Distorsi Realitas Lapangan

Siapa yang tak kenal Steve Jobs. Pemuda yang telah merubah industri computer yang bergelut dengan angka dan mesin menjadi sebuah industri kreatif yang dengan produk-produk yang elegan dan futuristic. Pada umurnya yang masih muda, dia bersama Wozniak dan Markulla berhasil menciptakan masa depan baru di dunia computer. Buku setebal 728 halaman ini memuat tentang biografi Steve. Adalah Walter Issacson, seorang penulis biografi yang merupakan mantan manajer editor majalah Time dan juga pernah menjadi pimpinan CNN.

Saya baru menyelesaikan sepertiga biografi Steve Jobs. Sebanyak 200 halaman yang saya baca, kesulitan yang paling terasa adalah memahami berbagai istilah dalam dunia komputer dengan sumber wawancara yang acak, memahami makna kalimatnya (karena biografinya merupakan terjemahan) dan juga quote Steve yang sangat menakjubkan.

Satu hal yang menarik bagiku adalah istilah Jobs mengenai Distorsi Realitas Lapangan. Distorsi realitas lapangan diartikan sebagai usaha untuk memutarbalikkan suatu fakta atau aturan, penyimpangan, perubahan yang tidak diinginkan. Dalam berbagai dialog hasil wawancara Walter dengan berbagai nara sumber, baik itu Jobs sendiri maupun orang-orang yang pernah dekat dengannya, beberapa menyatakan bahwa itu adalah usaha Jobs yang tidak mau menerima kenyataan yang dihadapinya. Misalnya Jobs tidak pernah mengakui Abdulfattah sebagai ayah biologisnya. Namun disisi lain dia tetap menganggapnya sebagai seorang ayah, walaupun hanya sebagai ”bank sperma”, tidak lebih.

Distorsi realitas lapangan yang dialami Jobs adalah suatu upaya penolakan yang dilsayakan olehnya atas segala situasi yang tidak sejalan dengan apa yang diinginkannya. Terkadang upayanya ini cenderung tidak hanya membohongi orang lain namun juga membohongi dirinya sendiri. Ada semacam self defence yang dibuatnya untuk membentengi dirinya dari hal-hal belum siap diterimanya. Karena itu Jobs membuat sebuah kondisi menggantikan fakta yang sebenarnya. Upaya ini berhasil merubah pola pikir orang-orang disekitarnya namun ketika Jobs pergi, kenyataan kembali ke posisi di mana seharusnya dia berada.

Jobs juga sangat perfeksionis. Beberapa usaha dari teman sekerjanya hanya dia sebut sebagai sampah ketika itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Suatu ketika Jobs mendengarkan ide orang lain, dia bisa menganggap itu sebagai sampah yang tidak penting. Namun dia bisa menjadi berubah 180 derajat dengan mengatakan bahwa itu adalah idenya kepada orang yang memberinya ide tanpa menyadari bahwa dia pernah memilliki pendapat yang berbeda. Distorsi realitas lapangan Jobs merupakan perpaduan mengagumkan antara gaya retorika yang karismatik, kemauan yang tak terkalahkan, dan keinginan untuk mengubah fakta apapun agar sesuai dengan tujuan yang ada

Untuk beberapa karyawannya yanng bekerja sebanyak 90 jam dalam satu minggu, ini adalah sebuah tekanan. Tapi Jobs selalu berhasil meyakinkan apa yang diingkannya ini bisa terwujud. Jobs selalu memberikan analogi yang sangat cerdas dan membuat mereka menjadi bersemangat.

Ketika timnya mulai merakit Macintosh, papan sirkuit yang dibuat telah sempurna. Namun Jobs yang begitu perfeksionis, Jobs justru mengkritiknya dari sisi keindahan. ”Bagian itu (papan sirkuit) sangat indah. Namun, lihat chip memorinya. Jelek sekali. Garisnya terlalu berdekatan,” ujarnya. Salah seorang insyinyur pun bertanya mengapa hal itu menjadi penting karena menganggap tak ada yang akan melihat bagian dalam itu. Jobs menjawab dengan memberikan analogi, ”Jika kau seorang tukang kayu yang membuat lemari yang berlaci indah, kau tidak akan menggunakan selembar kayu tripleks untuk bagian belakangnya, meskipun itu menghadap ke dinding dan tak seorang pun melihatnya. Kau tahu bagian itu ada sehingga kau akan menggunakan kayu yang bagus untuk bagian belakangnya. Agar kau bisa tidur nyenyak  pada malam hari, keindahan, kualitas harusdiperhatikan sepanjang waktu.”

Jobs menerapkannya juga kepada Sculley. Sculley yang saat itu masih bekerja sebagai eksekutif Pepsi direkrut Jobs untuk menjadi CEO Apple. Setelah pendekatan yang dilsayakan Jobs, hanya dengan mengatakan ”Apakah kau ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan menjual air bergula, atau apakah saya ingin memiliki kesempatan mengubah dunia?” pertanyaan itu membuat Sculley tak mampu menolak untuk bergabung dengannya. Orang-orang yang bekerja dengannya sudah sangat terbiasa dengan hal itu. Saat bergabung bersamanya, Jobs memuji Sculley secara berlebihan. Memuji hal-hal yang tidak pernah dilsayakan oleh Sculley yang akhirnya membentuk distorsi realitas lapangan pada Sculley. Saat distorsi realitas itu tampak jelas, hal inilah yang menyulut perselisihan di antara mereka.

Apa yang dilakukan Jobs adalah sebuah upaya untuk memberikan sugesti kepada dirinya sendiri. Sugesti untuk membangun pikirannya dan pikiran orang lain untuk membentuk fakta baru dengan menggantikan fakta yang terjadi sekarang dan membuatnya berlsaya saat itu juga. Hipotesis yang saya dapatkan adalah Jobs melakukan sesuatu tanpa mengenal kata ”mustahil” dan ”tidak mungkin”. Segala apa yang dipikirkannya berusaha dia wujudkan bahkan secara opurtunis sekalipun. Dalam biografinya diungkapkan bahwa dia menyukai sebuah pepatah ”Seniman pintar, meniru. Seniman hebat, mencuri. Dan kami tidak pernah malu mencuri ide hebat”. Mencuri dalam artian buruk seperti yang kita pikirkan. Salah satu kemampuan Jobs adalah retorika karismatik yang dimilikinya yang mampu mempengaruhi orang lain memasuki distorsi realitas lapangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s