Jawaban Cinta yang Terselip

Ku langkahkan kaki menyusuri lorong warnet yang berbau asap. Setalah keluarpun bau asap tetap menyergap hidungku, memaksa untuk masuk hingga ke rongga paru-paruku. Tetap saja pesannya membekas jelas. Bahkan sesekali aku merasa mendengar gema suaranya mengucapkannya langsung dihadapanku. Kupercepat langkahku sembari mengingat hal lain untuk mengalahkan gemasuranya dipikarnku.

***

“Kamu mau es?” tanyanya lugu. Dengan segaris senyum tipis, dia mengulurkan es loli padaku. Kutatap dia lekat-lekat, ku ambil es lolinya lalu pergi tanpa kata “terima kasih”. Aku berbalik melihatnya. Dia sudah bergabung dengan kelompoknya, bermain dan tertawa lepas dengan ibu guru dampingannya. Kulihat kembali es loli yang setengah cair itu, segera saja ku gigit ujungnya dan menghabiskannya. Sensasi gula merah dan kacang hijaunya segera memenuhi mulutku dan melegakan rasa dahagaku.

“Hoi… lagi lamunin apaan?” sentakan tangan Ari dipundakku segera membuyarkan kenangan kecilku.

“Tidak… Tidak apa-apa kok,” jawabku singkat. “Dari mana aja? Dari tadi aku tungguin di rumah, kmu ga kliatan juga,” segera saja kulayangkan tinjuku pada lengannya yg berisi.

Ari mengaduh tanpa suara, bibirnya yang mengisyaratkan itu, “Tadi abis ngerjain tugas sama anak-anak kampus. Ya maap..,” nada cueknya tetap saja nempel disetiap ucapannya. “Emang kamu dah nungguin dari tadi yah? Trus gimana, jadi ga kita Amplaz?”

“Ya iya jadilaah… aku udah nungguin dari tadi, masa ga jadi! Hayo, cabut!!!” dengan setengah jengkel aku keluar dari kamarnya. Kusambar saja helm da kci motornya dan menunggunya di luar.

“ayo, buruaaan… keburu maghrib nih!” teriakku yang sudah siap di jok motor. Sesekali kubunyikan klakson untuk memerintahnya segera keluar. Sungguh kebiasaan buruk. Setiap kali bersama dia, pasti harus menunggu berjam-jam. Padahal tidak ada yang berubah dari dirinya, entah apa yang dia lakukan hingga begitu lama.

“iya…iyaa!” teriaknya sambil menuju pintu keluuar.

Perjalanan ternyata tak seperti yang kami perkirakan. Hujan segera menghadang kami. Naluri kemudian menuntun kami untuk segera mencari tempat berteduh. Aku hanya bisa mendengar Ari  mengomel entah pada siapa. Dia memang benci hujan, apalagi dalam kondisi kurang persiapan seperti ini. Mataku mengikuti aliran air hujan yang melewati kakiku. Kulepaskan sandalku dan kubiarkan kaki merasakan tetesan hujan. Tetesan hujan yang sejuk membuatku sedikit lega dan entah kenapa aku selalu merasa seperti itu.

***

Namanya Putri. Aku bahkan sudah tidak ingat lagi apakah aku pernah berkenalan langsung dengannya. Dia berjalan di lorong menuju kelas. Aku melihatnya dari kejauhan, berteriak memanggilnya, “Tunggu!” seruku segau. Tak kupedulikan mata yang buru-buru memandangku akibat teriakan sengauku. Dengan wajah yang mulai berpeluh dan masih berusaha menyambung napas demi napas, akhirnya suaraku keluar juga.

“Haaaah, mana PR yang semalam. Aku baru mengerjakannya sampai nomor 5. Memangnya LKS Biologinya dikerjakan sampai bab berapa sih? Haaaah haaaah…” tanyaku masih tersengal sembari mengusap peluh yang mulai muncul tetes demi tetes.

