlah bisa buat bacaan ringan untuk kehidupan (lupa judulnya apaan, soalnya tulisan ini dibikin dikantor dan tanpa mengabaikan nasabah lho yaa… just on my free time. No customers, no job heheheh)

Kami kemudian menunggu Mamank dan Fauzan di café Toga Mas. Café ini saya lupa namanya apa, tapi café ini punya minuman cokelat terenak yang pernah saya minum. Tapi definisi enak menurut saya belum tentu enak bagi orang lain. Jadi menurut saya cokelat yang enak itu adalah cokelat yang pahit, rasa manisnya hanya beberapa saat dan kemudian jadi pekat dan pahit. Itu benar-benar enak. Walaupun dicampur susu ataupun vanilla, rasa cokelatnya yang asli tetap kuat.

Beberapa lama, Mamank dan Fauzan juga datang dan mampir ke Toga Mas dulu baru mendatangi kami di café. Hujan pun turun dan kami harus menunggu sampai reda untuk membantu mempengaruhi Mamank membeli sepatu hehehe.

“Coba cari tulisannya “INI” (Lupa. Kemarin tulisannya apa yang ada di poster-poster jadul itu)”

“Itue!!” ga cukup semenit udah ditemukan sama Edhy.

“Coba cari tulisannya CROCODILE. Ada disekitar sini ji juga” Edhy sambil bikin lingkaran batas pake tangannya. Saya dan Fauzan sudah melongo mencari kemana-mana. Semantara Mamank Cuma senyum-senyum.“Pasti na tau Mamank hahaha”.

“Oke nyerah. Nda ku tau”.

“Iya, saya juga”.

“Tulisannya ada di celana dalamku! Hahahaha..”.  Kami terus melanjutkan permainan konyol itu sampe hujan benar-benar reda lalu mencari sepatu running untuk Mamank (tapi ga sampe ke merek celana dalem lagi lho yaa… hahaha).

Sepatu Running

Kami memulai dengan toko di dekat Mall Galeria. Di sana Mamank menemukan sepatu yang disukai tapi tidak ada ukuran yang pas untuk kakinya. Sembari Mamank mencari dan mencoba model lain, kami juga sibuk melihat-lihat jaket dan sepatu yang ada disana. Basa basi aja sih sebenarnya, ga ada niatan buat beli. Cuma liat doang, ooh ini bagus, ini bagus, yang ini bagus, tapi yang beli tetap Mamank. Pokoknya misi hari ini Mamank haru beli sepatu! HARUS!! Hahahaha

Masih ditoko yang sama, operator komputernya lagi sibuk ganti lagunya berulang kali sampe akhirnya berhenti di lagu Miley Cyrus – Wrecking Ball. Lagunya emang keren sih tapi tidak sekeren video klipnya. Video klipnya nude dan erotis banget (Ga usah dibahas lebih lanjut bagaimana video klipnya, nanti tulisan ini malah dikasih rating “xxx” lagi hehehe…) tapi lagu ini ternyata cukup melekat  selalu kami nyanyikan bersamaan di bagian yang sama

“I came in like a wrecking ball
I never hit so hard in love
All I wanted was so break your walls
All you ever did was
WRE EE EECK ME
YEAH YOU WREE EE EECK ME”

Hahahaha… kami cukup kompak untuk menyanyikan bagian akhir reff nya. Di bagian ‘WREE EE EECK ME’ walopun kedengarannya kayak nyebut “ee ek” gitu (eeww :P)

Karena tidak ada yang pas, akhirnya kami melanjutkan ke Mall Galeria. Ke  Sport Station, Athletics Sport tapi tidak ketemu juga model yang sama dengan yang Mamank sukai. Mungkin seperti ini yang dinamakan cintapada pandangan pertama. Sekali saja kau melihat yang menarik hatimu, maka kau tidak akan pernah bisa mengalihkan pandanganmu darinya. Pandangan pertama akan terus kau lanjutkan ke pandangan kedua, ketiga dan seterusnya. Mencari yang sepadan dan sama dengan dirinya. Mengacuhkan semua yang ada disekitarnya. Kira-kira seperti itu gambarannya.

Masih belum menemukan yang cocok untuknya, kami melanjutkan ke Mall Malioboro. Kami ke Reebook, Sport Station dan Mamank belum menemukan cinta pada pandangan pertamanya. Akhirnya kami mampir ke Matahari. Mamank malah “berpaling”, tergoda oleh rayuan celana pendek  Nevada. Mungkin untuk pelairannya karena belum juga menemukan sepatu running hehehe.

Kami kemudian menunggu Mamank di Athletics Sport dan kami menemukan cinta pandangan pertama Mamank di toko itu dengan ukuran yang pas. Hahahaa saatnya kami mempengaruhinya. Dari Athletics Sport kami melihat Mamank dengan gembira keluar dari Matahari bersama dengan belanjaan “selingkuhannya”. Seperti pengkhianatan, ternyata Mamank sudah menmgkhianati sepatu running dengan mendahulukan celana pendek Nevada yang dibelinya.

“Mang, di dapatmi sepatumu. Inie,” sambil nyorongkan sepatu running warna hitam kombinasi hijau neon. It’s so bright!

Mateni (mampus dah), sudah ka beli celana tadi!”.

