Gaung La Galigo Di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

Hujan gerimis menemani perjalanan menuju Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Motor pun melaju lebih pelan mencari alamat I:Boekoe. Walaupun datang sedikit terlambat, namun kami belum terlambat untuk acara selebrasinya.

“La Galigo itu siapa sih?”. Itu adalah pertanyaan dasar dalam video berdurasi 6 menit. Ada banyak pendapat mengenai sosok La Galigo. Yang memberikan testimoninya pun dari anak-anak yang notabene adalah mahasiswa Sulawesi Selatan. Video ini juga semakin menarik dengan komentar dari beberapa mahasiswa yang berasal dari daerah lain. Beberapa komentar ada yang tahu dengan jelas, ada yang samar-samar dan ada juga yang sam sekali tidak tahu. Dan saya pun memberanikan diri untuk menggolongkan diri dalam kategori samar-samar.

La Galigo yang merupakan epos terpanjang sepanjang sejarah dunia dan mengalahkan Mahabarata. Sayangnya, salah satu warisan budaya ini sedikit terpinggirkan, bahkan bagi masyarakat Sulawesi Selatan sendiri. UNESCO telah mengukuhkannya La Galigo dalam Memory of The World tahun 2011 lalu. Bahkan saya sendiri yang notabene besar di Sulawesi Selatan, tidak terlalu banyak tahu tentang La Galigo.

Lontara Project
Adalah empat orang mahasiswa asal Makassar yang memiliki ide brilian terkait pelestarian La Galigo. Mereka adalah Muhammad Ahlul Amri Buana, Fitria Sudirman, Sri Maharani Budi dan Setia Negara. Para pendiri gerakan ini adalah teman sekolah ketika SMA dan SMP di Makassar. Ide ini kemudian muncul ketika mereka melihat dan prihatin dengan budaya mereka sendiri yang terpinggirkan dan tidak diperhatikan oleh masyarakatnya sendiri. Dalam presentasinya, Maharani menceritakan kekecewaannya dengan memperlihatkan sebuah gambar yang menunjukkan betapa kurangnya perhatian generasi muda terhadap budaya sendiri. “Ini adalah tiang salah satu Museum di Makassar yang dicoret ini love ini… dan masih banyak yang lainnya,” jelasnya.

Atas inisiatif sendiri melawan semua hambatan yang ada, mereka pun mendirikan La Galigo for Nusantara yang disingkat dengan Lontara Project. “Kami mendirikan ini berawal dari pertemanan kami, karena kami sudah tau kerjanya gimana. Dan ini tuh, bukan cuma pujian yang kita dapatkan tapi banyak juga cibiran dan cercaan,” komentar Ahlul, mahasiswa Fakultas Hukum UGM. Keahlian dan ilmu perkuliahan mereka pun menjadi kekuatan yang menunjang berdirinya gerakan ini.

Grand Launching yang dilaksanakan di I:Boekoe, Alun-Alun Kidul Yogyakarta ini disambut baik oleh teman-teman dari IKPM Sulawesi Selatan. Acara ini juga dihadiri oleh utusan Departemen Seni dan Kebudayaan IKAMI Sulawesi Selatan. Ocha, begitu dia akrab disapa bertutur bahwa apa yang dilakukan sebagai upaya pelesatarian budaya Sulawesi Selatan adalah hal yang sangat diapresiasinya.

Sementara itu Rani, mahasiswa S2 UGM berpendapat bahwa hal yang semacam ini selayaknya dimulai dari diri kita sendiri. “Contoh kecilnya saja, Bahasa Bugis. Sudah banyak yang lupa bahkan tidak tahu bagaimana pake’ Bahasa Bugis. Jadi kalo kita ngobrol-ngobrol ya… pake Bahasa Bugis saja,” sarannya dengan aksen Makassar yang sangat kental. Rani juga berpesan kepada teman-teman Lontara Project bahwa mereka beruntung bisa menghadirkan perwakilan dari beberapa IKPM dan IKAMI Sulawesi Selatan. “Pertemuan hari ini jangan dilihat kuantitasnya. Lihat kualitasnya, Dek. Kalian beruntung beberapa perwakilan hadir bisa hadir walopun nda’ banyak. Karena kalo masalah kuantitas gampang sekali. Masing masing asrama punya massa yang banyak,” pesannya.

Kampanye La Galigo

Yang menarik adalah gerakan ini justru mendapat perhatian yang lebih dari orang-orang yang jauh dari tanah Makassar bahkan bukan berasal dari keturunan Sulawesi Selatan. “Yang ikut tertarik dengan program kami juga ada yang dari Jogja, Bengkulu dan bahkan beberapa dari Malaysia sana,” ungkap Ahlul. “Mereka mengaku sangat tertarik untuk mempelajari dan mengkaji lebih banyak lagi mengenai La Galigo,” tambahnya.

