Padang Garuda

Siang hari…
Tak kusangka akan turun hujan
Dulu bahkan tak pernah ada musim hujan
hanya sekali-sekali
Setiap hari selalu bersemi
tak pernah layu untuk pergi

Tapi kali ini berbeda
Awan mendung kian merenda
merenda langit yang tengah gundah
gundah ditinggal sang garuda

satu persatu
kembang kembali kuncup
tak ada Nur yang sayup
terangi dunia yang kini tak utuh

Aku tertegun mendengar syair yang begitu miris. Aku bahkan bisa melihat Sang Garuda pergi mengepakkan sayapnya yang lebar. Padang yang hijau kini perlahan layu. Di beberapa daerah bahkan meninggalkan lubang hitam karena kering. Matahari tak lagi sayup mengunjungi. Tanpa Sang Garuda yang memeluk semua menjadi kering.

Coba lihat itu, Sang Garuda tidak pergi! Dia tetap berputar-putar di atas padang. Setidaknya begitu yang kulihat. Dia tak ingin pergi begitu saja. Padang yang dulu dia tinggali telah memberi banyak anugerah baginya. Sang Garuda terus berputar, membentangkan sayap lebarnya.

Sepertinya akan lama. Sang Garuda memng lama terbang berputar. Tak ingin pergi begitu saja. Meninggalkan padang yang pasti akan tandus. Hanya dia sendiri, hingga saat ini. Tak ada garuda lain. Hanya satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s