“Nda papa ji Mang. Nanti sa tambahkan kurangnya. Oh iya, Mbak, biasanya dia kalo coba sepatu langsung satu pasang, ga satu doang, hehehe….” mulai mempengaruhi.

Baaahh magaretta ko Mang (Baaah kmu ganteng Mang) pake itu sepatu,” Edhy ikut-ikutan provokasi Mamank. Sementara Fauzan Cuma bisa ketawa sambil angguk-angguk mengiyakan. DAN PROVOKASI KAMU PUN BERHASIL! Hahahaha… Selamat Mang atas sepatunya and Happy Running J

“Eh Mang, langsung pake saja sepatumu. Lari mo dari Malioboro ke Aspura, nanti kita ikuti dari belakang, hahahaa”.

***

Kembali ke asrama, setelah makan malam. Kembali menghabiskan malam dengan berbagi cerita. Sembari bercerita, mataku tiba-tiba tertuju pada akun @IndohungerGames. PREMIERE CATCHING FIRE 21 NOVEMBER 2013!! Satu hari lebih awal ternyata! Okay, just sleep early for this movie. Kumpulin tenaga buat ngantri besok. See you tomorrow, Katniss. The Girl on Fire J

 

The Amazing 7 Days : The Books Hunter

Selasa, 19 November 2013

Seperti biasanya, bangun pagi dengan handphone di tangan atau di sisi dimana saya bisa berhadapan langsung dengannya, mendengarnya dan bisa merasakan kelipan cahaya merahnya ketika sesuatu sedang terjadi. Pagi-pagi seperti ini sangat urgent. Setidaknya hingga jam 5 sore hahaha… mulai dari user id dan password computer, alamat web untuk pengaduan nasabah, registrasi kartu ATM bahkan sampe pada pin kartu otorisator EDC. Semuanya tentu diluar kendaliku, walaupun saya sudah meninggalkan user-user beserta passwordnya tapi tentu saja selalu ada hal yang urgent yang tentunya tak terduga olehku sebelumnya. So if you want to know how important your self, just away for a while and see how the people around you needs your self and need your help *tolong dikoreksi kalo kalimatnya salah hehehe)

Pagi seperti ini, bagi anak-anak aspura adalah jam tidur. Entah itu begadang atau tidak, jam 6 masih saja jam tidur. Bahkan kuliah pagi pun kadang kalah kuat panggilannya dibanding panggilan kasur. Apalagi sekarang ini Jogja lagi dingin-dinginnya. Tapi, akhirnya saya bisa punya waktu untuk bercengkrama dengan kesunyian Jogja, setidaknya di Aspura. Usai sholat subuh jalan kaki ke Indomaret beli susu beruang dan roti sobek. Emang sih ga jauh-jauh amat, tapi itu cukup untuk memberiku ruang. Just me and this town, and it’s perfect.

Koran pagi, di depan tv dan sarapan roti. Haaaah benar-benar mengulang masa kuliah. Karena waktu dimana saya bisa memindah-mindah channel sendiri hanya pada saat pagi hari. Tentu saja siang dan malam tv sudah jadi milik berjamaah. Siarannya pun berjamaah, biasanya kalo siang semacam FTV atau berita, sementara kalo malam pasti On The Spot lanjut OVJ. Yaaah… itu masa kuliahku dulu, entah sekarang seperti apa. Berhubung asrama lagi kondisi rehab, jadi agak berantakan dimana-mana. Tapi yang bikin segar adalah ruang TV sekarang ini setidaknya ga sesuram yang dulu hehehe dan akan jadi lebih bersih kelihatannya setelah proses rehab selesai.

Pagi seperti ini kadang bikin bosan, kenapa tidak. Tidur kembali tentu sudah buka lagi jadi pilihan karena tidur kembali setelah sholat subuh biasanya bikin kepala malah pusing. Pagi di Aspura benar-benar biking saya ga punya pilihan. Tidak seperti pas kuliah dulu, bangun pagi bisa dengan lelapnya tidur lagi sampe siang. Atau kalo tidak bisa nyalakan lapto dan memainkan permainan facebook. Happy Aquarium, Zoo Island, Happy Island, City Ville, Happy Pet, Night Club dan masih banyak permainan facebook lainnya yang bikin betah sepanjang pagi bahkan sepanjang malam di depan laptop. And now, I leave it. Pernah kucoba untuk kembali duduk dihadapan laptop di kamar Mamank. Hasilnya saya hanya bisa bertahan beberapa menit lalu meninggalkannya. Hahaha… setidaknya Sendawar telah menyembuhkan ketagihanku terhadap internet.

***

Full of Books

Hari ini saya memutuskan untuk menghabiskan waktu untuk hunting buku. Beberapa list yang tertinggal di Sendawar hanya bisa aku ingat-ingat. Kali ini Mamank dan Edhy tidak ikut. Jadi hanya saya dan Alhe saja. Sayangnya, kedatangan saya di Jogja terlambat untuk mengikuti pameran buku. Kapan lagi bisa dapat buku dengan harga yang benar-benar murah. Kali ini kami ke Toga Mas Gejayan. Awalnya saya benar-benar lupa kalo ada Toga Mas di Gejayan. Barulah saya ingat ketika sampai di Toga Mas. Ternyata ini adalah took buku pertama yang saya datangi ketika berada di Jogja. Waktu itu bareng Kak Asman.