“Ya udah, di kelas saja lanjutin PR-nya. Ayo, keburu bel masuk,” dia menjawab dengan santai dan segera menarik tanganku masuk kelas. Tasku ku letakkan di meja guru dan langsung mengambil LKS, ku sambar LKS dari tangannya dengan cepat. Masih tersisa tiga pertanyaan yang belum terjawab, dan semua lembar jawabannya sudah penuh. Tanganku segera dengan cekatan menyalin layaknya mesin fotokopi, semua sama persis. Tapi tak apalah, bukankah aku dan Putri sudah mendiskusikannya sebelumnya. Jadi wajar saja jawaban kami sama, batinku.

Semua berhasil, jawabannya selesai tepat sebelum Ibu Syarifah menambahkan tugas satu bab lagi. Ibu Syarifah mengajar dengan semangat. Maksudnya sangat bersemangat memberi kami tugas. Tidak hanya lembar latihan LKS yang harus kami isi, kami juga mendapatkan bonus PR dengan soal yang dibacakan langsung oleh beliau. Tak ketinggalan hafalannya. Entah kenapa aku merasa Ibu Syarifah ingin balas dendam kepada kami. “Ingat semua diselesaikan dan dikumpulkan minggu depan!” tegasnya.

Waktu istirahat

Kami seperti tahanan yang baru saja mendapat remisi bebas penjara. Entah apa pentingnya kami berteriak kegirangan, padahal hal ini memang sudah menjadi hak kami untuk sekedar mengisi perut yang sudah mulai ikut berteriak minta makan.

Ku tahan sejenak emosi kegiranganku sembari mendekati Putri, “Kamu nggak makan?” tanyaku singkat.

“Aku masih kenyang kok. Di rumah sarapan banyak. Eh, ibu nitip sarapan buat kamu juga tadi,” tangannya langsung melakukan pencarian dan menemukan sebuah kotak berisi sandwich. “Ini, dihabiskan yah…”.

“Tanpa disuruhpun, pasti akan habis,” candaku. “Kebetulan saja tadi nggak sempat sarapan, keburu tugas biologi tadi,” akhir ucapanku kemudian dilanjutkan tawa kami berdua.

“Gimana Harry Potternya? Udah selesai belum?” Putri selalu bersemangat untuk hal yang satu ini.

“Lho… bukannya perjanjiannya seminggu? Ini kan baru 3 hari,” ingatku. “Lagian aku baru baca setengahnya kok. Half Blood Prince-nya masih jadi misteri. Buku yang dida…”

“STOP. Jangan dibahas sekarang! Huaah… pokoknya nanti kamu harus anter bukunya ke rumah. Selesai atau tidak, okay?” senyumnya selalu saja menjadi senjata ampuh untuk mengiyakan perkataannya.

Usai shalat maghrib

Langit berubah gelap. Ternyata lampu jalan membuat bintang yang berkedip seakan tak dianggap lagi. Di luar cukup dingin, dengan modal kaos oblong tentu saja dinginnya masih terasa. Rumahku memang tidak terlalu jauh dari rumah Putri. Berjalan kaki dengan sembari membaca Harry Potter and The Half Blood Prince. Dengan penerangan jalan yang timbul tenggelam membuat mataku harus mengeluarkan daya akomodasi maksimum. Sesekali langkahku terantuk batu, bahkan hampir terjerumus di kanal. Sepertinya ini ide yang buruk.

Tintoooong Assalamu Alaikum

Tintoooong Assalamu Alaikum... suara bel yang kedua akhirnya mendapat respon. Dari luar aku mendengar Putri menyuruh adiknya untuk membuka pintunya.

“Sudah kuduga, pasti kak Roni. Masuk Kak, saya panggilin dulu Kak Putri,” Kiki, adik Putri membuka pintu dengan malas. Kiki segera saja teriak memanggil Putri, tapi ada yang aneh dengan teriakannya. “Kak putriii… pacarnya dateng tuuuh!” dia pun terkekeh pelan sambil menatapku. Aku hanya membiarkan wajahku membentuk ekspresi heran ke arahnya.

“Nih bukunya, kita bacanya joinan aja yah. Malam ini kamu baca, lusa aku kesini lagi ngambil bukunya. Okay?!” paksaku halus. Tanpa menyimak tawaranku, dia segera merebut Harry Potter dari tanganku. “Ya sudah, aku permisi dulu yah. Jangan lupa perjanjiannya,” ucapku diiringi senyum kecut. Wajahnya pun kemudian menghilang dibalik pintu.

