Ellite Backpacker 2 : Elit Tapi Kere

Jalan Kaki
Tiba di Stasiun Bandung, setidaknya kami sedikit lega. Kami memutuskan untuk mencari penginapan murah. Hotel yang disekitar stasiun ternyata bukan harga backpacker. Untuk mendapatkan kesan backpacker, kami pun memutuskan untuk berjalan kaki dari stasiun ke Dago. Kali ini kami dibekali dengan Google Maps, so just ask your destination to Google and you’ll know it.

Kaget juga pas dengar petunjuk si Google kalo jaraknya sekitar 6 kilo-an. Jika diketahui kondisi seperti ini – kurang tidur, perut lapar dan tas lumayan berat – bisa dihitung berapa kecepatan maksimal yang bisa kami tempuh menuju Dago. Sebagai penghibur, Mamank selalu Siaga 1 dengan kamera bergelantungan. Sesekali kami berhenti untuk berpose tanpa jari telunjuk di depan bibir. Ini untuk membuktikan bahwa kami bukan pemuda-pemuda alay. Hahaha…

Merasa kurang percaya dengan Google Maps, kami memastikan pada Aa’ Polisi. Untungnya Aa’ Polisi ini setuju 100% sama si Google Maps. Kalo Google Maps bisa ngomong pasti udah bilang “Kaaan… Gue bilang juga apa!”, hehehe. Perjalanan terus berlanjut, kami kayak lombaan sampai ke Dago. Gantian siapa yang memimpin di depan, siapa yang paling tertinggal di belakang.

“Eh… Shaleh ada di belakang. Jangan sampe ada yang culik!” Mamank berjalan sedikit lebih cepat.

Aku berjalan sedikit lebih lambat, berusaha menyamakan langkah seperti orang yang gerak jalan. Kiri kanan kiri kanan… Setelah wawancara singkat, ternyata Shaleh masih ngantuk. Dalam hati aku teriak, “Appppaaaaaaah!!! Masih NGANTUK!!!”. Padahal dia yang paling banyak tidurnya, sampai matanya bengkak gitu. dan sepertinysa pipinya juga ikut menggelembung, untung saja lehernya tidak ikut-ikutan. Hehehe… pas hatiku ngomong, Mamank ga shoot ke arahku. Baguslah… takutnya suara hatiku bisa kedengaran kayak di sinetron-sinetron. Kira-kira mereka kamera secanggih apa yaa sampe bisa kedengaran suara hatinya…

Kami terus berjalan hingga ketika mencapai Dago, kami menemukan plang penginapan yang sedikit lusuh. Pas masuk ke dalam, ternyata penginapannya kayak rumah hantu. Betul-betul mengerikan. Pencarian penginapan harga backpacker terus kami lakukan hingga kami akhirnya berhenti di depan Hanamasha, restoran Jepang. Atas petunjuk dari seorang teman di Bandung, kami mendapatkan info penginapan murah di Dago Pojok. Kaki kami sudah mulai berteriak minta ampun. Merasa kasihan akhirnya kami pun memutuskan untuk naik angkot. “Horeee…. horeeee… horeeee,” aku bisa merasakan kakiku berteriak kegirangan karena capek berjalan seharian.

Dago Pojok
Kami mendapati penginapan di Dago Pojok seharga 160 ribu. Harganya bener-bener ga backpacker banget! Tapi ga papa lah… daripada kami semakin terlunta-lunta dijalan. Bisa-bisa kami berakhir tragis dengan menggelar koran di emperan toko. Siang hari kami gunakan full untuk tidur hingga sore.

Kasur yang hanya ada dua saja memang membuat kami harus tidur berdua-duaan. Hahaha, yakinlah bahwa tak ada affair di antara kami karena kami masih normal. Ada sedikit konflik ketika pembagian kasur. Yang jadi masalah adalah tak ada yang berani tidur dengan Thoto. Siang itu berkahir dengan mengalahnya Shaleh yang tidur di karpet. Thoto satu kasur sendiri, dan aku berbagi kasur bersama Mamank.

Menjelang sore, kami mulai berbenah. Mandi dan bersiap untuk perjalanan entah kemana sang pemandu akan membawa. Adalah Atto dan Dian yang bertugas untuk itu.

“Mank, kau bawa alat mandi?” Thoto bertanya.

“Nda… cuma bawa sikat gigi sama handuk.”

“Saya cuma bawa sikat gigi sama sabun” Shaleh menyahut. “Opyank?”.

“Iya, saya bawa alat mandi sama handuk,”  jawabku menyelamatkan.

Pelajaran pertama dalam ber-backpacker adalah jangan pernah saling berharap di antara kalian. Hasilnya begitulah. Bisa dibayangkan kalo aku juga ga bawa apa-apa karena berharap pada mereka. Bisa-bisa kami hanya mengguyur air ke badan dan menggosok-gosokkan batu ke badan seperti di zama purba, hahahaha. Bayangan yang terlalu lebay di zaman sekarang😀.

Konflik selanjutnya adalah siapa yang mau mandi duluan. Betul-betul tidak penting! Shaleh yang masih saja memilih diam dan terus tidur-tiduran menjadi sasaran empuk kami.

“Shaleh, BANGUN..!! Ayo mandi!!”

