Dubirubiruraffa : Season 2

Going from day to night
You’re all I think about
Being so pitiful and silly
What should I do?

Hmmm… ini yang memaksaku untuk berpikir. Mungkin terlihat menyedihkan dan memalukan, tapi ini memang butuh keberanian besar untuk mengakuinya.

Well, pertama melihatnya setelah sekian lama kami berpisah memang terasa sangat aneh. Aku bahkan tidak punya keberanian sedikitpun untuk hanya berkata “Hai”… Jadi ingat ingat insiden pertemuan Anang – Ashanty dengan Syahrini. Ketika itu Syahrini bahkan sempat menyapa Anang dengan salam “Assalamu Alaikum, Mas Anang” sambil berlalu.

Okay.. ini bukan tentang Kemelut Cinta Penuh Prahara dan Ilusi (ini belajar dari kata-kata ‘Silet’). Ini bukan kisah tentang Anang dan Syarini.  Entahlah, ini pantas disebut cinta atau bukan, yang jelas ini menyangkut hubungan yang sudah terlalu jauh melibatkan hati sebagai korban sekaligus pelaku utamanya.

Ada banyak hal yang tidak bisa aku mengerti. Keterlibatan hati dan perasaan yang sudah sangat dalam justru membuat ini semua semakin menjadi. Bukan karena ini dialami sepihak oleh “Kau Tahu Siapa” (yang ini bukan Voldemort). Secara sepihak mungkin dia merasa seperti itu, tapi dipihak lain yakni di tempatku berdiam sekarang ada semacam kegelisahan dan ketidakmengertian yang menuntut sebuah penjelasan logis atas semua ini.

Memang untuk bahasan semacam ini, kata-kata LOGIS memang agak jauh. Karena pertimbangan perasaan dan hati, semua yang logis bisa menjadi tidak logis begitu pula sebaliknya. Sembari mendengarkan lagu Fox Rain, beberapa adegan terbayangkan dan akulah pemerannya. Beberapa saat kudukku berdiri, dan hampir-hampir darahku berdesir entah kenapa. Ikatan dengan lagu dan juga perasaanku sedikit banyak sudah ada dan tersimpul dengan rapi.

Secara sadar, aku bahkan tidak bisa mendapatkan keputusan yang jelas atas apa yang sedang kualami. Beberapa kali aku senang, sementara sisanya adalah kesedihan, tangis dan penyesalan. Tidak selarut gula dalam teh, aku masih seperti meminum teh dengan endapan gula yang tidak diaduk. Yaa, pahit memang terasa tapi diakhir aku merasakan ada sesuatu yang manis dan itu hanya sebentar saja. Seperti itulah kira-kira. Untuk mengakuinya memang butuh keberanian yang sangat besar. Namun di sisi lain, hati ini masih menutup rapat untuk siapa pun itu. Sampai saat ini kubiarkan hatiku mengumpulkan pecahan, dan kembali utuh.

Untuk pulih, beberapa kali aku menahan diri bahkan membohongi diri sendiri. Banyak hal penyebabnya. Tapi satu hal yang selalu aku ikrarkan bahwa semoga ini bisa menjadi win-win solution suatu saat. Karena saat ini tentu salah satu pihak dan bahkan keduanya belum bisa memenangkan hatinya masing-masing. Bukan kesalahanmu atau kesalahanku ketika kita saling memberi hati dengan porsi kepercayaan yang begitu besar. Namun di akhir, kepercayaan itu kemudian dikikis habis oleh hal-hal yang membuat kita harus berpisah hingga saat ini.

Berhenti untuk menyalahkan diri sendiri mungkin bisa menghibur. Tapi ini bukan berarti salah satu pihak itulah yang menyimpan kesalahan… Aku merasa keputusan bersama yang sudah kita ambil adalah sebuah komitmen. Namun jika saat ini komitmen itu justru menyulut sebuah perasaan sakit yang dialami hati pertanyaanya, jadi harus seperti apa?

Apa yang harus saya (atau mungkin kita) lakukukan ?

2 thoughts on “Dubirubiruraffa : Season 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s