Ellite Backpacker 5 : Jogja Memang Istimewa

Anak Mall
Kami “diusir” untuk segera cek out jam 1 siang. Kami yang masih lebih banyak tidur-tiduran memilih menyegerakan mandi dan berkemas sebelum kami benar-benar diusir. Sekejap, kami pun cek out dari hotel yang banjirnya sudah surut dan dibersihkan. Banjir bekas hujan semalaman. Tiket kami yang telah dibelikan Dian ketikan kami masih di Jakarta ternyata sangat membantu. Kami pun masih punya waktu panjang hingga keberangkatan kereta jam 8 malam. Kali ini kereta bisnis, turun sederajat setelah kami menumpangi kereta eksekutif Bandung Jakarta PP.

Kami pun memilih tidak bermain jauh-jauh dari stasiun. Seharian kami habiskan di Bandung Indah Plaza. Mall yang sangat tidak bersahabat itu bukan aku dan Shaleh banget! Entah bagaimana dengan Mamank dan Thoto, Mamank lebih banyak menghabiskan waktu dengan ngomong sama Black Berry-nya. Sementara Thoto sangat menikmati berada di BIP. Hahahaha

Mall ini menjadi sangat membosankan bagiku dan Shaleh karena sama sekali tidak memiliki Gramedia. Dengan dompet yang nyaris kosong, kami justru berani ketempat seperti ini dengan mempertaruhkan segala keinginan hati kami untuk membeli sesuatu. Untung saja tidak ada yang terlalu menarik. Sebenarnya ada XXI sih yang menarik, tapi sayang sekali dompet kami tidak menarik untuk menonton disana hari itu. Aku cukup bersabar saja dan menunggu donlotan versi terbaiknya di JagoNet. Warnet ini sangat memuaskan untuk urusan film-film dengan kualitas dan update-an terbaru.

Aku menghabiskan waktu di mall dengan sangat tidak produktif. Hanya berkeliling dari lantai ke lantai sampai kaki ini hampir copot dibuatnya. Setelah itu kami akhirnya menemukan bangku kosong (ini bukan judul film horor) yang membuat aku dan shaleh seperti orang bego. Mamank dan Thoto sibuk dengan dunianya. Aku dan Shaleh seperti terdampar di pulau tak berpenghuni sambil mengirimkan sinyal SOS pada Mamank dan Thoto. Aku bahkan sampai jenggotan tinggal di mall ini hahaha. Setidaknya berada disini membuat jenggotku bertambah panjang beberapa mili karena kelamaan duduk dengan kegiatan yang sangat tidak jelas.

Gaza Zubizaretta
Sinyal SOS kami akhirnya terbaca oleh Mamank dan Thoto. Aku dan Shaleh hampir saja mati kebosanan tanpa pertolongan. Pertolongan yang tepat mengingat kondisi kami yang gawat darurat kebosanan. Kami berpindah ke Gramedia yang tidak jauh dari BIP jadi cukuplah kaki yang malang ini untuk mencapainya tanpa susah payah.

Kami memasuki masuk dan langsung menyerahkan tas kami yang berat-berat. Yaa… beberapa hari itu aku ngerasa kayak binaragawan alih-alih kuli bangunan manggul tas berat kemana-mana. Aku memutuskan untuk nangkring membaca majalah gratis dulu. sementara yang lain ke atas membaca buku. Jadi bingung, ini toko buku ato perpustakaan yaah??

Aku tiba-tiba nengok ke kanan dan Gaza Zubizaretta ada di depanku. Banyak yang belum tau siapa dia, Gaza ini adalah pemeran Alif Fikri di Negeri 5 Menara. Saat itu aku mengeluarkan hape untuk SMS Mamank segera membawa kameranya turun untuk berfoto bareng. Aku mengurungkan niat sebelum terjadi ke-keatrok-an hanya karena artis. Aku jadi sadar bahwa yang aku kagumi itu adalah karakter Alif, bukan si Gaza! Ya udah… aku merubah responku yang berlebihan tadi menjadi biasa saja. Dia ada di dekatku dan tidak ada saling sapa, walaupun sebenarnya keinginan foto bareng tetap ada. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, potensi seperti hanya akan membuatku terlihat bodoh dengan seorang artis yang ternyata bukan dia aku idolakan tapi karakternya dalam film. Aku bisa melihatnya, cukup ramah dan baik. Tapi tetap saja bukan dia yang membuatku salut tapi A.Fuadi, karakter asli Alif yang membuat novel Negeri 5 Menara.

