Berkah Banjir

Kampung halamanku selalu kurindukan di tanah rantau. Terakhir aku ke sana dua tahun yang lalu. Ada banyak hal yang istimewa di sana. Salah satunya adalah banjir. Tempat tinggalku di Sengkang, Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Kabupaten yang terkenal dengan Danau Tempe-nya. Danau yang dulu berfungsi menbahan debit air dari berbagai muara sungai. Danau Tempe semakin hari semakin dangkal dan akibatnya, banjir pun tak dapat dielakkan.

Aku tak tahu sejak kapan banjir mulai menghuni daerahku, Kota Sengkang yang juga terkenal dengan suteranya. Yang aku ingat, sejak aku kecil, aku belajr berenang ya pada saat banjir itu. Dengan memeluk anak tangga sambil mengayunkan kaki satu per satu. Seperti benar-benar berenang. Aku pun besar dan bisa berenang karena banjir yang tiap tahun sudah menjadi agenda rutin di kotaku.

Rumahku yang dekat dengan hulu sungai memang sangat berpotensi untuk terendam bah banjir. Tidak hanya 2 atau 3 hari. Tapi ini bisa menjadi sebulan atau bahkan dua bulan lamanya. Tiap musim hujan tiba, banjir sudah menjadi barang tentu terjadi pada daerah. Rumah-rumah kami pun sudah menyesuaikan dengan keadaan. Rumah-rumah kami adalah rumah panggung dengan tiang-tiang yang tinggi.

Little Venice

Mungkin karena terbiasa dengan keadaan, kotaku berubah menjadi “Little Venice”. Rumah – rumah panggung tiba – tiba berubah menjadi rumah terapung. Suansana romantis ala Venesia pun bisa ditemui di sana. Jika di Venesia sana mereka menggunakan gondola, kami menggunakan perahu sampan dan juga perahu yang terbuat dari beberapa batang pohon pisang yang disatukan dengan kayu atau bambu. Kami menyebutnya “buraq”.

Aku masih ingat betul. Saat – saat seperti itu, kami bermain perahu sampan. Ada dua orang yang bertugas sebagai pendayung, semetara seorang lagi bertugas menyeroki air yang masuk ke dalam sampan. Selain karena sampannya memang bocor, air juga kadang-kadang masuk melalui tepian sampan ketika sedang oleng. Hahaha sungguh pengalaman yang sangat mengasyikkan. Bahkan tak jarang sampan yang kami tumpangi mendadak terbalik karena oleng. Oleng yang kami buat dengan sengaja dengan mengoyang –goyangkan tepian sampan.

Mengalahkan Water Park

Ada satu hal lagi yang sangat unik dari kotaku ketika banjir melanda. Mendadak kotaku mengalahkan seluruh permandian sekelas water boom ataupun water park yang ada di manapun. Dari berbagai penjuru kampung datang berbondong-bondong bahkan dengan truk dan bus hanya untuk bermandi-mandi ria. Bermain air sambil menikmati matahari sore hingga sunset. Sungguh pemandangan yang sangat tidak biasa dijumpai di kota lain.

Bagiku, banjir yang tiap tahun melanda sudah membuatku kebal dengan keluhan-keluhan. Bahkan banjir disambut dengan riang gembira oleh beberapa orang. Banjir seakan membawa berkah. Kesedihan memang ada, namun itu segera terhapus seketika saat melihat bahwa banjir justru membawa kesenangan bagiku dan bagi mereka yang ingin sekedar melihat sisi lain di balik banjir yang orang-orang selalu keluhkan di Jakarta sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s