Leaving on The Ship 1

I hate called this day : Good Bye Day
Something makes me feel…
I don’t know how to describe it
My feeling about incomplete in my life
I have it in there

Something makes me think
about friendship
about love
about fighting
about sadness
about happiness
and now, I have to move on!

No reason for me to stay a long
in the same place
Someone was wait for me
wait for coming
wait for my dream

Every where I stand
That’s place I’m there
God always with me
Every where I stand
God always hear my hope
God always huge my dream

and one day
my dream comes true
very where I stand

( PS : setelah nulis ini aku baru sadar kalo English-ku bener-bener BERANTAKAN!!)

Keterbatasan
Aku sampai di pelabuhan Surabaya tanpa sadar bahwa uang di dompetku tinggal 55 ribu rupiah. Omaigat! Dengan barang seberat ini, aku butuh sukarelawan. Setelah beberapa lama tak ada yang tergoda dengan tampang 55 ribuan-ku ini, aku menyerah dan mencari buruh. Buruh pun tak segan-segan memerasku dengan meminta bayaran 75 ribu. Aku pura-pura tak butuh, berharap penawaranku yang 20 ribu bisa diterima olehnya. Aku akhirnya menyerah dengan bayaran 30 ribu. OK… Angkaaaat!!!

Dua hari di kapal dengan uang 25 ribu ternyata sangat menyedihkan. Aku semakin menyedihkan ketika tidur hanya beralaskan sajadah. Yang paling menyedihkan adalah dua hari itu aku hidup tanpa sentuhan dan kehangatan. Aku benar-benar merindukannya, saat-saat aku mengahbiskan waktu setiap malam bersamanya… bersama MINYAK KAYU PUTIH. Aku jadi sakau, ga tau mau gosokin kaki di mana. Betul-betul sangat menyedihkan! Karena aku bernagkat tanpa makanan persediaan, aku akhirnya membeli 3 pop mie dan 1 botol besar Aqua seharga 15 ribu. Dan ini aku terombang-ambing di laut dengan memegang uang 10 ribu memberikan sinyal SOS minta makan. Hahahaha

Aku seperti mendengar lagu “betaaaapa malang nasibkuuu… ditinggaal ayah dan iibuu..”. Ini membuatku semakin merana saja! Akhirnya aku memutuskan untuk tidur disepanjang perjalanan. Aku memutuskan untuk makan satu kali saja malam itu. Aku sangat bersyukur, Tuhan sangat perhatian padaku dengan menghilangkan rasa laparku. Dari berangkat ke Surabaya sampai Batulicin aku hanya makan sekali saja. Perutku kali ini sangat kompromi. Terima kasih😀

Kutukan Hj. Johan

Baru kali ini aku merasa bersalah sama Hj. Johan. Aku merasa kena kutukan darinya hingga akhirnya aku harus merasakan perjalanan panjang Surabaya – Batulicin – Pare-pare. Tiba di BATULICING aku  berharap salah satu PENUMPAN-nya adalah si HJ. JOHANG itu. Aku penasaran pengen banget ketemu sama beliau, pengen wawancara eksklusif biar semua orang tau siapa dia…. hahahaha. Aku tiba di BATULICING JANG 12 siang, berangkat ke Pare-pare JANG 1 SIAN. Air lancar. Saya baru coba-coba naik ternyata bagus. OMBATnya besar, jadinya MABUT.

Aku menunggu hingga satu jam di pelabuhan Batulicin. Untung saja hanya ada sedikit penumpang. Aku bisa dapat kasur dan orang-orang yang naik pake bahasa Bugis semua. Alhamdulillah, feel like home.  Aku bisa semakin nyenyak tidur, deengan kasur yang aku dapatkan.

Kutukan ini lalu berlanjut dengan terjebaknya aku di dunia anak-anak. Aku terperangkap dan dikelilingi anak-anak yang jauh dari kesan lucu dan unyu. Mereka sama sekali menjengkelkan. Setip kali mereka membunyikan mainan handphone dengan bunyi yang berbeda di setiap tombolnya aku merasa seperti dicuci otak. Mereka saling perang satu sama lain dengan membunyikan handphone mainan, tak ada yang mau kalah.

Ya Tuhaan, kapan mereka semua ini tidur. Pengen rasanya aku ngasi obat tidur di makanan mereka biar tidur pulas sampe di Pare-pare besok. Aku benar-benar apreciate sama orang tua mereka yang bener-bener sayang anak. Tiap kali ada pedagang lewat, “Sayang anak… sayang anak… sayang anak!”, orang tuanya langsung beli buat anaknya. Tapi sayang, si bocah-bocah dan orang tuanya ga ada yang sayang sama aku. “AKU MAU TIDUR! Plis hentikan mainan handphone itu, dan hentikan teriakan Sayang Anak itu karena aku bukan anak-anak lagi dan aku belum punya anak!!!!”

Lagu Tergaul
Sebelum mataku bener-bener merem meniggalkan dunia yang fana ini, aku tiba-tiba saja mendengarkan lagu Take A Bow-nya Rihanna. Sumpah! Itu adalah lagu tergaul yang pernah aku dengar disepanjang perjalananku. Dari kemarin aku hanya mendengar lagu dangdutan koplo yang bener-bener ga asyik. Lagu Aku Bukan Bang Thoyib juga tapi dalam versi house music. Bener-bener bikin telinga panas! Belum lagi speaker handphone mereka pada pecah. Jadi house music  + dangdut koplo  + speaker pecah = telinga panas dan susah tidur.

Aku terima kasih banget sama si Ibu Gaul yang muterin lagu Rihanna itu. Aku mulai terlelap sambil ikup bernyanyi dalam hati…

“how about a round of applause…
standing ovation…
But I’m put a quite show…
You really had me going
Now is….
kau kan selalu tersimpan di hatiiiku
meski ragamu tak lagi ku milikiiii…. (???)”

Aku jadi heran dan kaget. Sejak kapan Rihanna go traditional dengan duet sama The Virgin. Ternyata Ibu Gaul tadi juga penggemar The Virgin walopun si Ibu ga virgin lagi. Setelah lagu The Virgin itu habis keputar, lagu Rihanna memulai giliran. Belum sampai Take A Bow selesai, malah di back lagi. Akirnya keputar lagi tuh lagu The Virgin.

Kesel ga denger lagu Rihanna sampe abis, aku memilih tidur mengabaikan semua suara itu. Zzzzz zzz zzzz…

2 thoughts on “Leaving on The Ship 1

  1. hahahaha..
    saya jadi bingung mau turut berempati tapi jadinya ngakak !😀
    bisa nyaingin raditya dika nih kak..
    hehehe
    Lanjutkan kak sopisopi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s