The amazing 7 Days : Dipaksa Kenangan

Senin, 18 November 2013

Keluar dari pesawat dan menghirup udara Jogja. Sungguh menenangkan. Tidak hanya udara, bahkan kenangan tentang asa dan cinta juga ikut terhirup. Tidak salah jika mereka ikut berbaur tak kasat warna bersama dengan udara Jogja. Saat terhirup, kenangan-kenangan itu sedikit demi sedikit mengendap di dasar hati yang pernah merasakannya. Dan saat menghebuskan, beberapa kenangan pahit akan keluar. Biarkan dia keluar, cukup untuk diingat, tidak untuk disimpan.

Sudah terbayang bagaimana wujud asrama yang sebentar lagi akan kembali menjadi rumahku selama seminggu. Haaah… masih teringa dengan jelas, warna kamar yang hijau tosca, terang dan “isakan tangis wanita” hahahaa… Masih teringat dengan jelas ruang TV yang berpasir, deru motor dipagi hari disertai dengan teriakan “buuurrrjooo” dan “jajaaan-jajaaaan”. I love this moment.

Lama pula tak melihat wajah-wajah teman yang dulu seperjuangan dan harus kutinggalkan terlebih dahulu. Merindukan mereka yang selalu menjadi teman berbagi kisah. Semua pengakuan dimalam hari yang benar-benar mereka ungkapkan dengan kisah mereka masing-masing. Sudah lama tak mendengar kisah mereka. Dan tak sabar mendengar mereka kembali bercerita tentang apa saja. They always know how to make me smile hahahaha…

Saya dan Om Nugi berpisah di bandara dan akan kembali bertemu di bandara satu minggu lagi. Awalnya sih pengen melepas kangen dengan Jogja, menyusuri jalan dengan bus dan berjalan kaki. Tapi Mamank segera datang menjemput, ya sudah itu tidak mengurangi caraku melepas kangen dengan Jogja. Pertama, saya sudah sangat merindukan Lontong Sayur Pakualaman. Akhirnya kami sarapan di sana, sekalian melepas rindu sejenak.

Bayangan kembali muncul, you know who… di tempat yang sama. Pertama kali jalan abis dari SunMor UGM lalu makan bersama. Masih di tempat yang sama, malam hari, ada banyak cerita di sini. Masalah rapat, curhat, pengakuan, amarah dan sebagainya sudah pernah didengar oleh pohon besar yang tetap kokoh walau tampak habis dipangkas.

Terpikir untuk menengok Aspuri walau hanya sebentar. Atau mungkin cukup melihat-lihatnya saja. Hanya ingin mengingatkan diri sendiri bahwa di sana ada banyak cerita ada banyak kisah. Bahkan kisahku berawal dari sana, dari latihan teater hahaha…

Masih membangun kenangan, bus-bus yang melewatiku sepanjang perjalan ke Aspura. Di dalam bus juga ada banyak cerita. Keliling berdua hingga di sebut pasangan Romeo and Juliet oleh kernek bus. Saksi yang tidak pernah bercerita tentang bagaimana perjalanan kami dan kemana saja kami pergi. Yaa semua dengan bus itu…

Melewati perempatan Kantor Pos – Malioboro, semakin banyak kisah di dalamnya. Bagaimana menghabiskan waktu yang ternyata menjaga kami untuk selalu pulang lebih awal. Bagaimana waktu membawa kami begitu lambat dan bagaimana waktu juga yang membuat kami harus saling melepas satu sama lain. Di tempat dan di lorong yang sama. Entah air matamu jatuh di mana, mungkin jejaknya masih ada. Yaah… itulah kenangan yang tiba-tiba memaksa untuk diingat. Memaksa untuk dirindukan tapi tak pernah terpikirkan lagi untuk kembali bersama kenangan itu.

***

Di kamar Edhy, saya dijamu ikan kering yang disiram dengan minyak goreng wangi lalu dicampur cabe yang dihaluskan dengan sendok, dan dimakan dengan nasi panas *can you imagine that food hahaha)

“Jadi dimana ini mo dibawa tamu’e..” Edhy memulai percakapan konyol.

“Mo dibawa di Malioboro sama Alun-alun yang tutup-tutup mata” saya jawab sendiri, padahal Malioboro sudah makanan sehari-hari pas kuliah dulu. Dan paling ogah main tutup-tutup mata lewati Pohon Kembar di Alun-alun Kidul.

“Eh, korupsi lagi Merapi toh”  Ari pasang ekspresi polos.

“ERUPSI!! Hahaha…”

“Begitu memang bahasanya Ari. Itu pialaku berdua sama Ari Juara Lomba Debat lawan anak UGM” padahal yang ditunjuk itu piala turnamen futsal x_X hahahaha

Sambil ngecek 21cineplex.com,“Eh ayok nonton Ender’s Game sebentar sore. Sekalian jalan”.

“Ayooo!”

Jadilah kami ke Amplas nonton Ender’s Game. Saya sama Mamank, dan Edhy sama Firdah. Selalu lucu kalo liat pasangan ini. Mereka ga terlalu suka nonton film barat, atau film luar negeri gitu. Katanya males baca teksnya hahaha alasan yang aneh. Kadang-kadang mereka konyol but it’s romantic the way they are hehehe

Saya selalu punya cara sendiri untuk menikmati film. Setelah menonton habis filmnya, biasanya saya akan selalu membawanya kekehidupan nyata. Seolah-olah peran dari setiap film itu adalah saya sendiri dan sedang berperan di dunia nyata. Hahahah… ini yang kadang-kadang bikin saya sulit membedakan mana kehidupan nyata, mana kehidupan buatan imajinasi saya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s