Mekanisme Pasar Dalam Islam

Dalam Ethics and Economics an Islamic Synthesis, Syed Nawad Haider Naqvi (1981) mengungkapkan bahwa Islam tidak pernah bertentangan dengan essensi manusia sebagai mahkluk yang memiliki kebebasan. Manusia diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan guna mendapatkan kebutuhannya secara optimal. Dalam kebebasannya untuk memenuhi kebutuhan, manusia berhadapan dengan manusia lain yang juga memiliki derajat kebebasan yang sama dalam memenuhi kebutuhan. Bila antara manusia melanggar batas kebebasan kebutuhan antara sesamanya maka akan terjadi konflik. Konflik akan merugikan bagi manusia, bila hal ini terjadi maka manusia akan kehilangan peluang untuk mendapatkan kebutuhan yang diharapkannya. Oleh karenanya manusia berusaha menjauhi konflik melalui cara-cara tertentu sebagai usaha untuk menghindari kerugian seminimal mungkin dan pendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dalam “mengekspresikan kebebasannya”. Cara-cara tersebut relatif konsistensi dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan penandaan bagi manusia untuk memformulasikan  dalam bentuk teori-teori, maka berkembanglah teori konsumsi, teori produksi dan teori lainnya.

Sebagaimana diungkapkan Milton Friedman (1972) dalam Capitalism and Freedom, bahwa manusia tidak bisa bebas, karena kebebasan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dibatasi kebebasan manusia lain. Kita tidak hanya berhubungan dengan manusia yang kita kenal di satu kampung tetapi juga di lain kampung, di lain daerah dan di lain negara yang mempunyai pemahaman terhadap kebebasan dalam memenuhi kebutuhan yang berbeda. Selain itu manusia juga berhubungan dengan alam semesta dengan segala isinya, yang juga memiliki “kebebasan” yang berbeda dengan manusia. Manusia tidak bisa menafsirkan kebebasan sekehendak dirinya, kebebasan manusia dalam kehendak kebebasan yang menciptakan kebebasan manusia itu sendiri, Allah SWT, Sang Maha Berkehendak.

Adanya pasar, karena aktualisasi manusia dalam menginterpretasikan kebebasan yang dimilikinya. Oleh karena itu, karakter pasar tidak dipisahkan sikap-sikap manusia dalam memahami kebutuhannya. Secara tidak langsung Islam mengakui pasar bebas, artinya pasar merupakan implementasi dari kemanusiaan manusia—yang terbatas oleh ruang dan waktu, dan ini menimbulkan kecenderung yang tidak sama antara pemahaman manusia di satu wilayah dengan wilayah lain—. Oleh karena itu pasar bebas tetap mengakomodasikan berbagai masalah kemanusiaan yang mempunyai potensi berbeda. Dan ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia tidak bisa memaksakan bentuk “sistem ekonomi” kepada orang lain dengan alasan sistem tersebut terbukti baik dalam suatu wilayah tertentu. Sebagaimana Amerika tidak bisa melegitimasi sistem ekonomi kapitalisme ala Amerika-nya sebagai sistem yang ideal di negara lain, seperti di Indonesia.

Karena manusia tidak bisa menjawab sistem ekonomi yang ideal bagi kehidupannya maka manusia perlu pedoman guna dijadikan petunjuk dalam membangun suatu sistem yang akomodatif terhadap masalah kemanusiaan. Al-Quran, sebagai firman Allah SWT, penguasa alam semesta beserta isinya dan hadist Rasulullah SAW, sebagai utusan Allah SWT menjadikan bahan yang presentatif untuk dijadikan pedoman membangun sistem ekonomi yang lebih ideal. Dengan begitu kebebasan pasar, masuk dalam teritorial kehendak Allah SWT, bukti bahwa mekanisme ekonomi yang berjalan di dunia ini atas kehendak Allah SWT manusia tidak mengetahui kerumitan yang ada dalam kehidupan ini demikian juga kerumitan-kerumitan yang ada dalam ekonomi. Terbukti, jumlah pakar ekonomi yang bergelar Profesor, Doktor ataupun Master semakin banyak di bumi ini tetapi tidak semakin banyak masalah ekonomi masyarakat yang dapat diselesaikan. Artinya manusia tidak bisa menyelesaikan kerumitan-kerumitan yang ada di dalam ekonomi.

Kerumitan ekonomi tersebut dalam kekuasaan Allah, Allah SWT yang menentukan masalah di balik kehidupan (ekonomi) masyarakat, dan manusia tidak berkuasa atas kerumitan ini. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Waqqi’ah (68) ayat 68-69, “Adakah kamu lihat air yang kamu minum? Kamulah yang menurunkan nya dari awan atau Kamilah yang menurunkannya ?”. Allah juga yang mengatur kebutuhan mahluk hidup, dalam surat al-Hijr (15): 19-20 “Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup dan (kami menciptakan pula pula makluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pembeli rejeki kepada-Nya)”. Demikian juga dalam surat Huud (11) ayat 6 Allah SWT berfirman “Dan tak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah yang memberikan rejekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat menyimpannya. Semakin tertulis dalam kita yang nyata (Lauh Mahfud).

