Ellite Backpacker 4 : Jakarta – Bandung

Insiden 
Kami mengingat-ingat kembali petunjuk yang diberikan Kak Acenk untuk menuju ke kantor Kak Efin, Rajawali Nusantara Indonesia. Trans Jakarta menjadi salah satu dan satu-satunya yang bisa mengantar kami menuju tempat itu. Dengan keadaan seperti ini, aku berharap orang jenius paling hebat di dunia ini bisa menciptakan Doraemon dengan Pintu Ajaibnya.

Kami memulai peran kami sebagai Trans Jakarta-Man di Shleter Kayu Putih Rawasari. Aku tidak hafal dengan nama shleter yang kami singgahi. Tapi entah di shelter mana, sebelum kami turun tasku sempat kejepit pintu trans jakarta. Ini membuat aku tidak bisa bergerak. Shaleh dan Thoto sudah turun, aku meronta berusaha melepaskan tasku dari jepitan pintu. Mamank mulai menarik-narikku, tapi belum berhasil. Pintu hampir ditutup saat aku keluar bersama Mamank dengan napas lega. Haaaaaah…. hampir saja aku hilang untuk kedua kalinya, dibawa lari oleh trans jakarta.

Sedikit trauma, soalnya pas aku kecil dulu aku sempat hilang karena ikut di mobil orang. Entah umur berapa, yang jelas aku masih kecil sepertinya masih TK. Saat itu aku di Tanru Tedong. Aku tidak ingat betul kejadian itu. Tapi orang tuaku selalu khawatir ketika aku pergi berkendaraan umum, apalagi perjalanan jauh. Itu yang membuat mereka tak pernah berhenti meminta kabar ketika aku sedang perjalanan. “Sudah sampai di mana?” atau “Sekarang sudah di mana? Sampainya jam berapa?”. Banyaklah… pokoknya pertanyaannya seperti itu kira-kira.

Well… kembali ke kisah backpacker elit. Kami melewati jembatan yang menghubungkan satu shelter dengan shelter yang lain. Aku sempat diserobot karena kami berjalan berdampingan seperti pagar betis, membuat yang dibelakang tidak bisa lewat. Orang Jakarta jalannya cepat-cepat, mereka takut ketinggalan trans jakarta, tak mau terlambat ke kantor dan sebagainya. Tiap hari seperti ini membuatku berpikir, apa yang dikatakan Raditya Dika : di Jakarta umur kita lebih banyak habis di jalanan. Macet, antri trans jakarta, naik turun shelter, sementara waktu terus ngejar. Lucu juga bayanginnya, ibaratnya orang kantoran itu kayak lomba lari. Siapa yang paling cepat datang trus ngabsen itu yang menang. Yang kalah, yaa yang terlambat. Terlambat ya ga dapat hadiap, ga dapat gaji.. hahaha. Bener-bener repot tinggal di Jakarta ini.

Kami di Shleter Pramuka BPKB (kalo tidak salah), setelah aku ternyata muncul insiden lainnya. Kami menunggu trans ke arah Dukuh Atas, karena kami di depan antrian kami jadinya didorong-dorong ketika tran sudah mendekat. Ketika pintu trans terbuka, Thoto segera masuk. Saat itu aku yang berada di dekatnya ingin ikkut masuk tapi pramugaranya udah ga bolehin penumpang lagi karena udah penuh. “Eeeeh…!” aku sedikit cemas melihat hanya ada Thoto di sana, sementara kami bertiga masih di luar. Pintu mulai tertutup dan Thoto berbicara tanpa kedengaran. Jadilah aku menjadi seperti nonton siaran TVRI dulu yang hanya ada gerakannya khusus orang tuli. Thoto berisyarat untuk bertemu di Shelter Dukuh Atas.