Ngomong-ngomong tentang buku, ini adalah penyakit saya. Mungkin hampir sama dengan cewek-cewek yang matanya langsung jelalatan ketika masuk ke mall mengarungi segala toko dengan tanda diskon. Hal yang sama juga saya rasakan ketika masuk ke toko buku. Bedanya, ketika berada di toko buku ketika tak ada uang sekali pun kita masih tetap membuka plastiknya dan membacanya di sana *hihihi otak gratisan).

Pertama  masuk ke Toga Mas, saya langsung menghirup napas dalam-dalam. Merasakan aroma buku baru yang khas *kira-kira ada parfum aroma buku ga yaah). Aromanya betul-betul menenangkan hehehe… segera saja memulai pencarian dengan mengingat semua list yang tertinggal di Sendawar. Saya memulai dengan mencari serial Percy Jackson 3-5. Cukup mudah menemukannya karena ternyata novel itu berada ditumpukan atas. And now, I’m officially a wizard, a tribute and A HALF BLOOD. Lengkap sudah koleksinya yeayy!!!

Pencarian kemudian berlanjut ke The Geography of Bliss. Buku tentang perjalan seorang penggerutu untuk mencari arti kebahagiaan diberbagai belahan negara. Novel yang sedari dulu saya cari bahkan terpikir untuk membaca yang versi bahasa inggris. Namun segera saya urungkan karena itu juga dalam bentuk ebook yang ada di handphone. And now, I found it.

The Jacatra Secret, buku tentang symbol satanic yang ada di Jakarta. Novel petualangan, yaaa gayanya sih kayak novel-novel Dan Brown gitu. Buku ini direkomendasikan oleh Ahlul. Dia rekomendasikan buku itu karena dia tau betul saya sangat tertarik sama novel-novel tentang konspirasi, symbol yang dipadu dengan petualangan. Dan pengarangannya sendiri adalah orang Indonesia. Can’t wait to read it.

Anak-anak Revolusi adalah novel selanjutnya. Menemukannya sangat mudah, cukup mencari stan new release and whoalaaa… Buku karangan Budiman Sudjatmiko ini bikin saya cukup penasaran karena cukup rame dibicarakan ditwitter dengan berbagai kisah yang menggugah. Dan setelah membaca sekilas, bahasanya memang ckup menarik. Dikemas dengan bahasa sastra namun tidak terlalu berat.

Saya kemudian beralih ke ujung ruangan Toga Mas dengan kategori agama. Awalnya saya mencari buku Sejarah Muhammad karya M.Husain Haekal. Kalo yang ini buku rekomendasi dari Pak Gun *Jedeeeeer hehehe) Bapak Kanwil V yang sekarang menjabat jadi Kepala Learning Centre Division BSM. Paling ingat pas BSP di Makassar kemarin disuruh cari dan baca buku ini. Tapi setelah menyusuri setiap rak ternyata ga ketemu-ketemu. Baik di Rak Islam maupun di Rak Sejarah sama sekali ga ketemu. Nyari catalog di computer rupanya stoknya emang udah habis. Akhirnya beli Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW karya M.Quraish Shihab. Jadi buat teman-teman yang ingin lebih mendalami Islam tapi dengan bahasa yang praktis namun mendalam silakan baca buku-bukunya M.Quraish Shihab. Karena Tafsir Al-Misbah yang di Metro TV itu cuma pas Ramadhan dan hari-hari besar Islam seperti pas Idul adha kemarin.

Perjalanan kami lanjutkan ke Gramedia. Di sana saya bisa menemukan Les Miserable 2. Novel ini cukup bikin penasaran setelah nonton filmnya yang luar biasa keren.  Kalo tipenya sih yaaah bisa dibilang novel roman gitu. Tapi ceritanya sih komplit tentang cinta, pemberontakan, perang dan idealisme.

The Demigod Diaries. Buku karangan Rick Riordan ini bikin saya sangat tertarik karena kisah-kisahnya tentang mitologi yunani. Kayaknya Om Rick emang spesialis novel fantasi ala Yunani deh. Sedikit banyak buku ini ada kaitannya dengan novel-novel Percy Jackson, terutama Annabeth, the daughter of Athena. Novel fantasi emang ga ada abis-abisnya J

Habiskan Saja Gajimu adalah buku yang direkomendasikan dari teman-teman klub Sastra BSM. Isinya sih tentang manajeman keuangan. Yaah yang namanya karyawan dengan gaji yang pas-pasan seperti kita ini harus bisa dan pinta ngatur keuangan. Tapi berhubung lagi cuti, ayo habiskan saja uang cutinya hahahaha…

Satu hal yang mungkin dipertanyakan sama orang-orang ketika saya membeli buku dengan “rakus”nya. ”Emang bisa baca semuanya??”. Jawabannya sih pasti iya, tapi tidak dalam waktu dekat. Saya emang termasuk gila belanja kalo urusan buku, terutama novel fantasi. Bahkan beberapa buku yang sempat saya beli kemarin-kemarin masih dalam bungkusan plastik, perawan dan belum terbaca sama sekali. Simple sih, menrut saya buku-buku ini adalah investasi saya ketika lagi bosan, ga ada kegiatan atau ketika sedang sendiri. Entah kenapa ungakapan “Buku adalah jendela dunia” yang sering saya liat dan baca di perpustakaan pas SD begitu melekat hingga sekarang.

