PEJALANAN DARI NERAKA

ImageSuatu hari nanti, dunia akan memahami keindahan pengorbananku.

Karena akulah keselamatanmu

Akulah Sang Arwah

Akulah gerbang menuju zaman pascamanusia

Seri terbaru petualangan Robert Langdon kembali dihadirkan dengan apik dan penuh ketegangan oleh Dan Brown. Novelis penuh kontroversi yang melejit berkat The Da Vinci Code mengisahkan Roberrt Langdon kembali “ditemukan” oleh masalah besar. Kali ini Langdon harus berurusan dengan Inferno yang menggambarkan kondisi lapisan neraka disetiap tingkatan. Hentakan pertama di awali dengan hilangnya ingatan jangka pendek Langdon membuatnya tak mengerti di mana dia berada dan apa yang sedang dilakukannya.

Puisi karya Dante Alighieri yang terangkum dalam The Divine Comedy terdiri dari 3 bagian yakni Inferno (Neraka), Purgatorio (Penebusan) dan Paradiso (Surga). Inferno menjadi bagian yang paling sering dibahas dalam buku ini, namun keterkaitan clue yang harus dipecahkan oleh Langdon tetap memaknai The Divine Comedy secara utuh. Secara cerdas, Brown kemudian memasukkan Konsorsium dan WHO yang ditegaskan dalam halaman awal bahwa mereka ada dan itu faktanya. 

Selalu menjadi menarik dan menegangkan ketika berhadapan dengan asumsi yang kemudian didukung oleh bukti dan akhirnya menjadi fakta dalam setiap novel Dan Brown. Semua selalu berdasar pada penelitian yang “sedikit memaksa” bahkan “mencuci otak” kita untuk memahaminya sebagai fakta. Lihat saja dalam novelnya yang penuh kontroversi, The Da Vinci Code, Angels And Demons, dan The Lost Symbol. Selalu ada asumsi menarik yang ternyata diambil dari sebuah pengamatan ataupun penelitian sehingga kita sebagai orang awam menjadi “tercerahkan”. Tercerahkan dalam hal ini kita mengetahui informasi baru dari novel Dan Brown, dan bisa jadi itu benar (!).

Brown yang secara mengejutkan (setidaknya saya sendiri) dengan mengaitkan The Divine Comedy dengan Teori Robert Malthus tentang ledakan populasi. Saya jadi ingat dengan jelas pelajaran Kewarganegaraan ketika SMA. Singkatnya, menurut Malthus, untuk menahan ledakan populasi manusia ada 3 hal yang dapat dilakukan : ciptakan perang, sebarkan wabah, kacaukan negara. Saya kemudian teringat cerita guru saya bahwa bisa jadi itu sedang berlangsung sekarang.

Agak mengerikan memang ketika mengetahui bahwa populasi manusia telah meningkat secara eksponensial. Peningkatan populasi manusia yang tidak terkendali menyebabkan berbagai permasalahan sosial di belahan dunia manapun. Mulai dari masalah kemiskinan, krisis air bersih, pengangguran, pengelolaan sampah dan sebagainya. Brown kemudian dalam Inferno ini menawarkan opsi pelepasan wabah “sterilisasi”. Wabah yang terdiri dari kumpulan virus vektor dapat menyebar melalui udara dan menyebabkan perubahan DNA pada manusia. Manusia yang terjangkit virus tersebut akan mengalami perubahan dari fertile menjadi infertile. Dengan kata lain mandul. Manusia akan secara perlahan “mengurangi diri”. Itulah yang mampu menekan ledakan populasi dan mencegah kepunahan manusia seperti dalam gambaran The Divine Comedy.

Berbeda dengan novel-novel Brown terdahulu, Inferno diceritakan dengan sangat terfokus pada karya Dante Alighieri. Brown tidak terlalu banyak menghadirkan simbol untuk dipecahkan. Bisa dikatakan Inferno adalah karya Dan Brown yang “miskin perbendaharaan symbol”. Namun tentu saja, Brown selalu mampu membuat ketegangan-ketegangan disetiap halamannya. Dante Alighieri sudah cukup untuk menghadirkan sensasi penasaran yang sangat kuat dengan puisi dan kisah hidupnya yang mencekam.

Seperti novel Brown kebanyakan, setting-nya selalu diawali saat tengah malam dan berakhir sebelum keesokan harinya. Tempatnya pun kebanyakan selalu berada di seputaran Italia, Vatikan, Amerika dan negara-negara kaya simbologi lainnya. Namun di Inferno ini, Dan Brown sedikit berbeda. Petualangan Langdon memecahkan misteri Inferno sampai ke Turki. Bahkan dalam Bab 84, Brown menuliskan lafal kalimat tauhid yang biasa dikumandangkan diakhir adzan. Entah apa maksud Brown menuliskan La-ilaha-illa-Allah, namun menurut saya ini untuk menguatkan situasi bahwa Langdon tengah berada di salah satu negara muslim. Selain itu, Langdon juga menjamah Hagia Sophia. Bangunan yang kini berwujud museum menghadirkan icon Islam dan Kristen dengan harmonis berdampingan.

Sanjungan dengan standing ovation selalu setia saya berikan untuk karya-karya Dan Brown. Sensasi penasaran selalu saya rasakan ketika membaca halaman pertama dan tak pernah berhenti untuk membacanya hingga akhir. Mungkin selanjutnya Brown bisa keluar dari kebiasan dengan menghasilkan karya yang lebih menegangkan lagi. Always waiting for the next chapter of Mr. Langdon😀

…. Tak lama, Inferno akan meledak menjadi lidah-lidah api.

Dan ketika itu terjadi, tidak ada satupun di dunia ini yang akan menghentikannya.

 

 

One thought on “PEJALANAN DARI NERAKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s