Dua hari kemudian, Harry Potter kembali didekapanku. Sebuah kertas yang kujadikan pembatas membuatnya langsung terbuka pada halaman yang menjadi target bacaan selanjutnya. Mataku kemudian tertuju pada tulisan kecil yang kukenali pada pembatas bacaanku. Itu tulisan Putri.

“Kenapa bacanya harus kayak gini. Cara baca yang aneh!!! Kamu bacanya cepetan yah, aku juga udah ga sabar nyeleseinnya nih…

Oh iya, aku punya pertanyaan :

  1.  Kalo kamu punya amortentia, kamu mau ngasih buat siapa?
  2.  Kamu mau nggak kalo aku kasih veritaserum? Coz you’re so mysterious for me…”

Aku tak mengerti dengan apa yang ditanyakannya. Namun dia meminta jawabannya, jawaban itu harus aku balas pada kertas itu juga.

Keesokan paginya, kuputuskan untuk menceritakannya kepada Firman. Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang suka curhat. Cuma entah kenapa, aku merasa hal ini perlu untuk aku ceritakan, dan aku rasa Firman orang yang tepat.

“Kamu harus nembak dia besok!!!” tegasnya setelah kuceritakan panjang lebar.

What!! Tapi kan, a…”

“Ga ada tapi-tapian! Besok selesai upacara penurunan bendera kamu harus mengungkapkan perasaanmu. Itu sudah jelas cinta, dan dia juga menunggu untuk itu…” untuk urusan cinta, Firman memang selalu bersemangat. “Kamu ga liat, si Sefri juga dekat ma dia. Urusan sefri, biar aku tangani. Pokoknya, besok kamu harus bilang sama dia!!”

Aku hanya bisa melongo tidak mengerti. Waktu tiba-tiba saja berputar sangat lama dan itu membuatku sangat tersiksa. Tersiksa memikirkan apa yang harus aku katakan padanya.

17 Agustus 2005

Seperti biasa, sekolah kami diundang untuk mengikuti upacara 17-an, baik penaikan bendera maupun penurunan bendera. Firman mendesakku untuk mengungkapkan perasaanku setelah penurunan bendera. Jika kemarin waktu begitu lama, kali ini waktu berlalu begitu cepat. Atau mungkin hanya aku yang merasa seperti itu. Aku semakin deg-degan, bingung bagaimana aku harus mengungkapkannya.

Akhirnya tiba juga penurunan bendera. Waktu semakin cepat dan akhirnya upacara telah usai. Semua peserta upacara telah bubar, sementara aku dengan wajah yang gugup semakin bingung. Firman sudah mengatasi sefri begitu upacara usai. Aku sempat melihatnya, firman telah membawanya ke arah yang berlawanan denganku.

Rumah putri memang sangat dekat denganlapangan tempat kami upacara. Sambil berjalan bersama di trotoar jalan, dengan gugup ku paksakan keberanian itu datang and it’s show time.

“Put, sebentar… Aku pengen ngomong sesuatu,” saat ku berbicara aku bahkan tak sanggup menatap wajahnya. Ku alihkan pandanganku ke arah lain, aku justru melihat teman-temanku yang mendukung misiku saat ini. Menunggu hasil, seperti layaknya mereka nonton bola yang sedang seri dan menunggu gol penentu.

“ada aapa? Mau bicara apa, Ron?” desaknya.

Tak satupun kata-kata yang keluar dari mulutku. Bsa basi pun tidak. Aku hanya bergumam hmmm dihadapannya. Ternyata keberanian yang kukumpulkan belum cukup. Putri terus mendesakku, ditambah lagi adzan maghrib telah berkumandang. Putri semakin mendesakku untuk mengatakannya, namun tetap saja tak ada yang keluar dari mulutku.

Di saat yang tepat, saat putri sudah lelah menunggu kata-kataku keluar dari mulut, Vina datang di simaping kami.

“I Love you!” ucap Vina sambil berlalu.

“jadi mau ngomong apa, Ron?” tanyanya sekali lagi.

“Itu… hmmmm, itu… sama seperti yang dibilang Vina tadi…” akhirnya kata-kataku meluncur juga.