Dan bagi seorang pengkhayal seperti saya, buku-buku fantasi memang sudah jadi makanan saya sejak kecil. Pas kecil udah hobi banget bolak balik perpus buat pinjem buku-buku cerita rakyat setiap provinsi di Indonesia. Bahkan pas kecil udah baca buku Mira W yang jelas-jelas bukan bacaan untuk anak usia SD *lupa judulnya apa, dulu ada sinetronnya di TV dan kalo ga salah soundtracknya pake lagu Ruth Sahanaya). Bapak juga nyuruh baca buku Siti Nurbaya karya Marah Rusli, sama Tenggelamnya Kapal Van  Der Wijk. Dari situ mulai suka sama buku, baca majalah dan akhirnya ketemu sama Harry Potter yang bikin cinta mati sama novel-novel fantasi.

Oh iya, ngomong-ngomong tentang buku, baru ingat kalo dulu ternyata Bapak juga suka sama buku fantasi. Bener-bener baru inget kalo dulu sempat bikin rentalan buku Fantasi Indonesia yaaa kayak Si Buta dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir dan lain-lainnya. Sayang banget udah ga bisa dapet buku itu lagi. Seingat saya, langit-langit kamar Om ku penuh dengan cover buku-buku fantasi Indonesia *entah sekarang masih ada ato udah diganti langit-langitnya. Sepertinya saya mewarisi itu dari Bapak. Sama seperti film, beliau juga seorang penikmat film. Dan sempat bercerita kalo dulu pas jaman beliau sekolah sempat bolos demi nonton film di bioskop. Hahahaha… and now it’s in me, Dad. Thanks for the gift😀.

***

Royal Blue

Setelah merasa cukup belanja bukunya, saya dan Alhe kemudian cari makan. Awalnya sih mo ke Kalimilk aja. Tapi berhubung disana ga ada makanan berat, akhirnya saya mengurungkan niat. Pertanyaan “mau makan apa?” memang pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, alih-alih kelaparan dan tidak menemukan jawaban yang pasti akhirnya kami mampir ke Malioboro Mall, Pizza Hut.

Sebenarnya sih kami bukan tipe orang yang kaget dengan brand-brand semacam Pizza Hut, Dunkin Dounuts, J.Co dan segala jenisnya. Bagi beberapa orang makan ditempat itu semacam prestise gitu. Tapi menurutku biasa saja. Yaaah banyak orang yang terlalu mengagungkan itu semua. Tidak merasa makan kalo bukan di tempat itu. Satu-satunya yang membuat saya tertarik cuma Bread Talk, itupun karena new Choco Fudge nya. That’s why I love Bread Talk.

Akhirnya kami makan di Pizza Hut tanpa memesan pizza sama sekali. Alhe memesan Chicken Black Pepper karena itu satu-satunya menu yang pake nasi. Sementara saya sendiri hanya memesan salad buah.

“Kakak, mau pesan pizza? Ini ada pizza terbaru lho Kak?” si pelayan berusaha gombalin.

“Oh ga usah, Mba. Terima kasih,” sambil pasang senyum. Hahaha ini jurus yang diajarin Salam, Terima Kasih, dan Maaf. Dan jangan lupa smile’s on.

Edhy kemudian datang menyusul dan memesan menu yang sama dengan Alhe. Dia datang sendiri dan ada tanda merah di batang hidungnya. Mungkin itu tanda yang ditinggalkan oleh Voldemort. He is the boy who lived hahaha….

“Itu hidungmu kenapa?”

“Nda tau, tadi sakit sekali kepalaku. Begitu memang kalo sakit kepalaku, langsung muncul tanda merah dihidungku. Kebetulan juga pas ko telpon, baru ka bangun dan kelaparan. Hehehe…”

Sementara makanan kami habis, makanan Edhy belum juga datang. Dan kayaknya tempatnya udah mo tutup. Isinya aja tinggal kami bertiga sama ada 2 orang cewek yng udah hampir beres makannya. Penantian sekian lama, ternyata makanannya lebih cepat habis dibanding waktu nunggunya. Tapi kadang-kadang dengan cara seperti itu, makanan terasa lebih nikmat.

 “Eh nanti ke Matahari bentar, sa mo liat jaket sama baju kemeja,” ajakanku kemudian disambut oleh mereka berdua.

“Di Wrangler ko liat jaket, kalo baju kemeja di Executive,” Edhy sambil nyengir. Kayaknya nyengir jahat.

“Hahahahaha… mo jebak saya yaah”

“hahahahaha….”

Sebenarnya sih emang mo nyari kemeja dengan warna “royal blue”. Ada sih ketemu, tapi ukurannya gede banget. Haaaah… berharap seandainya kau ada disini, atai saya jadi ke Depok, kita bisa ketemu dan bisa temani saya cari kemeja warna Biru Kate Middleton di tempat jualan cakar yang katamu super murah atau di Tanah Abang mungkin?? Hehehe… I always miss you the way I am. Maybe next time to see you and I’m sorry for now, for the promise and for the plan…

The amazing 7 Days : Dipaksa Kenangan

Senin, 18 November 2013

Keluar dari pesawat dan menghirup udara Jogja. Sungguh menenangkan. Tidak hanya udara, bahkan kenangan tentang asa dan cinta juga ikut terhirup. Tidak salah jika mereka ikut berbaur tak kasat warna bersama dengan udara Jogja. Saat terhirup, kenangan-kenangan itu sedikit demi sedikit mengendap di dasar hati yang pernah merasakannya. Dan saat menghebuskan, beberapa kenangan pahit akan keluar. Biarkan dia keluar, cukup untuk diingat, tidak untuk disimpan.

