[Masih] Menanti Subuh

4 Januari 2012
3:26 waktu laptop.
Udara dingin mulai berhembus sejuk beraroma basah. Namun ini bukan satu-satunya udara sejuk yang aku rasakan. Aku menciptakan udara sejuk itu dalam kamar setengah penuh kegelapan. Ya… hanya penerangan monitor laptop yang membuatku masih bisa melihat sekarang.

Ku kenang hariku hingga saat ini. Ada senyum kecut di wajahku. Senyum yang menandakan bahwa ada sesuatu dihariku, berbaur dan membentuk senyum kecut. Senyum karena hari ini aku masih bisa mengayuh roda otakku sehingga bisa berpikir dan menulis. Kecut karena ada momentum kecil yang membuat hatiku mencelos perlahan. Tapi tak apalah… biarkan saja. Aku bisa membentuk hatiku kembali utuh, hanya dengan sedikit cinta, kekuatan dan kemauan.

Punggungku berkeretak menunggu subuh. Seharian menjalani banyak aktivitas dengan punggung menegak membuat tulang punggungku menopang beban tubuh yang masih kuat menatap hidup. Sesekali tubuh ini membungkuk meratapi hidup yang terasa tidak adil mungkin. Tapi begitulah… bukankah adil tidak harus sama banyak, sama berat dan sama besar? Disetiap waktu, tubuh ini mencium tanah pijakan, pertanda kerendahan diri atas Sang Pemilik Jiwa, yang Maha Membolak Balikkan Hati. Di sana, aku belajar banyak tentang arti kejujuran, kepatuhan danpengabdian yang sesungguhnya. Sungguh, hatiku kembali mencelos malu mengakui segala keangkuhan diri yang merebak. Mempertontonkan diri dengan sesuatu yang tak hakiki.

Terlalu liberal aku melihat diriku tanpa pernah menyadari kepastinya jiwaku yang mungkin saja berakhir saat ini. Kutundukkan kepala, masih menanti subuh. Menanti panggilan-Nya yang bergema disegala penjuru dunia yang akan merasakan hangatnya sinaran mentari. Kubiarkan diriku berpeluh dalam perjalanan menuju pengakuan dosa. Pengakuan oleh hati ke hati. Menyentuh bagian lazuardi memohon pemutihan catatan penuh dari sebelah kiri.

 Masih menanti subuh. Belum ada pertanda dari terompet alam bahwa subuh telah tiba. Tapi aku bisa mencium kehadirannya sudah ada disekitar sini. Tidakkah kau lihat di ufuk sana sudah mulai matahari sudah bosan berada dibalik gunung. Seperti itulah hidup, akan berawal di ufuk timur dan menepi di ufuk barat. Saat ini matahari kehidupanku entah berada di mana… mungkin berada tepat diwaktu bayangku sudah menghilang. Entahlah… itu rahasia di Arsy sana.

3 thoughts on “[Masih] Menanti Subuh

    • cinta akan selalu terbit.. menyinari kekosongan jiwa dan memenuhi separuh hati yang masih kosong. dan jika saatnya cinta itu akan kembali keperaduannya… biarkan dia berlabuh dengan indah bersama jingganya lukisan mentari

  1. saat kau buka matamu,kau akan lihat betapa indahnya dunia.. rasakan nikmat yang Dia berikan.. rasa cinta, kasih sayang merupakan rahmatNya..tersenyumlah maka harimu akan bahagia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s