Ellite Backpacker 1: Bandung I’m Coming

Backpacker ke Bandung-Jakarta yuk!”

Seperti itulah kira-kira ajakan Shaleh dan Thoto. Saat itu langsung aku iyakan saja tanpa sedikitpun perlawanan, tanpa persenjataan… Hahaha. Awalnya sih aku, Thoto, dan Ahmad akan berangkat bareng-bareng, eh.. tapi di tengah jalan sebelum berangkat (?? belum berangkat sudah ditengah jalan??) Ahmad memutuskan untuk tidak ikut, beginilah karena Si Ayaaaaank lagi sakit. Untung saja saat itu Si Ayaaaaank punya pulsa jadinya ga lebay-lebay amat kayak Telkomsel.

Oh iya… sebelumnya perjalanan backpacker ini dirahasiakan sampai akhirnya Mamank tau. Yaa ada sedikit perasaan ngambek pada Mamank sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengajaknya saja. Ahmad yang sudah setuju digantikan oleh Mamank pun dengan rela meminjamkan kameranya. Biasalaah eksis tetap terjaga di mana-mana.

Tidak banyak cerita pada malam keberangkatan kami. Yang ada cuma gantian tidur di kereta. Mamank sudah dipastikan teler karena pengaruh obat yang diminumnya. Ini juga untuk kemaslahatan ummat biar “uweeeeeeaaak”-nya ga meluber kemana-mana.. Hahahaha. Sementara Shaleh lebih banyak diam, entah kenapa. Sediam-diamnya Shaleh, akhirnya dia angkat bicara juga pas lagi lapar. Hahahaha untukย  urusan perut, diam memang tidak menyelesaikan masalah. Aku dan Thoto masih terjaga, sampai akhirnya aku memutuskan untuk angkat bendera putih. Zzzzzz zzzz zzzzz

Hampir subuh waktu kami semua akhirnya terjaga. Gantian kami celingukan cari tau dimana kami sekarang. Sayang sekali itu tidak berhasil, di luar masih gelap dan yakin juga pas terang juga tak ada yang tau di mana posisi kita. Saat itulah aku merasa seperi si Bolang, bocah ilang! Ini semakin gawat ketika ternyata keretanya ga mampir di Stasiun Bandung. Perhentian terakhirnya malah di stasiun Padalarang. Sebelum jalan kami makin sesat, maksudnya perjalanannya, akhirnya Thoto pun bertanya pada penumpang yang lewat.

“Pak, kalo mo ke Bandung kota turunnya di Stasiun mana?”

“Turun di Cicalengka aja. Nanti naik Patas lagi ke Bandung Kota. Ini cuma nglewatin Stasiun Bandung, tapi nanti jalannya pelan kok. Kalo turun di Padalarang nanti kejauhan,” si Bapak menjelaskan.

Kalo kayak film-film kartun kebanyakan, di atas kepala kami udah banyak banget tanda tanya. Masih kebingungan, aku liat ke arah jendela yang masih gelap. Tidak ada jawaban di sana. Kereta kemudian melewati salah satu stasiun dengan sedikit lebih lambat.

“Mau lompat pas keretanya “lambat” begini!!!” Mamank kaget.

Aku setuju dengan Mamank, begitu juga dengan yang lain. Ternyata defenisi “lambat” yang dijelasin Bapak tadi masih terbilang cepat buat kami.

Kami pun memutuskan untuk berhenti di Cicalengka.

Becek
Kami akhirnya turun di Cicalengka. Untungnya masih dalam keadaan utuh. Satu-satunya yang tidak utuh adalah tidur kami yang belum paripurna. Aku langsung underestimate sama Bandung dengan keadaan yang aku dapatkan. Di luar stasiun benar-benar kotor karena bekas lumpur habis hujan. Jadi ingat Pasar Sentral di Sengkang, keadaannya beti-lah… beda beda tipis. Teksturnya yang lembek-lembek kayak e’ek jadi harus melangkah dengan tepat untuk dapat e’ek, eh maksudnya tanah yang pas buat pijakan.

Perut kami sepakat untuk mencari makan dulu setelah negosisasi kami gagal untuk mendapatkan angkot dan tidak menemukan patas ke Bandung Kota, ke Dago. Kata si Aa’ mah masih jauh dari sini, naik KRD aja. Kami pun mengikuti saran si Aa’, membeli tiket KRD seharga seribuan. Sungguh murah sekali dan ternyata itu sebanding dengan banyaknya orang yang akan menumpanginya.

Mata kami kembali dituntun oleh naluri kelaparan. Cari-cari tempat makan, yang ada mata ini sudah kenyang duluan karena pemandangan Bandung daerah Cicalengka. Aku akhirnya tau kalo Bandung dijuluki Kota Kembang bukan karena banyak bunga-bungaan tapi karena cewek-ceweknya yang cantik-cantik kayak kembang. Dalam hati aku berharap ga ada yang “secantik” bunga bangkai!!

