Ellite Backpacker 3 : 7 Hours On The Way

Eksekutif Muda
Ketika tiba di Stasiun Bandung, kami berjalan cukup santai. Tak ada beban hingga akhirnya pilihan kami jatuh pada kereta eksekutif tujuan Bandung-Jakarta. Memang, harganya cuma 60 ribu saja, tapi bagi backpacker kere seperti kami duit seperti itu bisa buat makan beberapa kali di Jogja. Semua akhirnya terbayarkan dengan alibi “tugas dinas ke-KEPMAWA-an” untuk bertemu dan mewawancarai Kak Efin dan Kak Baso di Jakarta. Kami jadi seperti eksekutif muda tanpa dasi.

Kami tidak perlu menunggu lama untuk kereta ini karena memang kami datang tepat pada waktunya. Pukul 12.00 kereta langsung melaju. Sensasi tersiksa seperti di perjalanan kami dari Jogja – Bandung memang tidak terasa sama sekali. Rasanya nyaman sekali, tanpa pedagang kaki dua yang kesana kemari mencari pembeli (ting ting..!!), namun yang terjual hanyalah pop mie, saaayaaaaaang, yang dia terima hanya 6 ribu”. Kami mencari nomor kursi dan bersandar empuk padanya. Thoto langsung mengeluarkan cas-an BB-nya.

“Eh.. pake semua fasilitas yang ada di sini. Pokoknya manfaatkan semuanya! Masa sudah bayar 60 ribu tapi tidak dinikmati?!” Thoto menasehati. Alhasil Mamank dan Shaleh ikut terpengaruh, mereka langsung ikut nge-cas hp masing-masing. Aku yang lupa membawa cas dari Jogja langsung ceplos, “TV nya bagus, boleh dibawa pulang??”.

Aku menggantikan tugas Mamank jadi fotografer. Kasian dia ga ada yang foto-in, paling ga untuk sementara. Besok kamera tetap di tangannya lagi. Hehehe, mau gimana lagi, kameranya diamanahkan langsung dari Ahmad. Dia bahkan sempat dapat privat khusus buat cara-cara motret dengan baik dan bagus.

Sementara kereta berjalan, aku sesekali memotret pemandangan hijau yang dilewati. Sejenak aku merasa seperti di kereta Hogwarts Express. Situasinya hampr mirip, hanya saja keretanya tidak berkompartemen. Beberapa kali ada pramugari (entah apa namanya kalo di kereta) yang bawa troli isi minuman. Aku berharap dia menjual Butterbeer atau Kacang Segala Rasa Bertie Boot atau Cokelat Kodok yang berhadiah gambar penyihir-penyihir hebat koleksi Ron. Sebelum aku berkhayal tentang Weasley dan Malfoy yang datang melewatiku, aku segera menghentikan khayalan ting-ting ini.

Lost in Jakarta
Kami tiba di Jakarta jam 3 sore. Tiga jam di kereta membuatku kurang puas menikmati kenyamanan kereta eksekutif. Kami turun di Stasiun Gambir dan memulai perjalanan lagi. Kali ini kami lebih mengandalkan kaki kami untuk berjalan menemukan Kantor Rajawali Nusantara Indonesia, tempat Kak Efin dan Kak Baso bekerja. Selain kaki kami yang insya allah masih kuat, kami juga menggantungkan “malu” kami pada si handphone pintar Mamank, tidak lagi pada peribahasa “Malu Bertanya Sesat Di Jalan”. Ini agar kami tidak tersesat lagi. Aku akhirnya ngerti kenapa handphone itu dijuluki handphone pintar. Dia mampu menuntun kami menuju alamat yang kami tuju tanpa harus bertanya pada siapapun. Semoga handphone ini juga bisa membimbing kami menuju jalan kebenaran, Amin.

Kami berjalan melewati Monas dan sejauh ini kami juga belum menemukan zebracross. Pengemudi di kota ini semuanya seganas Afriani yang ga ngasih kesempatan buat kami beginner backpacker. Jadi serem sendiri, ga berani nyeberang sembarangan. Salah sedikit bisa jadi korban satu kali tabrak. Kaki kami menyerah setelah kami menemukan halte Trans Jakarta. Tuntunan kebenaran dari si handphone pintar kami abaikan dulu. Ternyata dia kurang pintar untuk mengerti kondisi kaki kami yang semakin lama semakin konde’an. Lama-lama ni betis bisa kekar kayak Ade Rai.