Aku memandanginya, merelakan kepergian Thoto. Ingin rasanya aku melambaikan sapu tangan  untuk mengantar kepergiannya. Beberapa detik sebelum pintu trans tertutup Thoto melompat kembali ke shelter. Beberapa orang berteriak campuran marah, kaget, kesal. Aku segera membayangkan film Titanic. Adegan ini persis dengan adegan Rose yang melompat setelah naik ke sekoci trus lari meluk Jack. Untung saja Thoto ga bilang, “Remember what you say?! You jump, I jump!!” trus meluk-meluk kami bertiga. Baru setelah ada trans selanjtnya kami naik.

Rajawali Nusantara Indonesia
Kami tiba diperhentian terakhir. Kami tinggal berjalan kaki sedikit untuk menemuka kantor Kak Efin. Untung saja hujannya sudah mulai reda, kami tidak mau sampai dengan keadaan basah kuyup. Tiba di kantor, kami rada bingung di mana ruangan Kak Efin. Hingga akhirnya dia berpesan untuk menunggunya di kantin belakang kantor saja. Seolah membaca pikiran kami, beliau juga menyuruh kami untuk  makan di sana. Sudah…. makan dulu saaanaaa, ada kantin di belaaaakang tuh!

Aku memilih soto ayam sementara mereka bertiga memilih menu gado-gado. Aku berpikir, betapa jauhnya perjuangan kami hari ini untk sebuah Branch (Breakfast + Lunch). Betul-betul perjuangan besar. Sampai ngantri, hampir kejepit, hampir ketinggalan trans, hujan-hujanan (walopun rintik-rintik). Dalam hitungan menit, kami berhasil membersihkan piring-piring dengan sendok dan garpu. Tak mampu dibedakan lagi antara lapar dan doyan… hahahaha.

Lama kami setelah makan, Kak Baso datang lalu disambung denga kak Efin. Kami memulai tugas kami untuk mewawancarai beliau untuk kepentingan Majalah KEPMAWA (insya allah terbit amiiin) dan juga untuk PPMWI yang akan dilaksanakan tahun ini. Pembicaraan kami berpindah ke ruangan Kak Efin. Selama beberapa menit, kami mendengarkan cerita beliau. Sesekali beliau memberikan nasehat, semangat dan motivasi kepada kami.

Stasiun Ke Stasiun
Kami langsung meminta pamit untuk kembali ke Jogja. Kami segera menuju stasiun. Dengan rejeki dari Kak Efin dan Kak Baso, kami berniat untuk mencari tiket pulang di Pasar Senen. Kopaja yang kami kendarai membuat Mamank sedikit mabuk. Kami bahkan harus berganti ke Kopaja lainnya hingga sampai di Pasar Senen. Kami tidak menemukan tiket, tidak ada penjualan tiket untuk keberangkatan dihari ini juga. Tiket Ekonomi dan Bisnis harus dipesan beberapa hari sebelumnya.

Walau hujan, aku tetap ke Stasiun Gambir. Walau hujan, aku tetap menunggu taksi. Dan karena kehujanan kami jadi basah seperempat kuyup. Akhirnya taksi datang seperti pahlawan kehujanan. Kami pun akhirnya tiba di Stasiun Gambir. Benar-benar berharap bisa langsung kembali ke Jogja. Rejeki dari kakanda dipastikan akan sangat membantu kami dalam memilih tipe kereta seperti apa yang akan kami tumpangi.. Hahaha.

Kami mengurungkan niat untuk langsung ke Jogja dengan eksekutif karena tiketnya yang selangit-langit. Belum bisa dijangkau dengan duit kami. Akhirnya pilihan satu-satunya adalah kembali ke Bandung. Kami kembali membeli tiket eksekutif tujuan Bandung sore itu juga. Jadi bingung sendiri, kami ini backpacker atau eksekutif muda. Makannya aja di AFC, naik eksekutif pula.

