Analisis Ketidaktahuan Tentang Filsafat [Part 2]

Part 2 : Tentang Bahasa

Duduk dengan ditemani dengan segelas (besar) teh. Sesekali menyeruputnya, merasakan setiap aliran kecil yang membuat tubuhku dipenuhi sensasi kehangatan. Okay, let’s start now..!!

Manusia sebagai salah satu objek pada mulanya dianggap sebagai makhluk yang menempati posisi paling tinggi dalam kedudukannya di bumi. Narsisme manusia ini juga sejalan dengan pandangan agama atas apa yang dijelaskan dalam kitab suci agama. Sementara itu, bumi yang merupakan kewajiban atas pemeliharaan dan pengelolaannya dianggap sebagai pusat dari alam semesta. Pandangan ini kemudian disanggah oleh Galileo dengan teorinya bahwa Bumi hanyalah planet yang berputar mengelilingi Matahari sebagi pusat tata surya. Pandangan ini kemudian menimbulkan krisis keimanan terutama bagi mereka penganut ajaran gereja. Hal ini pulalah yang menimbulkan gesekan di Dunia Barat dan menyulut terjadinya pemisahan antara agama dan sains (ilmu pengetahuan).

Banyak pendapat yang semakin memperbesar jarak pemisah antara agama dan ilmu pengetahuan. Seperti Teori Evolusi yang diungkapkan oleh Darwin. Teori ini menimbulkan penafsiran baik positif maupun negatif yang banyak mempengaruhi banyak pemikiran masyarakat dan ahli sejarah pada masa sebelum dan sesudah teori ini. Pemisah jarak selanjutnya disumbangkan oleh Freud yang menyatakan bahwa manusia hanyalah Makhluk Bumi yang dipenuhi dengan hasrat dan libido sementara Tuhan hanyalah ilusi belaka.

Lalu bagaimana Islam memandang hal ini?ย 
Manusia dengan kontrak kehidupannya kepada Tuhan ditiupkan roh oleh-Nya. Itu adalah penggambaran dalam Al-Qura’an. Tuhan juga telah menjanjikan berbagai kenikmatan entah itu di dunia maupun dikehidupan selanjutnya. Berbanding terbalik, sebagai konsekuensi atas ketaatan, Tuhan memberikan penghakiman atas tindakan manusia. ย Dalam al-Qur’an juga sudah disebutkan bahwa akan ada dimensi yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu yang merupakan tujuan akhir kita sebagai manusia. Dengan begitu, sejatinya manusia akan hidup dalam satu alam yang merupakan tujuan hidupnya, kembali kepada Tuhan yang telah meniupkan roh-Nya. Memenuhi kontraknya sebagai manusia yang mengabdi kepada-Nya.

Apa yang saya tuliskan ini sebenarnya sederhana saja. Hanya dengan melakukan kegiatan membaca, memahami dan menuliskannya kembali. Terlalu cepat mungkin untuk saya melangkah untuk pembahasan ini sementara beberapa tahapan harus saya tinggalkan.

Beberapa yang membaca hasil interpretasi atas apa yang saya baca dan pahami mungkin tidak akan memahami apa yang saya tulis. Itu adalah usaha saya yang sedang belajar untuk menulis sesuatu tentang filsafat. Yang akhir-akhir ini membuat saya perlahan tertarik dengan istilah-istilahnya yang tidak mudah dicerna oleh otak saya yang pas-pasan. Begitu juga dalam berbahasa.

Well, sebenarnya ini hanya bentuk inspirasi saya ketika saya sedang menonton TV. Adalah Yovie Widianto (maaf kalo salah nama… pokoknya yang Yovie and The Nuno itulaah maksud saya) dalam talkshow-nya bersama Raditya Dika. Talkshow yang bertajuk Idenesia, Ide Untuk Indonesia ini membahas tentang Bahasa Indonesia yang semakin tergerus oleh bahasa-bahasa prokem atau sebut saja bahasa gaul.

“Bahasa itu ada karena ada pengelompokan dalam masyarakat itu sendiri. Ketika banyak yang berkoar “Gunakan Bahasa Indonesia dengan Baik”, tapi di sisi lain yaa bahasa seperti inilah yang kita gunakan sehari-hari. Ga mesti baku, yang penting maksudnya bisa dimengerti. Itu aja,” ungkap penulis Kambing Jantan ini.

Yup. Kembali kebahasan sebelumnya. Saya menggarisbawahi kata pengelompokan dan bisa dimengerti dari ungkapan Raditya Dika di atas. Tidak ayal memang, ketika dalam golongan tertentu kita dituntut untuk bisa menyesuaikan diri, termasuk dalam urusan berbahasa juga. Dalam berbahasa yang paling utama kan bisa dimengerti. Urusan jenis bahasa apa yag dipakai itu belakangan.

Ini kemudian membuat tancapan di hati saya (Jleb..!). Banyak orang berbahasa dengan formal, istilah-istilah ilmiah populer yang membuat kita berbicara jadi menganga ga ngerti. Yaa begitulah. Ternyata dibalik itu semua ada semacam narsisme dan pengakuan diri dalam bahasanya. Mau dibilang intelek laah, mau dibilang gaul laah, mau dibilang bule karena ngomongnya ala-ala Cinta Laura laaah. ย Ya banyak sih… tapi ga semuanya begitu juga.

Terkadang ini juga terjadi pada saya. Berlagak sok mengerti tentang bahasa yang saya gunakan, tentang apa yang saya ucapkan. Tapi ternyata, saya juga tidak tahu apa artinya. Hahaha… yaaa sama. Motifnya buat mendapat pengakuan diri. Namun sebelum itu berlanjut, ada baiknya itu saya putus dari sekarang. Sebelum satu forum menertawakan kita karena kesalahan bahasa yang kita gunakan. Intinya sih ngomong apa yang kita ngerti aja… itu aja sih sebenarnya. Yang pentingkan apa yang kita sampaikan bisa dipahami orang yang mendengar….๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s