Sudah terbayang bagaimana wujud asrama yang sebentar lagi akan kembali menjadi rumahku selama seminggu. Haaah… masih teringa dengan jelas, warna kamar yang hijau tosca, terang dan “isakan tangis wanita” hahahaa… Masih teringat dengan jelas ruang TV yang berpasir, deru motor dipagi hari disertai dengan teriakan “buuurrrjooo” dan “jajaaan-jajaaaan”. I love this moment.

Lama pula tak melihat wajah-wajah teman yang dulu seperjuangan dan harus kutinggalkan terlebih dahulu. Merindukan mereka yang selalu menjadi teman berbagi kisah. Semua pengakuan dimalam hari yang benar-benar mereka ungkapkan dengan kisah mereka masing-masing. Sudah lama tak mendengar kisah mereka. Dan tak sabar mendengar mereka kembali bercerita tentang apa saja. They always know how to make me smile hahahaha…

Saya dan Om Nugi berpisah di bandara dan akan kembali bertemu di bandara satu minggu lagi. Awalnya sih pengen melepas kangen dengan Jogja, menyusuri jalan dengan bus dan berjalan kaki. Tapi Mamank segera datang menjemput, ya sudah itu tidak mengurangi caraku melepas kangen dengan Jogja. Pertama, saya sudah sangat merindukan Lontong Sayur Pakualaman. Akhirnya kami sarapan di sana, sekalian melepas rindu sejenak.

Bayangan kembali muncul, you know who… di tempat yang sama. Pertama kali jalan abis dari SunMor UGM lalu makan bersama. Masih di tempat yang sama, malam hari, ada banyak cerita di sini. Masalah rapat, curhat, pengakuan, amarah dan sebagainya sudah pernah didengar oleh pohon besar yang tetap kokoh walau tampak habis dipangkas.

Terpikir untuk menengok Aspuri walau hanya sebentar. Atau mungkin cukup melihat-lihatnya saja. Hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa di sana ada banyak cerita ada banyak kisah. Bahkan kisahku berawal dari sana, dari latihan teater hahaha…

Masih membangun kenangan, bus-bus yang melewatiku sepanjang perjalan ke Aspura. Di dalam bus juga ada banyak cerita. Keliling berdua hingga di sebut pasangan Romeo and Juliet oleh kernek bus. Saksi yang tidak pernah bercerita tentang bagaimana perjalanan kami dan kemana saja kami pergi. Yaa semua dengan bus itu…

Melewati perempatan Kantor Pos – Malioboro, semakin banyak kisah di dalamnya. Bagaimana menghabiskan waktu yang ternyata menjaga kami untuk selalu pulang lebih awal. Bagaimana waktu membawa kami begitu lambat dan bagaimana waktu juga yang membuat kami harus saling melepas satu sama lain. Di tempat dan di lorong yang sama. Entah air matamu jatuh di mana, mungkin jejaknya masih ada. Yaah… itulah kenangan yang tiba-tiba memaksa untuk diingat. Memaksa untuk dirindukan tapi tak pernah terpikirkan lagi untuk kembali bersama kenangan itu.

***

Di kamar Edhy, saya dijamu ikan kering yang disiram dengan minyak goreng wangi lalu dicampur cabe yang dihaluskan dengan sendok, dan dimakan dengan nasi panas *can you imagine that food hahaha)

“Jadi dimana ini mo dibawa tamu’e..” Edhy memulai percakapan konyol.

“Mo dibawa di Malioboro sama Alun-alun yang tutup-tutup mata” saya jawab sendiri, padahal Malioboro sudah makanan sehari-hari pas kuliah dulu. Dan paling ogah main tutup-tutup mata lewati Pohon Kembar di Alun-alun Kidul.

“Eh, korupsi lagi Merapi toh”  Ari pasang ekspresi polos.

“ERUPSI!! Hahaha…”

“Begitu memang bahasanya Ari. Itu pialaku berdua sama Ari Juara Lomba Debat lawan anak UGM” padahal yang ditunjuk itu piala turnamen futsal x_X hahahaha

Sambil ngecek 21cineplex.com,“Eh ayok nonton Ender’s Game sebentar sore. Sekalian jalan”.

“Ayooo!”

Jadilah kami ke Amplas nonton Ender’s Game. Saya sama Mamank, dan Edhy sama Firdah. Selalu lucu kalo liat pasangan ini. Mereka ga terlalu suka nonton film barat, atau film luar negeri gitu. Katanya males baca teksnya hahaha alasan yang aneh. Kadang-kadang mereka konyol but it’s romantic the way they are hehehe

Saya selalu punya cara sendiri untuk menikmati film. Setelah menonton habis filmnya, biasanya saya akan selalu membawanya kekehidupan nyata. Seolah-olah peran dari setiap film itu adalah saya sendiri dan sedang berperan di dunia nyata. Hahahah… ini yang kadang-kadang bikin saya sulit membedakan mana kehidupan nyata, mana kehidupan buatan imajinasi saya..

