MIRROR : Almost Four Year-Reflection

Aku terbangun

mimpiku hilang lalu tertegun

Kulihat diriku…

masih sama seperti saat aku tertidur

masih utuh…

Mataku langsung nanar ketika terbangun. Beban besar langsung menghinggapi pundakku pelan, satu per satu. Tak ada yang aneh karena beban ini sudah ku bawa sudah hampir 4 tahun. Aku memang datang sendiri di sini. Tapi aku selalu nasehat petuah orang tua selalu mendampingiku hingga disudut Jogja sekalipun.

Mataku sedikit panas. Mengingat mereka di sana, sungguh ku ingin pulang memeluk mereka dengan pelukan paling erat dan penuh kasih yang aku miliki. Sekian lama aku tak merelakan hati untuk menghubunginya bukan karena kesombongan yang aku miliki. Tapi lebih karena rasa malu yang begitu besar yang mengalahkan segala-galanya. Ciuman terakhir sebelum kepergianku dulu mulai menghilang kehangatannya. Tapi maafkan anakmu ini, belum saatnya daku pulang untuk membalas jerih payahmu.

Seketika, skripsi yang ada dihadapanku masih dalam status waiting for confirm dari pihak bank masih menghantuiku. Kepalaku sibuk mengurai benang kusut yang berputar di dalam. Tugasku belum selesai. Aku tidak mungkin hanya membawa pulang lembaran skripsi yang kerjakan susah payah. Bukan itu yang mereka harapkan penuh dariku. Mereka butuh lebih dari itu. Skripsi atau bahkan gelar yang akan bercokol menambah panjang namaku bukanlah tujuan mereka membawaku kesini. Mereka ingin melihatku lebih baik, mungkin lebih baik dari mereka sendiri.

Kehidupan yang sebenarnya justru baru aku mulai. Aku bahkan baru merasa menjadi manusia saat ini. Perlahan kau tentu akan tahu bagaimana berdiri dengan kakimu sendiri. Terkadang aku mengutuk diriku yang terlahir seperti ini. Iri melihat mereka yang lebih segalanya dariku. Tapi seketika itu, Tuhan menunjukkan masih ada yang lebih memprihatinkan dariku yang justru mengajarkan KESEDERHANAAN dan KEIKHLASAN dalam hidup.

Ketika aku kuliah mempelajari datangnya uang. Aku selalu mengutuk keberadaan uang yang selalu membuat jarak antara manusia. Mereka yang bermandikan materi tampil memperlihatkan diri, membuat jarak dengan mereka yang kaum papa (baca : apa-apa). Aku selalu bertanya dalam diriku, di dunia ini apa yang tak mampu diukur dengan materi. Aku belum menemukannya.

Kembali duduk di keadaan sekarang! Cita-citaku mungkin masihmenggantung dilangit, menunggu Tuhan untuk memeluknya. Saat kubuka mata, cita-citaku sudah di depan mata.  Tapi tidak semudah itu, banyak awan gelap yang menghalangi yang harus kuhapus satu per satu agar aku bisa melihat Tuhan memeluk cita-citaku.

Saudaraku seperjuangan di tanah rantau…

Ingatlah tujuan hidup kalian. Carilah cita-cita kalian. Bekal doa dan jerih payah orang tua yang telah menyertai perjalanan rantau kita jangan kita biarkan terbuang percuma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s