Kami akhirnya menumpangi Trans Jakarta yang penuhnya 11-12 sama angkot. Sesaknya yang minta ampun bikin kami harus lomba bernapas mendapatkan oksigen di dalam Trans Jakarta. Karena kurang berpengalaman didunia per-trans jakarta-an, kami pun meminta tolong pada pramugara Trans Jakarta (untuk Trans Jakarta apa namanya yaah??) untuk diingatkan ketika singgah di Shelter Ragunan.

Kami terus berdiri hingga akhirnya mendapatkan tempat duduk, namun Shelter Ragunan tak sampai sampai juga.

“Sudah di mana, Dinda? Jam 5 saya ada janji,” pesan Kak Efin melalui BBM (Blekberi Mesenjer) tanpa BBM (Bahan Bakar Minyak)

“Ini masih di Trans, Kanda. Masih di daerah Blok M,” Thoto membalas.

“Kok Blok M?!”

“Iya, Kanda. Soalnya transit ke Ragunan dulu baru ke Kuningan”.

“Waah… kalo begitu ketemu besok aja di kantor jam 11 ontime”.

Kami makin kaget setelah tau bahwa Blok M ada shelter terakhir. Kami disesatkan oleh pramugara trans. WTF!! Kami turun paksa dalam keadaan bingung dan kelaparan. Kami disarankan untuk ke Rawasari, menginap di sana. Adalah Kak Achenk yang bertugas jadi guide selanjutnya.

Jam 5 kami belum menemukan alamat. Akhirnya kami ikut merasakan penderitaan Ayu Ting-Ting yang bener-bener kesusahan cari alamat. Kami melihat petunjuk  dari Kak Achenk, di shelter mana kami harus naik dan turun. Sebelum melanjtkan perjalanan ke Rawasari, kami mampri makan bakso. Sumpah! Itu adalah bakso yang terenak yang pernah aku makan karena saking capek dan laparnya.

Kami mengikuti instruksi Kak Achenk dengan baik. Akhirnya kami tiba dengan selamat di Rawasari pas jam 7 malam. Perjalanan terpanjang, seharian kami habiskan dijalan dan karena tersesat! Kak Achenk yang melihat muka kami yang sudah seperti belum makan 3 hari akhirnya mengajak kami makan di warung pinggir jalan. Save our money, perut kami diselamatkan oleh  nasi + ayam goreng + es teh = hampir kenyang. Ini karena nasinya yang tidak sesuai dengan perut kami yang sangat kelaparan.

Tidur – Bangun
Di kamar loteng, kami berhasil memejamkan mata dengan hembusan blower super kencang. Kami bersyukur sudah bisa dapat tempat nginap malam ini. Aku menjadi kontestan pertama yang tumbang di kasur karena kelelahan. Selanjutnya ada Shaleh lalu diikuti Mamank. Thoto yang sangat suka berdiskusi menghabiskan separuh malamnya bercerita dengan Kak Yadin. Hahaha Selamat tidur nyenyak semuanya… (I hope). Kak Baso juga sudah menunggu kami besok pagi jam 8:30. Ini yang membuat kami harus bangun lebih awal sebelum jalan di Jakarta macet karena Si Komo lewat.

Aku bangun dengan mata bengkak. Berbeda dengan kasus Shaleh yang bermata dan berpipi bengkak kelebihan tidur. Ini terjadi justru sebaliknya, karena aku kurang tidur. Terlalu capek justru membuatku gelisah saat tidur. Ini menyebabkan Shaleh menjadi objek gangguanku selama proses tidur. Berkali-kali Shaleh kutimpa dengan tangan dan kakiku. Hahaha, aku tidak ingin tidak bisa tidur sendirian saja, makanya aku mencari pengikut setia.

Kawasan tidurku menjadi lebih luas karena Shaleh yang terus menjauh karena gangguanku. Shaleh menjadi semakin rapat pada Mamank, sementara Mamank makin rapat ke Thoto. Mereka menjadi seperti gerbong kereta api saling gencet.

Kami bangun terlambat, WC jadi rebutan dan perjalanan Trans Jakarta yang lama serta Si Komo yang lewat membuat janji dengan Kak Baso molor ke jam yang sama dengan Kak Efin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s