Leaving On The Ship 2

Aku menunggu matahari terbit
Seperti ku menunggu mimpiku terwujud
Seperti ku menunggu dia kembali padaku
Itu semua sudah ditakdirkan
semuanya terjadi dengan natural

Aku melihat ufuk timur mulai terang
sama seperti perasaanku saat ini
semangat yang sedang mengitariku sekarang ini
terbit dan bersinar layaknya matahari

Ada banyak hal yang membuatku sadar
bahwa tak ada alasan bagiku
untuk tidak mewujudkan mimpiku

Tuhan selalu memberikan jalan yng benar
Aku cukup menjalankan skenarioku
berperan sebagai aku dan hidupku

Kini sudah mulai menjingga
aku sudah bisa melihat laut luas tanpa batas
laut yang menyatu dengan ujung kaki langit

Ya… seperti itulah mimpiku saat ini
Mimpi yang kini ikut aku bawa
Mimpi yang selalu akan aku wujudkan
dimanapun aku berada

(Geledak kapal menanti pagi :D)

Pare-pare
Kapal sudah memberi tanda akan sandar kanan. Akhirnya turun juga dari kapal ini. Dipastikan aku masih mabut saat menulis ini. Aku mulai bingung denan barang bawaanku. Untung saja ada ibu yang baik hati yang bersedia menunggui barangku sementara aku menurunkan barangku yang satunya. Beberapa buruh mendekat menawarkan bantuan. “Kalo gratis aku mau!” aku jengkel dalam hati.

Aku beristirahat sebentar di dekat tangga kapal. Melihat pintu keluar pelabuhan yang cukup jauh, aku menelan ludah. Aku mengangkat semua barangku dengan tangan yang aku punya. Aku berharap punya kekuatan super sehingga bisa mengangkatnya dengan satu tangan saja. Hahahah.

Aku berjalan terseokl-seok karena beban yang terlalu berat. Aku seperti mobil yang berjalan pelan lalu di rem mendadak. Setelah itu jalan lagi beberapa meter lalu rem mendadak lagi. Sinyal bendera putihku akhirnya terbaca oleh seorang buruh yang menawarkan bantuan.

“Sini saya angkatkan sampai depan, 5000 saja”. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan sebelum dia berubah pikiran masalah harganya. Ak memberikan kardus yang berisi buku. Hahahah… inilah “kekuatan superku” : membuat orang mampu berbelas kasihan padaku. Tapi kenapa ini tidak bekerja ketika di Surabaya, aku malah membayar 30 ribu.😦

Ku Menunggu
Ini bukan cerita tentang lagu Rosa. Ini tentang aku yang menuju warung kopi seperti instruksi bapakku. Aku akan menunggu di sana karena bapakku datang terlambat. Aku dengan kaos spongebob dan kumpluk hitam duduk dengan segelas kopi. Sruput sruput… nikmaaat. Akhirnya sampai juga! Aku begitu lega, satu-satunya yang tidak membuatku lega adalah keringatku yang keluar bercucuran. Entah karena apa, padahal barangku sudah diangkat oleh buruh baik hati dan suka menolong itu.

Aku mulai mencium bau aneh yang datang dari kanan dan kiriku. Omaigat! Aku BAU!!! Bisa dibayangkan, dimobil nanti akan seperti cerita Raditya Dika… “Bakar saja KETEKNYA”. Aku langsung mengipas-ngipas untuk menghilangkan keringat. Satu-satunya yang bisa aku lalukan nanti adalah pura-pura tidak tau dan nikmayi saja baunya. Hahahah

Aku menunggu sampau 2 jam hingga kopiku berganti air putih entah untuk keberapa kalinya. Aku menunggu handphone ku berdering mengabarkan bahwa bapakku sudah di depan pintu gerbang pelabuhan. Tiba-tiba aku berbalik, aku melihat bapakku yang celingukan mencariku.  Aku berdiri dan tersenyum. Bapakku masih celingukan mencariku seolah aku makhluk tembus pandang. Aku berasa jadi hantu disinetron-sinetron atau FTV. Jangan-jangan aku sudah mati sampai-sampai ayahku tidak bisa melihatku.

Aku menyapa bapakku, “Pa.. eh sudah datang mi?”. Ayahku yang terkejut tidak mengenaliku langsung datang mendekat dan meraih barang-barangku. Selalu seperti itu, aku selalu merasa bapakku terlalu cuek padaku. Tidak ingin terlihat bahwa dia sangat menyayangiku. Tak ada pelukan dan jabat tangan dipertemuan pertama kami.