The Amazing 7 Days : Keberangkatan

…perasaan bisa pupus, namun logika ‘kan selalu ada – Mariisa Anita

Datang karena cinta. Karena di sini yang semula berawal, lalu berakhir tepat sebelum aku meninggalkannya.

Datang karena janji. Namun harus diingkari oleh ragu. Melawan logika, mencari alasan untuk mengalahkan hati dan memenangkan logika.

Datang karena kenangan. Setiap sudut bercerita. Seperti baru kemarin melihat diriku berdiri, berjalan dan sekarang melarikan diri dari kejaran waktu.

Datang karena sahabat. Menyatukan sisa cerita. Tentang kenangan yang menjadi nostalgia. Tentang cinta yang mereka bagi. Tentang perjuangan yang akan digapai. Dan tentang asa, terkadang hanya mereka yang tau dan mengerti.

 

“Lho kamu kuliah di Jogja toh?” Si Bos sambil nyengir nanya. Entah dia baru tau ato belum baca resume lamaran saya deh kemarin.

“Iya, Pak,” bales nyengir.

“Kuliah di mana?” nanya lagi, kayaknya basa basi banget.

“Saya di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam, Pak”.

“Itu kampusnya di mana?” masih kelihatan basa basi. Pertanyaan ini rupanya bener-bener melekat buat kampus saya.

“Ooh… itu di dekat UAD, Pak”

“Yang deket Mandala Krida itu yaah?”

“Iya, Pak,” lega juga akhirnya Si Bos tau lokasinya.

“Kamu ke Jogja mo ketemu pacarmu yaah?? Ato mo ketemu mantanmu??” pertanyaan Si Bos ini kalo ukuran sinetron udah di zoom in zoom out nih muka saya.

“Gak, Pak. Cuma jalan-jalan aja hehehe” sambil ketawa terpaksa.

“Oooh atau mo lamaran yaah??” Si Bos makin ngaco. Entah dapet gossip dari mana.

Itu sedikit cerita sebelum keberangkatan saya ke Jogja. Selama 7 hari kerja, saya senang menyebutnya sebagai The Amazing 7 Days hehehe… sebenarnya karena beberapa hari kemarin lai seneng banget nonton The Amazing Race. Awalnya sih pengen banget berangkat hari jumat langsung cuss sorenya naik travel. Tapi karena ada om-om yang mo ikut, *maksudnya Om Nugi) ya sudah, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bareng, menyesuaikan dengan jadwal jaga Om Nugi. Oh iya, kenalin Om Nugi, security paling gaul di BSM hehehe

Sendawar – Balikpapan
Minggu, 17 November 2013. Kami berangkat dengan travel satu-satunya di kota terpencil ini *kayaknya emang satu-satunya). Di kantor, jam 4 sore udah janjian sama travelnya dan udah jam 3.19, Om Nugi belum juga datang.

“Om Nugi di mana?”

“Masih di rumah. Kenapa??” *HAH!!! KENAPA?? Hellloooooww kita berangkat jam 4 ooom)

“Tapi udah siap kan, Om?” mengurungkan niat untuk menulis BBM tadi

“Udah kok, tinggal berangkat”.

“Eh aku nitip You C 1000 Lemon Water  sama tissue basah yaa, Om”

“OK”

Om Nugi pun datang dengan gaul dan membawa apa yang sudah saya titipkan tadi. Ga lama, travel pun datang menjemput kami.

Orang Bugis punya nasehat seperti ini sebelum bepergian jauh. “Narekko maeloki lao mabela, ita memengni alemu lettu nappako jokka” *Jika ingin bepergian jauh, maka anggaplah dirimu/ jiwamu sudah berada di tujuan terlebih dahulu di sana). Entah bagaimana caranya saya sering melakukan itu, dan saya selalu merasa sudah berada di Jogja sebelum saya berangkat. Entah apa esensinya, tapi ayah saya, kakek saya sering berpesan seperti ini sebelum saya melakukan perjalanan jauh.

Perjalanan cukup menyenangkan karena satu travel kami ada orang Bugis juga. Yaaah seperti biasa, kalo ketemu dengan sesame Bugis diperantauan pasti ceritanya panjang lebar mulai dari tanah kelahiran, keluarga, alasan merantau meninggalkan keluarga dan seterusnya. Pembicaraan yang panjang kali lebar sama dengan luas itu akhirnya berakhir saat saya terlelap oleh goyangan mobil ala – ala odong-odong ekstrem karena lubang jalan di mana-mana.

Di pemberhentian pertama, kami semua turun untuk makan malam. Smua gratis dibayarin sama travelnya tapi Cuma buat satu porsi lho yaa hahaha….  Masih dalam keadaan jetlag *atau carlag kali yaa) dan mata merem melek, terpesanlah ayam goreng lengkap dengan sambel dan lalapannya. Masih dalam keaadaan setengah sadar setengah tidur tapi masih sempat BBM-an sama someone called Bella *hahaha piss yaah Bella) Mamank dan juga Thoto tiba-tiba kenalan yang di travel tadi langsung nyeletuk.

“Manre yolo’ *Makan dulu), BBM-an sama ceweknya nanti dulu”.

Sambil senyum-senyum cuma bias jawab, ”Nda, masih jomblo ini”.

“Ah, masa orang ganteng kayak gini nda ada pacarnya”.

