Once Upon A Time In ASPURA

Bersih-Bersih

Suatu hari, saya ingin mandi. Menuju WC, dengan malas kutenteng handuk dan perlatan mandi yang tergabung dalam sebuah kresek Indomaret. Beberapa kali, aku masih menguap menahan beratnya kantuk. Mentari juga memberi salam hangat. Pagi itu aku masih malu untuk menatapnya, jadi kulindungi saja mataku yang masih sensitif dengan silaunya pagi.

Jalanku kulurus-luruskan saja. Tiba di WC, hidungku mendadak mengirim pesan pada si otak untuk melindungi diri dari bau yang begitu menyengat…

“Siapa lagi sudah kencing nda na siram!!”

Pagi ini diawali dengan omelan kecil. Cercaan entah kualamatkan kepada siapa pun terus meluncur cas cis cus. Kali ini giliran bak mandi dengan ulat-ulat yang menari di dalamnya. Akhirnya dengan kibaran bendera putih, aku harus menyerah pada keadaan dengan membersihkan WC yang sudah menguning dan bau pesing. Tak lupa dengan bak air bermotif cacing merah, sedikit lumut hijau kehitaman dan kotoran didasar bak dengan pola garis-garis pendek tidak beraturan.

Entah berapa lama mengurung diri di dalam WC dan membersihkannya. Untung saja aku suka bermain air.. hahaha. Cairan biru pembersih porselen bahkan tidak akan cukup hanya sebotol untuk membersihkan WC yang sudah dalam keadaan Gawat Darurat itu. Bahkan beberapa daerah tak mempan oleh tripel maut Si Sikat, Air dan Cairan Biru pembersih porselen.

Aku keluar dengan keadaan segar bugar dan meninggalkan WC dalam keadaan setengah kinclong. Ini akibat noda bandel yang tidak bisa berkompromi. Berjalan keluar melewati ruang TV, kakiku setengah jinjit. Bukan karena jijik, tapi karena debu isapan rokok dan pasir di mana-mana. Aneh saja, ketika berjalan di lantai kotor berpasir dan debu rokok. Tidak berhenti sampai di situ. Ruang TV pun seperti habis mengadakan shalat Ied dengan lembaran koran di mana-mana. Ini pun tak luput menjadi bahan omelan… Tunggulaah..

Tiba di kamar, ini menjadi prioritas untuk membersihkannya di awal kemudian di jamak dengan ruang tamu. Namun ide ini kemudian harus di revisi menjadi ‘membersihkan kamar lalu dijamak dengan Lantai 1’. Aku kemudian menjalankan ide yang telah direvisi ini (yaaa bisa dibilang dipaksa oleh keadaan).

Sapu melibas semua pasir dan abu rokok. Sekali-kali aku menarik ujung leher baju untuk menutup hidungku. Ini karena bersin-bersin akibat debu bercampur udara yang masuk menggelitik hidungku. Season kedua pun berlanjut, menggantikan posisi sapu dengan pel. Dengan modal air seember dan beberapa bungkus Molto, jadilah lantai yang dilewatinya menjadi bersih dan harum.

Ada sesuatu yang membuatku lega ketika ketika melihat semuanya bersih dan rapi. Hampir seperti yang ada diiklan-iklan, rasanya pengen baringan di lantai saja… hahaha.

*beberapa jam kemudian..*
(Situasi kembali seperti biasanya… Lantai penuh pasir, debu rokok dan dihiasi dengan jejak kaki coklat berbagai ukuran… Pemandangan yang membuatku betah di dalam kamar saja.)

Cerita di atas berlangsung selama berhari-hari di Aspura. Entah seperti apa defenisi bersih dan hidup bersih versi para penghuninya. Ketika semua itu memenuhi lantai (baca : mengotori), tak adakah sedikit pun inisiatif untuk mengabil sapu dan membersihkannya.

Heran dan tidak habis pikir sama sekali. Beberapa kali bahkan saya jadi sedikit terpengaruh. Hanya diam melihat nasib asrama yang semakin tak terurus. Tapi itikad itu kemudian gugur dengan sendirinya ketika jiwa dan badan saya terusik dengan keadaan.

Kembali mengingat beberapa waktu yang lalu, ada sebuah pernyataan menyangkut hal ini. “Jangan mengotori kalau tidak mau membersihkan”. Itu adalah salah satu pernyataan yang dilontarkan oleh slah satu penghuni asrama yang juga merasa terusik dengan keadaan asrama yag sangat membutuhkan perhatian.

Bahwa kebersihan asrama sudah menjadi KEWAJIBAN kita. Tidak hanya berbenah ketika ada tamu yang menurut kita terhormat sehingga harus disambut dengan keadaan bersih. Kenapa tidak kita tunjukkan saja kebiasaan kita yang kotor itu. WC jadi tempat sampah plastik sampo atau sabun, sabun bekas yang sudah menyusut, botol-botol sampo dan sabun bahkan puntung-puntung rokok yang teman-teman isap di WC ketika boker (sungguh jorok sekali). Itu baru di WC, di ruang tamu dan seluruh sudut asrama belum.

Saya selalu sedikit tersenyum ketika mendengar ungkapan “Asbak maneng sa tu yye..” (“Ini semua asbak”). Ungkapan ini tentu saja mengarah pada seluruh ruangan Aspura tanpa terkecuali. Artinya dengan halal membuang abu dan atau puntung rokok. saya tidak bisa memungkiri itu karena benar, disetiap sudut asrama ada saja jejak-jejak perokok aktif aspura. Sebut saja dikusen jendela ruang tamu, di samping kursi ruang tamu, di dekat pintu kamar, di ruang TV dan masih banyak lagi tempat-tempat baik yang dapat dilihat maupun di tempat yang luput dari penglihatan.

Sederhana saja, mari kita menghargai kebersihan. Kesadaran dari diri sendiri (saya yakin semuanya sadar, nda ada yang gila. hahahaha) sangat penting juga disertai dengan insiatif. Bersikaplah sedikit respek (Bukan respek-nya Sansan) dengan lingkungan sekitar. Peka dengan situasi asrama yang sudah sangat memprihatinkan. Jangan jadikan asram kita sebagai Bak Sampah yang besar dengan membuang sampah disembarang tempat.

Mengakhiri tulisan ini entah mempan atau tidak, setidaknya saya sudah menyampaikan satu ayat (heheheh)… 

“Diriwayatkan dari Malik Al Asy’ari dia berkata, Rasulullah saw. bersabda : Kebersihan adalah sebagian dari iman dan bacaan hamdalah dapat memenuhi mizan (timbangan), dan bacaan subhanallahi walhamdulillah memenuhi kolong langit dan bumi, dan shalat adalah cahaya dan shadaqah adalah pelita, dan sabar adalah sinar, dan Al Quran adalah pedoman bagimu.”(HR. Muslim)”

 

5 thoughts on “Once Upon A Time In ASPURA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s