Mushollah Terkeren
Kami menyempatkan makan malam terakhir di Bandung dengan menu nasi goreng. Mamank dan Thoto begitu tergoda dengan baunya yang hampir sama dengan bau nasi goreng buatan ibunya. Satu-satunya yang membuatku tergoda karena AKU LAPAR!!! Aku makan dengan memenangkan  piring pertama yang berhasil sapu bersih.. Hahaha.

Kami menumpangi angkot ke stasiun. Tiba-tiba aku terjebak dalam sebuah cerita Raditya Dika. Aku menemukan bau yang membuat udara angkot menjadi benar-benar sangat bau! Ya… bau ketek… Aku segera mengaktifkan mode roaming dengan bahasa bugis. Beberapa orang bilang itu bahasa planet. Ya iyalah bahasa planet, planet bumi kaan!!!

“Weeh… memmou ga yero?” (Weeh… kamu nyium bau itu ga?”)

“Iyya kawang. Iyya engka meto wemmou” (Iya, bro. Aku juga nyium itu kok”)

“Tunu bawanni kalefa’na fappada ceritana Raditya Dika” (Bakar aja keteknya kayka cerita Raditya Dika”)

“Hahahahahahahah”

(Yang belum ga ngerti Manusia Setengah Salmon, baca aja. Cerita supir baru radit yang keteknya super bau)

Kami tiba di stasiun, masih dengan utuh. waktu masih ada 2 jam lagi. Aku menyempatkan sholat maghrib jamak isya di mushollah. Di tempat-tempat umum, kadang-kadang aku miris banget dengan posisi mushollah yang sangat ga nyaman. Deket WC-lah, bau lah, ga terawatlah, pengaplah, banyaklah masalahnya.

Aku mencari-cari dan masya Allah banget! Mushollah yang ada di depanku bener-bener bagus. Jauh dari kesan-kesan biasanya. Aku jadi berasa Syahrini yang berkali-kali berlogat alhamdulillah yaaa… mushollahnya bener-bener sesuatu! Ini kali pertama aku menemukan mushollah yang bener-bener dibikin dengan niat, dengan sapce khusus, buka cuma sisa-sisa ruangan kosong.

Alhamdulillah jama’ahnya pun banyak. Bahkan tempat wudhu dan WC-nya pun bersih terawat. Bener-bener salut. Aku bener-bener bersyukur masih ada yang perhatian dengan hal-hal seperti itu. Kenyamanan dalam berjama’ah tentu juga mendukung kekhusyukan kita dalam beribadah. Salah satunya juga adalah rumah iabdahnya, dalam hal ini mushollah atau masjid. sayang sekali aku tidak dengan kamera ketika berada di sana, agar aku bisa memperlihatkan gambarnya.

Jogja
Jogja memang selalu istimewa untuk kami. Nuansa ramah Jogja selalu membuatku terutama, menjadi sangat betah berada di sini. Aku sih berharapnya di sini saja. Tapi ada banyak hal di mana Tuhan selalu memberikan tempat yang paling tepat sementara kita selalu menyebutnya tidak baik untuk kita sendiri.

2 jam ternyata bukan waktu yang cukup untuk berfoto. Kami tak berhenti mencari angle yang pas untuk berfoto hingga akhirnya kereta kami datang. Kami kembali duduk berhadapan. Sesekali merasa lucu juga dengan para pedagang yang masuk. Jadi yang bikin aneh adalah gaya mereka jualan itu ala ala Suzanna yang lagi pengen beli sate. “Massss…. koooopi maaaaas”, “Maaaaas, poooooopmi maaaaaas”, “Maaaaass, bantal maaaaasss”. Aku jadi bertanya, apa mereka ini titisan Suzanna si Sundel Bolong ato gimana?? Tiap di kereta mesti gitu gayanya. SAMA SEMUA!!