 

Ekonomi Kebebasan.

Pengakuan akan ketidakberdayaan manusia dalam mengatur ekonomi diakui oleh Adam Smith (1723-1790) yang dianggap pelopor pasar bebas—dan akhirnya sejarah menyebut kapitalisme. Walaupun saat ini “kecemerlangan” Adam Smith sebagai seorang ekonom terdistorsi oleh praktek pasar bebas yang lebih berorintasi pada usaha untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan individual. Walaupun sebenarnya, belum tentu praktek kapitalisme saat ini seperti apa yang dibayangkan oleh Adam Smith pada jamannya, apalagi kemunculan pemikirannya mengenai pasar bebas merupakan kritik atas sistem ekonomi Merkantilisme pada saat itu. Jadi tidak perlu kita secara serta merta memposisikan Adam Smith menjadi suatu “tesis” dan sistem ekonomi Islam—yang berdasarkan al-Quran dan al-Hadist—sebagai “antitesis” dari “tesis” Adam Smith, itu sama halnya dengan menyamakan posisi pemikiran Adam Smith—sebagai manusia biasa— dengan al-Quran dan al-Hadist. Apalagi Adam Smith mengakui keberadaan Sang Maha Penentu Pasar— Allah SWT— yang dimetaforsiskan dalam bentuk “tangan gaib”.

Menurut Amartya Sen (1985) dalam the Moral Standing of the Market dalam Ethics and Economics, pasar bebas adalah sistem ekonomi yang baik karena menjamin secara cukup baik hak-hak setiap orang, hak atas hidup, atas kebebasan, atas pribadi. Adam Smith pun membela pasar bebas karena alasan-alasan yang diungkapkan Amartya Sen; keadilan. Walaupun Adam Smith tidak berprentensi bahwa pasar bebas akan menjamin sepenuhnya suatu keadilan ekonomis dan distribusi. Akan tetapi Ia percaya bahwa dengan mekanisme “tangan gaib” sistem ekonomi pasar bebas pada akhirnya tidak hanya akan menjamin hak-hak individu melainkan juga akan menciptakan suatu kehidupan ekonomis yang lebih baik. Sebagaimana dikatakan Adam Smith (1982) dalam The Theory of Moral Sentimen“mereka dipimpin oleh tangan gaib untuk melakukan distribusi kebutuhan-kebutuhan hidup secara hampir sama dengan yang akan dilakukan jika bumi dibagi sama rata di antara semua penduduk dan karena itu tanpa bermaksud melakukannya, tanpa mengetahuinya, mereka memajukan kepentingan masyarakat. Dan menyediakan sarana-sarana untuk melipatgandakan mahluk manusia “

Dalam An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations atau dikenal dengan The Wealth of Nation, Adam Smith (1985) mengulang fenomena “tangan gaib”, Adam Smith mengemukaan pandangan bahwa sesungguhnya aktifitas manusia tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap kepentingan pribadi. Melalui kepentingannya sendiri lebih sering memajukan kepentingan masyarakat jauh lebih efektif daripada seandainya ia memang bermaksud mencapai kepentingan masyarakat tersebut. Dari pernyataan di atas Adam Smith ingin mengatakan bahwa ada suatu kecenderungan kodrati dalam sistem sosial yang bekerja tanpa diketahui untuk memajukan kesejahteraan masyarakat. Ini berarti bahwa kesejahteraan sosial dicapai oleh pasar bebas hanya sebagai produk sampingan, sebagai konsekuensi yang tidak dimaksudkan dari kegiatan manusia, tentu saja dengan ini tidak berarti bahwa konsekuensi ini tidak direncanakan. Sebaliknya konsekuensi yang menguntungkan ini memang telah direncanakan, tapi bukan direncanakan oleh setiap individu melainkan oleh pencipta alam.

