Terima Kasih Cinta

Berawal dari sebuah es lilin kacang ijo… Kenangan kecil yang kini kembali bangkit. Begitu banyak cerita kecil dan juga cerita remaja yang kita jalani bersama. Semua berjalan going with the flow, hingga akhirnya salah satu dari kita merasakan ada sesuatu yang lebih dari persahabatan yang terjalin. Mungkin terlalu cepat untuk memutuskan bahwa itu adalah cinta.

Ketika bersamanya, waktu memang serasa berhenti berputar. Kenapa?? karena saat itu jam di rumahmu ternyata mati.. hahahaha. Lucu memang, tapi itulah yang membuatku merasa waktu benar-benar berhenti ketika bersama. Setidaknya, itu saat di rumahmu.

Aku mengutuk keberadaan handphone yang begitu canggih, mengalahkan surat-suratan yang sering kita selipkan dibuku… Masih ingatkah? Hmmmm senyum mengembang saat mengingat itu. Sungguh, persahabatan kita ini telah dirayapi oleh sesuatu yang aneh.

Hormon ini meningkat membuat kita tertawa bahagia. walaupun kau suka benang kusut yang tak bisa kau urai jadi benang yang rapi… tapi tidakkah kau lihat benang merah yang semakin terlihat jelas untuk merapikan benang kusut ini???

CEMBURU

Pertama kalinya aku merasakan cemburu itu karena kau. Kau yang menyebabkan perasaan yang tidak enak ini begitu menyiksa. aku masih berpikir, kenapa cemburu itu melambangkan cinta padahal rasanya begitu menyakitkan.

dan untuk terakhir kalinya kecemburuanku padamu, semua berakhir petaka. Kita berpisah, dan sejak itu dunia kita menjadi terpisah jauh sekali. Ini jam 12.07 pm, dan rasanya seperti kehilangan sahabat. Aku yang memulai kecemburuan ini dengan sangat sulit harus aku akui bahwa aku merindukanmu. Merindukan tawamu yang renyah.., merindukan permainan rambutmu, merindukan permintaan manjamu, merindukan semua tentang dirimu.

Sejenak aku memikirkanmu, semua seperti hadir kembali. Seperti baru saja berlalu kemarin. Satu-satunya yang tersisa darimu hanya dasi totol putih yang kau berikan sebelum kau pergi tanpa izin. aku selalu mengingat pesanmu untuk selalu menggunakannya disaat harus menggunakannya. hahahaha entah sudah kusimpan di mana bungkusan biru dengan pita merah yang membungkusnya dulu. Kau ingat? warnanya yang kontras seperti kompor yang menyala-nyala… Saat itu, kau memberikannya sembunyi-sembunyi di kantin bawah. setelah itu kau pun pergi sama seperti kau memberikan dasi itu. Dengan sembunyi-sembunyi.

SEKARANG

Melupakan semua kebodohan dan kekanak-kanakanku dengan satu kata maaf sudah membuat kita kembali seperti dulu. Ucapan terakhirmu sebelum kita berpisah adalah perasaanmu bukan lagi perasaan antar seorang teman, tapi perasaan antara seorang pria dan wanita. Aku ingin semua seperti dulu. Masalah perasaan belakanganlah, yang pasti perasaan yang aku simpan dan aku ungkapkan pertama kali ketika 17 Agustus akan selalu aku tunggu jawabannya hingga kapanpun. Aku tidak pernah meminta apa pun selain jawaban atas pertanyaanku. Menunggumu adalah satu-satunya hal tersulit yang tak mampu aku selesaikan hingga saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s