Mamank yang rusuh karena sedang tidak enak, begitu juga dengan Thoto dan Shaleh yang berasa pengen muntah. Mamank segera mengantisipasi dengan antimo yang membuatnya teler seketika, hahaha. Sementara Shaleh belakangan diketahui tidak enak karena lapar ternyata. Ckckckck…

Lain lagi dengan aku. Banyak bayangan yang muncul berkelebat dalam fikiran. semuanya melintas cepat seperti pemandangan gelap penuh kilatan lampu lalu hilang berganti dengan lain. Kami akan tiba di Stasiun Tugu Jogja pukul 4 subuh. Satu-satunya yang membebaniku adalah nanti makan apa (sambil buka dompet kosong T.T).

Epilog
Aku sedang menyetrika kaos Sponge Bob yang betul-betul kusut minta ampun. Beberapa kali harus kusemprotkan pelicin, pewangi, pelembut jadi satu agar bisa rapi. Aku melihat senyum Sponge Bob yang selalu bahagia walaupun kusut sekalipun. Ini yang membuatku selalu bahagia memakainya. Entah di lemari mana, entah dalam keadaan seperti apa, kusut atau rapi. Ada kembaran Sponge Bob yang ada di depanku. Senyum yang sama, keceriaan yang sama, kebahagiaan yang sama, tapi tidak dengan pemiliknya.

Saat kulihat kembali Sponge Bob yang ada dihadapanku, tatapannya kosong. sekosong hatiku sekarang. Sementara yang lainnya, terakhir kali aku bersamanya, dia sedang didera air mata. Ada banya hal yang ternyata tak mampu aku lihat di matanya. Dan kini di mataku ada banyak rasa bersalah.

Cinta ini menjadi seperti Kaos Sponge Bob yang kusut. Akan selalu ada seterika yang bisa menyempurnakannya. Tapi setelah terlipat, akan kembali berbekas dengan sangat jelas. Itulah hatiku yang kusut, walaupun diseterika akan selalu ada bekas setelah terlipat. Entah dimana tumpukan mana lagi hati itu berada. Sekarang aku melihatnya, namun melihatnya saja sudah membuatku bersalah. Tak mampu melihat matanya yang dingin tapi tetap penuh cinta.

Entah seperti apa matanya sekarang. Terakhir kubersamanya, mata itu menangis sedih. dan itu karena aku. Aku selalu merasa bersalah mengingat itu. Semua hal bahagia yang bisa aku ingat hingga kini terus berakhir dengan rasa bersalah. Aku berharap suatu saat bisa melihat mata itu kembali bahagia tanpa air mata, tidak walaupun itu air mata karena bahagia.

Kenapa pula harus ada air mata jika bahagia. Lalu jika hal semacam itu ada, kenapa tidak pernah ada tawa dalam tangis? Deskripsi perasaan yang sungguh membingungkan. Air mata selalu berhasil meluruhkan rasa sedih walaupun jejak tangis masih ada dipipi dan hidung. Tapi tidak pernah ada tangis yang berhasil dihapus oleh tawa. Yang ada adalah kesemuan tawa, tawa yang dibuat untuk seolah tegar padahal tidak! Tawa tidak mampu berdiri tegar melawan tangis dan segenap perasaan sedih tanpa disertai hati yang penuh cinta kasih.

Hatiku sama seperti lemari bajuku. Ada banyak baju yang bisa aku pakai bergantian. Tapi hanya ada 1 baju yang membuatku terus ceria, SPONGE BOB. Ada banyak kenangan yang bisa aku ingat di dalam hatiku, tapi hanya ada 1 yang bisa membuatku lebih bahagia dari sebelumnya yaitu sang pemilik SPONGE BOB satunya.

Semua yang dilakukan pemilih sepasang kaos SPONGE BOB ada di Jogja. Semua cerita yang akan segera kutinggalkan dan akan selalu terkenang disaat pikiran ini menginginkannya. Di kota inilah banyak mimpiku ku kait dalam sebuah layangan, menyampaikan pesan doa kepada Tuhan. dan Tuhan selalu tau apa yang dilakukannya walaupun kita tidak menyukainya (!).

One thought on “Ellite Backpacker 5 : Jogja Memang Istimewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s