CAMERAAA…. and ceklek! Banyak waktu yang kami habiskan sebelum kami berangkat ke Bandung dengan berfoto ria. Mamank yang sangat ingin berfoto bersama Monas akhirya terwujud juga. Biasanya orang seneng foto sama artis… ini malah objek yang ga idup sama sekali… Hahaha, piisss Mank. Bergantian kami berpose di kereta. Tapi ketika kereta jalan, Mamank malah kedinginan berat sampe susah tidur. Belum cukup tidur malah udah nyampe di Bandung, di Stasiun Bandung. Sabar yaaaah… nanti tidur sambil jalan aja, bisa ngaak? Hihihii.

Bandung Rain
Kami tiba di Bandung, udah maghrib menjelang isya. Ternyata sampai di sini, hujan masih doyan aja ngikutin kami. Tak ingin mengulang kesalahan yang pertama dengan kembali kepenginapan 160 ribu itu, kami akhirnya berhujan-hujan, berjalan kaki mencari hotel murah. Beberapa hotel yang kami kunjungi hanya menyediakan kamar supir, satu-satunya kamar yang cocok dengan kantong kami. Kami pun bertanya tentang keberadaan hotel murah pada seorang Aa’ satpam. Dia menunjukkan jalan pada kami, katanya disana ada hotel yang namanya Hotel Internasional yang murah.

Kami berjalan dengan hujan yang masih setia menguyur pelan. Kalo Thoto bilang ini namanya Gerimis Romantis. Jadi ingat sesuatu, tapi apa yaaaah?! Yang jelas sesuatu itu bukan Syahrini!! Kami melewati beberapa penjual makanan. Setiap aku memandangnya perutku terus meronta minta berhenti. “Sabar yah, Rut. Kita cari penginapan dulu”.

Tanpa sengaja kami menemukan hotel bertipe Melati 3 dengan nama Hotel Embong (E untuk Enak. Nama yang sangat tidak menjual! Tidak hanya namanya, tapi juga hotelnya sendiri sangat tidak menjual. Satu-satunya yang menjual adalah penjualnya sendiri, yaitu keluarga yang sepertinya keturunan India. Kami pun mendapatkan kamar di lantai atas setelah melalui “banjir lokal” di dalam rumah. Aku sendiri lebih suka menyembutnya Embong (E untunk Eneg) yang berarti Kebbong – Busuk. Hehehe

Tampilannya yang kebanjiran lokal sepadan dengan yang harus kami bayar. Yaah lumayanlah, cukup 100 ribu untuk satu kamar massal kami. Kami pun tak melupakan penderitaan perut kami yang meronta sedari tadi. Kami segera memberikan pertolongan gawat darurat pada perut kelaparan. Pilihan kami jatuh pada bakso yang ada di dekat hotel, lumayanlah untuk menolong perut kami.

Pasangan tidur pun telah ditentukan. Aku dengan Shaleh, sementara Thoto dengan Mamank. Aku dan Shaleh mendapatkan kasur yang kecil yang masih cukup untuk kami yang tidak terlalu banyak bergerak sepeti iklan pembalut. Thoto dan Mamank di kasur yang sedikit lebih besar. Pilihan dan penentuan pasangan ini paling pas dengan porsi kasur. Mengingat ukuran Thoto dan Mamank yang menengah ke atas, sangat layak mereka mendapatkan kasur besar itu.

One thought on “Ellite Backpacker 4 : Jakarta – Bandung

  1. “Aku memandanginya, merelakan kepergian Thoto. Ingin rasanya aku melambaikan sapu tangan untuk mengantar kepergiannya. Beberapa detik sebelum pintu trans tertutup Thoto melompat kembali ke shelter. Beberapa orang berteriak campuran marah, kaget, kesal. Aku segera membayangkan film Titanic. Adegan ini persis dengan adegan Rose yang melompat setelah naik ke sekoci trus lari meluk Jack. Untung saja Thoto ga bilang, “Remember what you say?! You jump, I jump!!” trus meluk-meluk kami bertiga. Baru setelah ada trans selanjtnya kami naik.”

    hahaha.. ini yang saya suka..
    bisa meki saingi raditya dika kak^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s