Kami berjalan sambil menikmati “pemandangan” (buat pacar-pacar tokoh cerita ini, tenang aja mereka ga macam-macam :D). Sampai akhirnya perut kami menemukan gerobak kupat tahu yang bersinar dengan latar suara Haaaaaaaaaaaa. Yang ini bukan teriakan kaget tapi suara backsound yang biasa di film Mr.Bean pas nemu sesuatu. Oke kita lupakan suara-suara backsound yang aku bikin sendiri ini. Kembali fokus ke kupat tahu yang kami makan. Minumnya?? tentu saja teh tawar dengan sedikit rasa sepet-sepet.

Sebelum kami berakhir tragis seperti peribahasa ‘Malu Bertanya Sesat Di Jalan’ akhirnya kami sedikit berkonsultasi sama si pemilik gerobak. Singkatnya, si Teteh ini nyaranin buat naik bus arah kota. Niat itu segera kami urungkan melihat bus-bus yang lewat penuh sesak penumpang seperti hampir meledak. Teteh yang lain memberikan usulan untuk naik patas, patas ternyata bukan mobil angkutan umum seperti kebanyakan melainkan kereta yang jalurnya langsung ke Stasiun Bandung. Sepertinya peribahasa tadi memang benar, pengen rasanya aku tambahin ‘Sok Tahu Di Jalan Katrok Jadinya’.

Kami kembali ke stasiun membeli tiket Patas serga lima ribuan. Setelah perut menuntun kami mencari makan, sekarang saatnya perut menuntun kami ke WC. Sungguh perut ini banyak maunya, dalam perjalan seperti ini sangat merepotkan.

Patas Ngos-Ngosan
Menunggu Patas yang tak kami tau wujudnya seperti apa membuat kami selalu mengacu pada peribahasa pertama. Peribahasa pertama diadaptasi menjadi ‘Malu Bertanya, Ketinggalan Kereta’. ada saja yang kami jadikan pelabuhan pertanyaan kami. Untung saja di bandung ini hanya ada dua tipe orang: Aa’ dan Teteh ga peduli tua ato muda… hahahaha.

Kami menaiki patas setelah diyakinkan oleh beberapa Aa’ dan Teteh bahwa kereta yang kami tumpangi ini benar. Kami duduk terpisah. Aku sama Shaleh, Mamank sama Thoto. Kereta ini ternyata punya sedikit masalah, beberapa kali kereta ini terdengar seperti mobil yang tidak kuat di trek tanjakan. Kereta berhenti sebentar lalu kembali terdengar lagi seperti suara mobil mogok yang ga bisa distater dan akhirnya bisa jalan lagi. Mamank mulai beraksi dengan kameranya, jepret sana sini. Aku kembali tenggelam dengan Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika. Thoto, hmmm… beberapa kali jadi model Mamank dan Shaleh masih diam setelah perut kenyang, alih-alih mengatur posisi menyempurnakan tidurnya.

Aku dan Shaleh diserobot oleh seorang Teteh dengan ukuran XL. Kebetulan tempat duduk kami memang ada sedikit lowongan tapi hanya untuk yang berukuran S saja. Aku mengalah, membiarkan Shaleh ditemani Teteh berukuran XL yang juga mengajak temannya yang berukuran S untuk duduk. Jadilah Shaleh duduk penuh penderitaan tapi tetap, tidur jadi prioritas utamanya.

Aku berdiri dengan sedikit hati-hati bersandar pada pintu kereta. Untung saja pintunya tidak terbuka lagi, sepertinya sudah rusak jadi amanlah. Mamank mendekatiku setelah duduk dengan presentase tempat duduk kira-kira hanya 30% hahaha. Dari tempatku bersandar aku memperhatikan Thoto yang juga mendapatkan presentase tempat duduk yang hampir sama bahkan lebih sedikit. Sulit dikatakan apakah dia duduk ato hanya sekedar menyandarkan bokongnya. Dengan posisi itu, Thoto berusaha untuk tafakur. Tangan diletakkan di atas pahanya, lalu kepalanya menunduk menyentuh tangan (Silakan bayangkan sendiri). Posisi ini mengingatkan aku pada saat kuliah, alih-alih kelihatan berpikir ternyata malah tidur hahaha. Seorang Teteh, yang di belakangi Thoto menggunakan posisi tidur ala anggota DPR. Duduk bersandar dengan sedikit menganga, mata sedikit terbuka. Aku sedikit aneh dengan Teteh itu dan memberitahu Mamank

“Eh, Mank… ”

“Apa??” Mamank masih sibuk liat foto hasil jepretannya.

“Itu.. liat yang di belakangnya Thoto…”.

“Kenapa??”.

“Kayaknya lagi mimpi buruk..”.

“Masa??”.

“Iya. Dari tadi tidur, tapi kepalanya geleng-geleng kanan kiri. Untuk tidak teriak-teriak ‘tidaaak… tidaaaak’ atau ‘jangaaan.. jangaaaan’. Hahahahaha”.

2 thoughts on “Ellite Backpacker 1: Bandung I’m Coming

  1. hahahaha saya paling suka istilah
    “buat pacar-pacar tokoh cerita ini, tenang aja mereka ga macam-macam”๐Ÿ˜€

    Terima kasih kak.. ceritanya cukup menggambarkan perjalanannya^^
    cukup berbeda gambaran yang kudapatkan dari suda’

    ditunggu lanjutannya kak^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s