“yang mana?” tak tahu, apakah putri pura-pura mendengar apa yang dikatakan Vina ketika dia lewat atau tidak.

“Ya itu…. Aku suka sama kamu.. I love you,” bgitu lega saat kukatakan.

“Harus jawab sekarang?” dia kembali bertanya dan aku hanya bisa menjawab dengan anggukan. Kali ini putri yang terlihat berpikir. “Okay, terima kasih. Tapi maaf aku belum bisa pacaran untuk saat ini. Kecuali kamu mau nunggu dua tahun lagi. Menunggu hingga kita lulus…”

Wajahku memerah saat kudengar jawabannya. Aku merasa sangat malu dihadapannya. Mendengar jawabnnya, ada yang aneh di dalam dadaku. Entah apa, tak mampu ku mendefenisikannya. Melihat wajahnya, melihat matanya penuh harap. Mengahrap balasan jawabn atas pertanyaannya. “baiklah”

Putri segera berbalik dan pulang ke rumahnya. Vina kembali lagi dan mendorongku sembari berbisik, “temani dia… bagaimana jawabnnya?”. Aku hanya bisa tersenyum, sabil berjalan menemani putri kembali ke rumahnya.

Dua tahun bukan waktu yang sedikit untuk hanya sekedar menanti jawaban ya atau tidak. Hari-hariku setelah penembakan berjalan seperti biasa. Terkadang saja agak risih ketika ditanya, “gimana jawabannya?”. Semua hanya kujawab dengan senyum simpul yang kumiliki.

Begitu juga dengan Putri. Tak ada yang berubah dengan sikapnya. Kami bahkan terus melanjutkan ‘surat-suratan” dengan perantaraan Harry Potter and The Half Blood Prince. Betul-betul cara baca yang aneh.

Pagi itu, kulihat Sefri sedang duduk berdua dengan Putri. Entah apa yang mereka bicarakan, hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Wajah mereka berdua tampak begitu berseri. Tak tahu seperti apa wajahku saat ini. Perasaanku seperti campur aduk. Entah inikah yang disebut cemburu. Tapi aku tak yakin. Terlalu cepat untuk menyimpulkan perasaanku saat ini.

Masih berdiri terpaku. Sesekali kulihat  putri tertawa begitu lepas. Suara tawanya yang mengalun bersama angin terhembus dan terdengar sangat jelas di telingaku. Mungkinkah mereka sudah berpacaran sekarang? Atau mungkin menju tahapan itu? Melihat mereka semakin lekat,kuputuskan untuk mengalihkan pandanganku. Lebih baik kuteruskan saja Harry Potternya.

Lembaran Harry Potter kubolak balik hanya pada halaman itu saja. Pikiranku tak tertuju lagi pada kisah Ron dan Lavender. Bayangan tawa dan senyuman mereka mempermainkan pikiranku. Bayangan nya tampak lebih jelas, sampai-sampai aku membaca kisah hidup mereka berdua di tanganku.

Sekali lagi kubalik halaman sebelumnya. Kali ini aku mengerahkan seluruh kemampuan imajinasiku untuk menghilangkan bayangan mereka. Untunglah bayangan Hermione mulai muncul. Rasa sakit dan cemburu yang dialaminya mulai aku rasakan juga. Dia tak tahan lagi dengan tingkah Ron dan Lavender yang terus bermesraan di depannya. Hermione pun pergi menyendiri, hanya burung-burung sihirnya yang menemani.

Aku merasakan skor 1-1 dengan Hermione. Melihat Putri dan sefri pagi ini , rasanya sama seperti yang dialami oleh Hermione. Akhirnya ku berani menyimpulkan bahwa aku cemburu. Sensasi rasa sakit yang ku rasakan juga sama. Entah seperti apa, aku tak bisa perasaan yang begitu abstrak. Hanya satu kata SAKIT. Aku merasa pada bagian melankolis dalam hidupku. Ternyata beginilah rasanya.