Cuma bisa ketawa-ketawa. Akhirnya makan dengan sedikit tergesa dan akhirnya sambel keciprat dan kena mata. Hadeeeh selanjutnya, mata dikucek-kucek dan ternyata tangan juga udah terkontaminasi sambel. Lengkap sudah! Selama beberapa menit, saya akhirnya makan dengan mata merem sebelah nahan perih akibat keciprat sambel. X_x

Perjalanan kembali berlajut dan travel kembali mampir di warung kopi. Sopir travelnya ngopi-ngopi biar selamat gitu. Pepatah baru “biar ngopi asal selamat” hehehe…. Karena kehausan, tegukan demi tegukan You C 1000 Water Lemon masuk melewati tenggorokan. Dahaga sudah lepas, dengan pelan ku tutup botolnya dan dengan sengaja kuperhatikan tanggal expired-nya. Tertulis dengan jelas 18-11-2013. Sekali lagi kuliat tanggalnya, tidak berubah. Tetap saja 18-11-2013.

“Om, beli di mana ini?” sambil nyorongkan botol Water Lemon.

“Oooh tadi di tempat adekku habis. Jadi kubeli dijalan pas mo kekantor tadi”.

“Liat nih!”

“Lho kamu dah minum po, Sop?”

“Ntar juga kalo beracun juga ketahuan hahahah… Kehausan, jadi ga sempat perhatiin tanggalnya, Om”. Lalu Om Nugi ketawa. *Lo pikir lucu ha?! Wkkwkwk)

Perjalanan kembali berlanjut, saya manfaatkan untuk terus tidur dan tidur kemanapun travel ini pergi. Yang penting jam 5 subuh udah harus nyampe bandara!! Dan ternyata diluar dugaan, travelnya malah nyampe jam 3.30. Akhirnya, menggembellah saya dan Om Nugi di bandara. Dan pintunya baru dibuka jam 5 subuh hoaaaaammm.

Setelah jam 5, perasaan kok di gate sini ga ada penumpang yang masuk yaah. Padahal sudah jam 5 tapi masih sepi. Setelah celingukan liat petugas yang masih bersih-bersih lalu mata tertuju di jadwal keberangkatan. Ternyata nunggu di gate yang salah! Ampun dah! Ternyata bener aja, udah pada ngantri masuk ke “gate yang sebenarnya” fiuuufh….

Tentang RTO

Seperti hari ini : Senin, Akhir Bulan dan ditambah lagi RTO. 3 “momok” tadi akan menghasilkan tingkat stress yang signifikan. Hahaha… Bagaimana tidak, ketika pekerjaan seperti bankers yang sangat “mendewakan” jaringan internet. Kalo “si dewa ngambek” atau lagi RTO gini semua pasti dibikin pusing.

RTO, Request Time Out adalah pesan yang muncul di layar ketika dilakukan ping berkali-kali (ping di sini buka ping dari pengguna BB yang hobi jualan atau sekedar kenalan “yang minat Ping Me”. Sebetulnya jengkelnya itu equivalen!) RTO bener-bener mengganggu efektivitas kerja. Alih-alih sebenarnya bisa bikin santai. Itu seperti 2 sisi mata uang.

Lalu bagaimana dengan stress tadi?? Stress akan muncul setelah jaringan internet ini membaik. Bisa disimpulkan bahwa “Habis RTO terbitlah Stress” hahaha…

Kalo udah gitu, semua titipan akan dikerjakan secepat Jorge Lorenzo. Pekerjaan bakal numpuk kalo ga dikerjakan pas jaringan internet membaik. 

 

Yah seperti itulah kondisinya.Tapi yang paling banyak nasabahnya yaa tentu saja Security. Security (dengan mulut nyaris berbusa) akan menjelaskan satu persatu kepada seluruh nasabah yang membuka pintu masuk bahwa jaringan internet sedang mengalami gangguan dan seterusnya. Kadang dijelaskan dengan suara sedikit menggelegar biar yang dibelakang-belakangnyajuga dengar. Begitulah gambaran masyarakat yang hidup dilingkungan malas membaca dan memperhatikan, orang-orang tidak terlalu memperhatikan pengumuman di depan pintu masuk apapun itu (Kecuali Sale, Diskon, Promo dan sejenisnya pasti terlihat walopun tulisannya kecil banget). Jadi ga peduli, mo RTO atau ga, tetep aja nyelonong masuk.

 

Terus, CS ngapain? Buat ngisi waktu luang berkat RTO, game Plant VS Zombie bisa jadi alternatif. Tapi karena udah tamat jadi udah jarang dimainin. Biasanya juga nyambi baca buku, kalo bawa dari kos.Yaa selain bisa sedikit bersantai, kalau ada yang mau buka rekening atau ada keluhan semua tetap dilayani dengan syarat ditangguhkan sampai masa yang tidak ditentukan. Dan sesuai standar yang berlaku, ucapkanlah maaf🙂. Percayalah bahwa bekerja dibidang layanan seperti bank akan membuat anda sering berterima kasih dan memohon maaf juga tersenyum tentunya. 

 

PEJALANAN DARI NERAKA

ImageSuatu hari nanti, dunia akan memahami keindahan pengorbananku.