Kami bergantian membombardir dengan kalimat itu. Shaleh tetap diam dan terus tidur. Apa mungkin Shaleh percaya dengan pepatah “Diam itu emas”?? Makanya dia diam terus biar dapat emas. Hahahaha

Cihampelas
Malam itu kami cukup dengan berjalan di Cihampelas saja. Berhubung sudah malam, hanya tempat itu saja yang mampu dijangkau lebih mudah. Berjalan mengitari setiap sudut mall yang ramah lingkungan itu. Mamank masih khusyuk dengan kameranya, sementara kami menjadi objek jepretannya. Saat itu aku benar-benar berharap Shaleh benar-benar mendapatkan emas dari hasil diamnya berjam-jam untuk membeli seisi mall. Tapi diamnya Shaleh ternyata tidak membuahkan emas seperti peribahasa tadi. Kalo begitu ganti saja “Diam itu ga ngapa-ngapain”.

Shaleh bahkan sempat mencari beyblade bersama Thoto. Saat itu au sempat berpikir mungkin Shaleh sudah terima emas dari hasil diamnya, tapi ternyata tetap saja nihil. Haaaah… kami hanya menghabiskan waktu disana dengan cuci mata (melihat-lihat), cuci kaki (berjalan-jalan) dan cuci tangan (memegang-megang barang). Ketika kami akan melakukan pen-cuci-an mulut, kami pun diam-diam berembuk.

“Eh… Dian sama Atto itu antar kita kesini jalan-jalan tapi mereka belum makan malam,” Thoto menginfokan kepada kami bertiga. “Kalo bisa kita jangan makan di sini karena pasti mahal. Makan di luar saja yang murah-murah. tapi bagaimana ngomongnya??”.

Aku dan yang lain tidak bisa memberikan usulan yang tepat. Thoto akhirnya mengusulkan untuk makan bakso di tempat temannya yang katanya enak disekitar Cihampelas. Entah penjual bakso itu benar atau hanya fiktif belaka. Kami berjalan keluar dan betul menemukan warung bakso dan tidak hanya menjual bakso saja.

Saat menu tiba dihadapan kami, aku langsung menelan ludah. Lagi-lagi harganya ga backpacker banget. Aku dan Shaleh pun memutuskan untuk memesan yang paling murah, Lotek seharga 10 ribu.

“Maaf A’, Loteknya abis,” si Aa’ yang punya warung datang  menyampaikan kabar buruk.

“Kalo gitu Karedok aja deh, A’,” aku dan Shaleh kemabli memesan menu terakhir seharga 10 ribu.

“Ga ada juga, A’. Sayur-sayurnya udah abis. Pesan yang lain aja,” balasnya dengan kabar yang semakin buruk untuk dompet kami.

Dengan pasrah, aku dan Shaleh memesan Nasi Goreng seharga 15 ribu. Dalam hati aku minta maaf sama dompetku yang akan kehilangan duit satu-satunya. Tehnya pun ga tanggung-tanggung, 4 ribu rupiah untuk teh manis. Kesalahan pemesanan yang aku lakukan lagi adalah tidak mencantumkan kata manis di belakang kata teh. Aku bener-bener ga ngerti kenapa orang bandung suka minum teh tawar dengan rasa sepet-sepet. Apa mungkin karena mereka kepedean udah manis semua jadi tak perlu tambah gula lagi? Apa takut disemutin yaaah?? When two different culture are talking about habbit each other is always funny, right? Dan ini adalah ke-elit-an kedua yang kami lakukan setelah menyewa penginapan seharga 160 ribu per hari itu.

Tidur
Malam itu kami akhiri dengan kembali berebut kasur. Siapa dengan siapa, siapa dengan siapa. Akhirnya kami sepakat untuk merapatkan kasur sehingga kami bisa tidur berempat. Tapi yang menjadi masalah lagi adalah siapa dekat siapa. Aku lebih memilih dipinggir dekat tembok. Sementara itu mereka bertiga lebih memilih untuk peluk-pelukan. Shaleh yang menjadi korban pelukan Mamank, sementara Mamank jadi korban pelukan Thoto, aku aman terbungkus dalam selimut dengan berpegangan pada minyak kayu putih. Kebiasan tidur yang berbeda membuat malam itu sedikit rusuh sebelum akhirnya aku mendengar desisan tidur salah satu dari mereka.

Pagi hari, kami menemukan Shaleh terbungkus sarung biru kesayangannya. Dia tidak lagi berada di kasur, melainkan berpindah meninggalkan kasur dan tidur di karpet. Untung saja di sampingnya tidak ada surat wasiat ato semacamnya. Pertanyaannya, “Mamank, apa yang kau lakukan?!” hahahah.

8 thoughts on “Ellite Backpacker 2 : Elit Tapi Kere

  1. hahaha, saya rasa ini menarik karna tidak mnyebut secara spesifik org2 yang ada dalam cerita sebagai pemeran pembantu…hahaha

  2. “Shaleh yang menjadi korban pelukan Mamank, sementara Mamank jadi korban pelukan Thoto.”
    jadi.. mamank ada ditengah “mereka” ?
    Jleb ! (>.<")

  3. Welcome to Bandung, next time come to here again🙂
    Untuk makanan murah di Bandung, beli di warung tenda aja. Kalo untuk minum, saya saranin selalu bawa air mineral botol di dalem tas. Beli di minimarket aja, harganya hanya 800-900 rupiah. Selain hemat, juga sehat. Bisa untuk tips, kalo nanti back packeran lagi hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s