Sebagaiman dikatakan Adam Smith, semua peristiwa di dunia ini dibimbing oleh Yang Maha Berkehendak ; Allah SWT yang bijaksana berkuasa, kita boleh yakin bahwa apapun yang terjadi hal itu dimaksudkan bagi kejayaan dan kesempurnaan semua. Tetapi tidak berarti Allah SWT tidak turut campur langsung, campur tangan Allah SWT melalui tangan manusia. Menurut Campbell sebagaimana dikatakan Hegel (1975) dalam Lectures on the Philosophi of the Wordh History“tangan yang dimaksud adalah tangan seorang perancang atau pencipta mesin dan bukan tangan seorang mekanis yang setiap saat turun menyelamatkan mesin ketika ada kerusakan”

 

Pandangan Pemikir Muslim

Relevan dengan apa yang di pikirkan Adam Smith tentang pasar, 10 abad sebelumnya, Al Ghazali (1058-1111) menangkap adanya sesuatu yang tidak bisa dikendalikan manusia dalam pasar, karena sebenarnya pasar mempunyai “kehidupan” sendiri. Dalam Ihya Ulumuddin Al-Ghazali mengatakan, “Dapat saja petani hidup di mana alatalat pertanian tidak tersedia, sebaliknya pandai besi dan tukang kayu hidup di mana lahan pertanian tidak ada. Namun secara alami, mereka akan saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Dapat pula terjadi tukang kayu membutuhkan makan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat tersebut atau sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak dan tempat penyimpanan hasil sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga terbentuklah pasar. Petani tukang kayu dan pandai besi yang tidak dapat langsung melakukan barter juga terdorong pergi ke pasar ini. Bila di pasar juga tidak ditemukan orang yang melakukan barter, ia akan menjual pada pedagang dengan harga yang relatif murah untuk kemudian disimpan sebagian persediaan. Pedagang kemudian menjauhnya dengan suatu tingkat keuntungan. Hal ini berlaku untuk setiap jenis barang”

Secara eksplisit al-Ghazali mengatakan bahwa ada pihak ketiga yang mengatur hubungan di antara satu manusia dengan manusia lain. Pihak ketiga tersebut adalah Allah SWT yang menciptakan nurani (atau hasrat) di dalam diri manusia untuk tetap bertahan hidup. Bukan suatu kesengajaan bahwa timbulnya pasar dikarenakan hubungan manusia, tetapi lebih merupakan bagian dari usaha untuk memenuhi nurani itu sendiri. Sehingga di balik keteraturan pasar masih tersisa sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh manusia— sebagai pelaku yang ada di dalamnya. Oleh karena sampai sekarang belum ada teori yang benar-benar bisa menjawab secara tuntas tentang masalah-masalah yang terjadi di dalam pasar. Walaupun teori-teori tersebut di ambil dari masalah-masalah yang ada di pasar, tetapi penyelesaian masalah hanya dalam kerangka positivismaided, misalnya jika inflasi meningkat, bunga harus dinaikkan, maka bila bunga naik bertanda adanya inflasi. Bila bunga naik investasi turun, maka bila investasi turun bertanda bunga naik. Kesimpulannya untuk menaikkan investasi maka inflasi harus turun, karena turunnya inflasi menjadikan bunga turun maka investasi akan naik. Oleh karena itu penyelesaian ini tidak akan mampu mendeteksi secara proporsional masalah-masalah ekonomi yang dipengaruhi oleh masalah sosial, politik, dan budaya.

Bila ada ada suatu teori yang mampu mengatur mekanisme pasar secara sempurna maka tidak akan ada masalah ekonomi, sosial, politik maupun budaya yang menyebabkan timbulkan kerusakan, kerusuhan, diskriminasi, dan lain sebagainya. Manusia hanya bisa menidentifikasi, meklasifikasi, meverifikasi masalah-masalah ekonomi yang ada di masyarakat. Manusia tidak bisa mevonis adanya satu-satunya alternatif teori untuk memecahkan masalah–masalah ekonomi— sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan pemikir ekonomi saat ini—. Oleh karena itu salah satu pemikir ekonom Muslim, Ibnu Taimiyah (1263-1328) menyebutkan keterlibatan Allah SWT tidak bias dielakkan dalam teori ekonomi. Seperti dinyatakan dalam al-Hisbah wa Ma’ uliyah al- Hukumah al-Islamiyah atau Al-Hisbah fi’ l-Islam (1976), Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika penduduk menjual barang mereka dengan cara umum yang diterima, bukan karena ketidakadilan pihaknya, harga akan menurun sebagai konswensi dari penurunan jumlah persediaan barang itu atau meningkat jumlah penduduk, semuanya karena Allah SWT”

Ada hak manusia untuk menentukan jalan perekonomiannya tetapi di lain pihak manusia tidak bisa mengatur sepenuhnya jalannya perekonomian yang ada, terbukti dari banyaknya distorsi dalam sejarah perkembangan perekonomian yang tercatat dari jaman dulu sampai sekarang. Ada saja celah kesalahan teori-teori ekonomi di dalam memberikan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ini bertanda bahwa perekonomian sebagai bagian dari kehidupan yang tidak sepenuhnya mampu di kuasai manusia. Dan siapa lagi yang menguasainya kecuali yang menciptakan itu semua, Allah ta’ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s