Tema yang juga menjadi pegangan gerakan ini adalah “Konservasi Budaya”. Agar bisa dikenal oleh generasi muda sebagai penerus, maka pendekatan yang digunakan juga youth friendly. Salah satu program yang ditawarkan adalah I UPS La Galigo. I UPS La Galigo sendiri adalah singkatan dari I Uncover La Galigo, I Preserve La Galigo dan I Speak La Galigo. Langkah awal tentunya mengenalkan pada muda mudi Indonesia apa, siapa dan bagaimana La Galigo itu. Langkah berikutnya dengan melakukan kampanye kecil seperti membuat kaos, pin dan lainnya yang bertuliskan I Preserve La Galigo. Langkah terakhir dengan I Speak La Galigo, anak muda Indonesia bisa unjuk gigi mengenai La Galigo, mulai dari tag foto narsis bertulisakan  I Speak La Galigo, membuat karikatur, musik, animasi, film dan sebagainya. Pokoknya semua jalan kreatif untuk memperkenalkan dan me-nusantara-kan La Galigo.

Tidak hanya itu, baru-baru ini juga telah merilis sebuah lagu. Lagu yang diaransemen dan dinyanyikan oleh Puspa, Ahlul, Ucup, Rahmat, Putri dan Hima ini berjudul Ininnawata’. Lagu ini sebenarnya diambil dari lagu daerah Sulawesi Selatan berjudul Ininnawa Sabbara’e dengan beberapa perubahan.

Pada bagian awal lagu dinyanyikan dengan gaya nyinden ala Jawa yang bercerita bahwa mereka punya cerita tentang La Galigo. Lagu kemudian dilanjutkan dengan lagu Ininnawa Sabbara’e, namun tiba-tiba dijeda oleh tik-tok jam dan lagu “Are You Sleeping”. “Bunyi detik jam itu berarti waktu yang terus berlalu, sementara lagu anak “Are you Sleeping” berarti sindiran bahwa apakah kamu masih tidur dengan semua yang kita miliki. Kita punya La Galigo, dan apa yang kita lakukan untuk melestarikannya?” jelas Alhul. Lagu ini diakhiri “Tumbu’-Tumbu’ Belangang” merupakan lagu yang biasa ketika anak-anak Sulawesi Selatan bermain.

Metode dengan rasa “gaul” ini sangat mengena untuk para generasi muda. Harapannya mereka pelan-pelan bisa mengenal salah satu warisan budaya Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya. Bangga akan perbedaan dan kekayaan tradisi dan budaya Indonesia yang beragam, termasuk dari Sulawesi Selatan. Info mengenai Lontara Project dapat di akses di http://lontaraproject.com/ atau twitter di @lontaraproject dan Facebook di La Galigo For Nusantara.

5 thoughts on “Gaung La Galigo Di Alun-Alun Kidul Yogyakarta

  1. Informatif sekali ya,… saya berharap banyak anak negri yang mencintai budaya sendiri. cermin yang bagus, jangankan tradisi,… banyak yang kalau ditanya soal Pancasila masih salah menyebut urutan.
    Keep blogging🙂

  2. Salam kenal sebelumnya.
    Salut atas gerakan ini.
    Saya sempat menuliskan review sebuah artikel ttg La Galigo di blog saya di link:

    http://mugniarm.blogspot.com/2011/11/la-galigo-karya-sastra-terpanjang-di.html

    Penulis artikel itu menyusun novel La Galigo, diterbitkan oleh sebuah penerbit di Yogya (sudah tahu?) novelnya terbit Januari kemarin. Penulis novel La Galigo tsb sempat berkomentar di tulisan review saya itu (bisa dibaca kalo mampir ke blog saya, ia yang memakai inisial DAR🙂 ).

    Ok, sukses yah. Sudah sepatutnya kita bangga dengan budaya kita krn teman2 di jawa masih melakukannya. Siapa lagi yang melestarikan budaya kita kalau bukan kita sendiri🙂

    Mugniar
    http://mugniarm.blogspot.com

    #Oya, saya kesulitan berkomentar langsung di blog2 WordPress, jadi ini pakai ID FB saya.

    • saya sudah baca tulisan yang kita kasi link ke blog ta kanda…
      Iya… kemarin juga sudah sempat liat di Gramedia bukunya. Doakan kanda semoga novelnya bisa teman-teman Jogja adaptasi secepatnya, rencana teman2 mau jadikan film atau pementasan tunggal di Yogyakarta.
      SALAM BUDAYA!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s