Karena akulah keselamatanmu

Akulah Sang Arwah

Akulah gerbang menuju zaman pascamanusia

Seri terbaru petualangan Robert Langdon kembali dihadirkan dengan apik dan penuh ketegangan oleh Dan Brown. Novelis penuh kontroversi yang melejit berkat The Da Vinci Code mengisahkan Roberrt Langdon kembali “ditemukan” oleh masalah besar. Kali ini Langdon harus berurusan dengan Inferno yang menggambarkan kondisi lapisan neraka disetiap tingkatan. Hentakan pertama di awali dengan hilangnya ingatan jangka pendek Langdon membuatnya tak mengerti di mana dia berada dan apa yang sedang dilakukannya.

Puisi karya Dante Alighieri yang terangkum dalam The Divine Comedy terdiri dari 3 bagian yakni Inferno (Neraka), Purgatorio (Penebusan) dan Paradiso (Surga). Inferno menjadi bagian yang paling sering dibahas dalam buku ini, namun keterkaitan clue yang harus dipecahkan oleh Langdon tetap memaknai The Divine Comedy secara utuh. Secara cerdas, Brown kemudian memasukkan Konsorsium dan WHO yang ditegaskan dalam halaman awal bahwa mereka ada dan itu faktanya. 

Selalu menjadi menarik dan menegangkan ketika berhadapan dengan asumsi yang kemudian didukung oleh bukti dan akhirnya menjadi fakta dalam setiap novel Dan Brown. Semua selalu berdasar pada penelitian yang “sedikit memaksa” bahkan “mencuci otak” kita untuk memahaminya sebagai fakta. Lihat saja dalam novelnya yang penuh kontroversi, The Da Vinci Code, Angels And Demons, dan The Lost Symbol. Selalu ada asumsi menarik yang ternyata diambil dari sebuah pengamatan ataupun penelitian sehingga kita sebagai orang awam menjadi “tercerahkan”. Tercerahkan dalam hal ini kita mengetahui informasi baru dari novel Dan Brown, dan bisa jadi itu benar (!).

Brown yang secara mengejutkan (setidaknya saya sendiri) dengan mengaitkan The Divine Comedy dengan Teori Robert Malthus tentang ledakan populasi. Saya jadi ingat dengan jelas pelajaran Kewarganegaraan ketika SMA. Singkatnya, menurut Malthus, untuk menahan ledakan populasi manusia ada 3 hal yang dapat dilakukan : ciptakan perang, sebarkan wabah, kacaukan negara. Saya kemudian teringat cerita guru saya bahwa bisa jadi itu sedang berlangsung sekarang.

Agak mengerikan memang ketika mengetahui bahwa populasi manusia telah meningkat secara eksponensial. Peningkatan populasi manusia yang tidak terkendali menyebabkan berbagai permasalahan sosial di belahan dunia manapun. Mulai dari masalah kemiskinan, krisis air bersih, pengangguran, pengelolaan sampah dan sebagainya. Brown kemudian dalam Inferno ini menawarkan opsi pelepasan wabah “sterilisasi”. Wabah yang terdiri dari kumpulan virus vektor dapat menyebar melalui udara dan menyebabkan perubahan DNA pada manusia. Manusia yang terjangkit virus tersebut akan mengalami perubahan dari fertile menjadi infertile. Dengan kata lain mandul. Manusia akan secara perlahan “mengurangi diri”. Itulah yang mampu menekan ledakan populasi dan mencegah kepunahan manusia seperti dalam gambaran The Divine Comedy.

Berbeda dengan novel-novel Brown terdahulu, Inferno diceritakan dengan sangat terfokus pada karya Dante Alighieri. Brown tidak terlalu banyak menghadirkan simbol untuk dipecahkan. Bisa dikatakan Inferno adalah karya Dan Brown yang “miskin perbendaharaan symbol”. Namun tentu saja, Brown selalu mampu membuat ketegangan-ketegangan disetiap halamannya. Dante Alighieri sudah cukup untuk menghadirkan sensasi penasaran yang sangat kuat dengan puisi dan kisah hidupnya yang mencekam.

Seperti novel Brown kebanyakan, setting-nya selalu diawali saat tengah malam dan berakhir sebelum keesokan harinya. Tempatnya pun kebanyakan selalu berada di seputaran Italia, Vatikan, Amerika dan negara-negara kaya simbologi lainnya. Namun di Inferno ini, Dan Brown sedikit berbeda. Petualangan Langdon memecahkan misteri Inferno sampai ke Turki. Bahkan dalam Bab 84, Brown menuliskan lafal kalimat tauhid yang biasa dikumandangkan diakhir adzan. Entah apa maksud Brown menuliskan La-ilaha-illa-Allah, namun menurut saya ini untuk menguatkan situasi bahwa Langdon tengah berada di salah satu negara muslim. Selain itu, Langdon juga menjamah Hagia Sophia. Bangunan yang kini berwujud museum menghadirkan icon Islam dan Kristen dengan harmonis berdampingan.

Sanjungan dengan standing ovation selalu setia saya berikan untuk karya-karya Dan Brown. Sensasi penasaran selalu saya rasakan ketika membaca halaman pertama dan tak pernah berhenti untuk membacanya hingga akhir. Mungkin selanjutnya Brown bisa keluar dari kebiasan dengan menghasilkan karya yang lebih menegangkan lagi. Always waiting for the next chapter of Mr. Langdon😀

…. Tak lama, Inferno akan meledak menjadi lidah-lidah api.

Dan ketika itu terjadi, tidak ada satupun di dunia ini yang akan menghentikannya.