Aku melihat kerut diwajahnya semakin jelas. Aku melihat rambutnya yang hampir memutih semuanya. Aku melihat matanya yang tegas. Garis mukanya mulai melorot namun tetap tegas dan keras. Aku selalu merindukan candaannya, nasehatnya walaupun terkadang itu berlebihan bagiku. Kini aku mengerti benar kenapa aku harus pulang.

Aku memasuki mobil. Tanteku sama saja, dia tidak mengenaliku sama sekali. Selain jenggot yang aku pelihara, tak ada perubahan dalam tampangku. Masih tetap lugu seperti umur 17 tahun. Satu-satunya yang bisa membuatku terlihat tua adalah jenggotku. Aku kembali mencium ketek kanan dan kiriku dengan berpura-pura mengelap keringat dahi dengan legan baju. Baunya masih sama. Aku harap hidung mereka tersumbat agar tidak mencium bauku.

Go Home
Perjalanan pulang kami mulai. Kami mampir di rumah salah satu famili di Pare-pare. Di rumah inilah au merasakan kembali untuk pertama kalinya makan dengan gaya yang sangat aku rindukan. Semua makanan dan lauk berada dinampan bundar. Kami makan dengan duduk mengelilingi nampan. Entah ini termasuk adat Bugis, tapi aku merasakan ini an mengalami ini hanya di tanah kelahiran ku saja, Tanah Wajo Sulawesi Selatan.

Yang aku suka dari adat ini adalah saat makan, tak henti-hentinya kammi sebaai tamu untuk menambah makan kami ketika piring kami mulai terlihat kosong. Hahaha… aku benar-benar sangat lapar dan aku tidak akan segan-segan untuk itu.

Ada lagi yang aku perhatikan dari adat kebiasaan ini. Terlepas ini adalah sebiuah diskriminasi atau bukan. Ketika makan para laki-laki akan makan terpisah dengan perempuan. Laki-laki makan di ruang makan misalnya, sedangkan para perempuan makan di dapur. Ini yang aku lihat dan selalu terjadi sejak aku kecil, terlebih ketika ada acara besar seperti pernikahan ataupun acara-acara lainnya.

Perjalanan kami lanjutkan. Setelah pamitan kami kembali melaju. Sebelum tiba di rumah, kami mampir lagi di Tanru’ Tedong. Kami kembali bertemu famili di sana dan berbincang-bincang sebentar. Pembicaraan tiba-tiba menyerempet kejadian ketika aku hilang di sana. Jadi ceritanya seperti ini :

“Ketika itu ada acara pernikahan di Tanru Tedong. Aku dan Ibuku berangkat satu mobil bersama yang lain. Acara pernikahan sudah akan dimulai dan ibuku sebagai salah satu famili keluarga yang akan menikah sudah ditunggu sedari tadi.

Ketika ibuku turun dari mobil, ibuku segera bergabung dengan famili yang lain dan memulai acara pernikahan. Mereka yang baru sadar dengan ketidak-hadiranku mulai menanyakanku. “Mana Sofyan??”. Ibuku baru sadar bahwa aku tidak ada bersamanya. Aku masih berada di mobil sementara mobil terus melaju. Entah aku sudah berada di kampung mana sampai akhirnya supir ini sadar aku yang masih kecil sendiri di mobil.

Ketika mereka panik, supir yang baik hati ini berniat baik untuk kembali mengantarku pulang ke rumah di Tanru Tedong itu. Tempat di mana ibuku turun. Aku dikenali karena ibuku.”

Entah apa jadinya aku sekarang jika kejadian itu berbeda cerita.. Mungkin aku udah diadopsi oleh keluarga lain. Lalu tiba-tiba aku menyukai gadis yang ternyata adikku sendiri… Lhaa kenapa jadi sinetron gini ceritanya!!

Aku tidak pernah tidur selama perjalanan ke rumah. Entah karena kebanyakan tidur di kapal, atau efek kopi yang aku minum saat menunggu bapakku. Entahlah… aku hanya ingin melihat apa saja yang aku lewati, apa saja yang berubah… Banyak tempat yang tidak aku kenali lagi. Sepanjang perjalanan aku memutar lagu Home – Michael Buble di dalam otakku. Sesekali aku ikut bernyanyi kecil ketika melihat ayah dan tanteku mulai tertidur. Yang jelas jangan sampai om ku tertidur karena dia yang nyupir!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s