Garuk.. Garuk

Dengan sisir dikepalaku, aku mencoba menulis. Sekali-sekali aku ikut menggaruk kepala. Sungguh ini sangat membuatku galau kalo bahasa anak zaman sekarang. Apa-apa galau.. Beberapa hari ini aku harus menderita kepala gatal yang cukup kronis. Ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya intensitasku untuk menggaruk. tapi aku masih bersyukur karena kegiatan garu kepalaku tidak berubah menjadi gerakan garuk-garuk, cuci-cuci, jemur-jemur, yeyeye lalalala… Akhirnya rambutku berwujud awut-awutan seperti orang gila. Bahkan orang gila aja ga sering-sering amat garukin kepalanya kayak aku. Ini makin diperparah dengan munculnya serbuk putih dari kepalaku. Kepala gatal terasa seperti lagi UN mata pelajaran Matematika di ruang penuh CCTV, 2 pengawas dan dijaga ketat sama polisi berlaras panjang.

Masih dengan sisir dikepala. Beberapa hari yang lalu aku dapet teguran berupa peringatan dini dari mamaku. Usut punya usut, kepalaku gatal kemungkinan besar disebabkan oleh adikku Amin yang melihara kutu di kepalanya. Aku langsung menatap kepala adikku yang masih bau matahari karena belum mandi sore. Benar saja, rambutnya yang kecut mengandung telur-telur kutu yang berkilau putih ketika terpapar lampu. “Astaga!!!” aku sedikit panik.

Awalnya aku ga mau ceritain ini tapi ga papalah. Jadi dulu waktu aku masih kecil, saat itu aku berada di zaman dimana aku masih sering ngompol tanpa bilang-bilang dan tanpa rasa berdosa tentunya. Aku juga senasib dengan adikku Amin. Aku melihara banyak kutu di kepala karena tidur sama kakak-kakakku yang cewek. Aku masih ingat ada beberapa ritual sebelum aku dan kakak-kakakku tidur bersama dalam satu kasur bersempit-sempitan. Aku akan berdiri di tengah kasur entah itu untuk bernyanyi ataupun aku menghapalkan sesuatu seperti pancasila ataupun undang-undang dasar 1945.  Nah saat meyelesaikan ritual itu, aku akan tidur dengan mengincar sisi paling pinggir di kasur. Kakak-kakakku yang berambut panjang pun punya ritual sebelum tidur. Biasanya mereka menyisir rambut, kemudian tidur dalam keadaan rambut rapi dan disampirkan kebelakang saat tidur.

Saat siang atau sore hari, ritual selanjutnya dilaksanakan. Beberapa kakakku, berdua atau bahkan bertiga mereka akan membentu formasi dimana mereka dengan hikmat saling mencari kutu. Entah sejak umur berapa aku tidur bersama mereka, dan sejak saat itulah kepalaku menjadi sebuah koloni kutu. Setiap nyisir pake sisir kutu, kutu-kutu pun berjatuhan  seperti korban perang. Bahkan suatu ketika aku juga ikut dalam formasi mencari kutu bersama kakakku, terkadang juga bersama tanteku. Ada sensasi yang menggembirakan saat itu ketika ibuku atau kakakku atau tanteku mencari kutu dikepalaku. Ketika mereka mendapatkan kutu maka akan terdengar bunyi “cik…cikk..” kecil yang menandakan satu kutu tertangkap.

Saat itulah, naluri ke-sadis-anku muncul. Ketika aku sedang menyisir sendiri rambutku dengan sisir kutu, aku menyeringai lebar seperti difilm-film thriller bersiap membunuh mereka dengan jempolku. Dengan tangan mengacung seperti lagi syuting RCTI OKEEEE… aku membunuh mereka satu persatu. Beberapa mengeluarkan darah dan parahnya lagi itu adalah bagian yang paling aku senangi dan sangat membahagiakan.

Saat aku kelas 4 SD, aku memutuskan untuk tidur sendiri. Sejak saat itu, kepalaku berangsur pulih. Koloni kutu yang bersarang dikepalaku perlahan punah seiring ritual-ritual sisir kutu dan formasi mencari kutu bersama tante, kakak atau ibuku. Sejak saat itu aku menyatakan kemerdekaan untuk kepalaku. Gencatan senjata pun berakhir.

Aku sampai saat ini masih bingung dengan proses menularnya kutu-kutu dari satu kepala ke kepala yang lain. Secara semenjak pulang dari Jogja, aku selalu tidur sama Amin. Apakah mungkin kutu-kutu itu bermigrasi dari kepala Amin ke kepalaku saat malam hari di mana aku dan Amin tertidur pulas.

Nah sekarang soalnya adalah Jika diketahui aku tidur pulas jam 10 malam, dan jarak antara kepalaku dan kepala Amin 30 cm. Ditanyakan : Ada berapa banyak kutu yang bermigrasi ke kepalaku? Berapa kecepatan yang maksimal mereka mencapai kepalaku? Apakah ada kemungkinan ada kutu yang tertinggal di perjalanan “migrasi” mereka? Apakah ada kemungkinan karena di kepala Amin sudah terlalu padat “penduduknya” sehingga mereka bertransmigrasi ke kepalaku yang masih kosong ini?

Lalu bagaimana dengan shampoo? Naah sekarang aku masih pake shampoo yang sama tapi belum ada hasilnya. Aku berasa jadi iklan shampoo untuk posisi before yang menunjukkan kalo sebelum pake shampoo seperti inilah yang terjadi. Kepala gatal, penuh ketombe dan sepertinya produk-produk shampoo bisa menjadikan kasusku ini untuk membuat produk yang bisa mengatasi kutu. Aku belum pernah liat iklan shampoo yang bisa ngilangin kutu, yang ada cuma ngilangin ketombe, rambut rontok, rambut bercabang dan rambut kering.

Dengan tulisan ini aku memprotes segala bentuk penipuan iklan televisi. Baik itu shampoo maupun produk lain. Hentikan pengeditan yang berlebihan pada produk-produk pemutih wajah karena dari dulu wajah mereka udah putih ditambah lagi overbrightness  (iklan Nikita Willy) membuat wajahnya keputihan. Maksudnya wajahnya menjadi putih tidak normal. Dan untuk iklan shampoo hentikan eksploitasi rambut yang berlebihan karena efek yang aku dapatkan tidak sama dengan yang ada di televisi! Haaah… baru sadar kalo ternyata aku adalah salah stu diantara sekian puluh milyar orang yang menjadi korban penipuan dari produk-produk iklan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s