Kubiarkan diriku terpuruk dipojok belakang. Pelajaran hari ini sama sekali tidak kuperhatikan. Diam-diam aku terus melanjutkan kisah trio penyihir Harry, Ron dan Hermione. Untunglah aku tidak ketahuan. Bisa-bisa harry potter akan disandera dan kemungkinan terburuk akan menjadi koleksi guru yang menangkapnya. Jam pulang bahkan hampir terlewatkan padaku. Saat itu juga tak ada suran lagi yang terselip dalam Harry potter. Dengan buru-buru langsung saja kuletakkan bukunya dihadapan Putri sebelum dia memintanya. Cara membaca yang aneh terus berlanjut. Putri sempat memanggilku berkali-kali, namun aku tak berbalik bahkan tak menjawab panggilannya dengan isyarat apapun. Sama-samar kudengar sefri mengajaknya pulang bareng tapi sepertinya Putri tidak mengiyakan ajakannya.

2 hari kemudian, buku yang penuh dengan mantra sihir itu masih berada ditangan Putri. Jadwal kepemilikan sementaraku berlaku lagi mulai dari pulang sekolah nanti. Pelajaran matematika sudah dimulai. Ibu Sakinah mulai memberikan latihan soal-soal menjelang ujian harian. Aku mulai kelabakan untuk mata pelajaran yang satu ini. Butuh waktu ekstra untuk mencerna soalnya, maksudnya otakku membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguraikan dan mengerjakannya. Dalam keadaan itu, sebuah buku catatan mendarat dihadapanku. Tangan Sani yang mengopernya dari depan memberikan sebuah buku catatan. Tak perlu berpikir lama seperti mengejakan soal matematika untuk mengetahui siapa pemilik catatan ini. Ku buka saja, yakin ada sesuatu di dalamnya. Dan benar saja, sepucuk surat selipan lagi. Surat itu didominasi oleh coretan pena yang tak beraturan. Di bawahnya terdapat tulisan kecil khas Putri. “kamu tau ini gambar apa?”

Hanya itu saja yang tertulis. Pesan yang begitu singkat. Sekali lagi kulihat coretan pena yan semakin tidak jelas ini. Sama sekali tak ada bentuk yang menyerupainya. Sama sekali tidak ada. Akhirnya aku hanya membalasnya dua kata saja. “Tidak tahu”.

Beberpa menit kemudian melalui perantara yang sama, Sani kembali mengoper dari depan. Segera kubuka lagi surat yang terselip itu. “ini adalah perasaanku sekarang. Aku udah ngasi sinyal-sinyal biar bisa ngomong sama kamu sampe antenaku patah semua. Jadinya aku kayak kambing congek aja”

Lagi-lagi hanya kubalas dengan dua kata. “I’m sorry”. Surat itu kembali kukembalikan pada Putri melalui jalur yang sama. Dari Sani, Kiki, Nur dan akhirnya ke tangan Putri. Belum sempat kuselesaikan soal matematikan yang tadi, balasannya datang lagi. “And you know… you the only one in my heart. Just you are…”. jawabannya kali ini membuatku menganga selama beberapa detik. Aku bahkan merasakan jantungku juga berdebar semakin cepat. Aku memutuskan untuktidak membalas apa-apa surat itu. Saat kembali ditangannya, dia berbalik melihatku dengan ekspresi yang tak kumengerti. Sejak saat itu, sikapku kembali berubah padanya. aku tahu sikapku terlalu berlebihan padanya. walaupun belum bisa pacaran dengannya, setidaknya menjadi sahabat sejatinya itu sudah cukup.

Dua tahun berlalu dengan cepat, acara perpisahan sudah dimulai. Gedung sudah penuh sesak dengan siswa dengan setelan resmi. Dasi yang terpasang dileherku hampir membuatku tak bernapas. Kulonggarkan sedikit sambil celingukan mencari Putri. Sampai acara dimulai sampai pengumuman sisaw bebas tes sekalipun dia tak muncul. Dia telah diterima di komunikasi UI dan ternyata sudah di jakarta sekarang. Belum sempat ku menagih janjinya, dia sudah pergi. Namun kuputuskan untuk melupakan janjinya setelah kepergiannya yang mendadak tanpa kabar.

***

“kemarin aku bermimpi kau meninggal….

Aku berharap kau baik-baik saja di sana”

Sender : Putri

Time  : 12-01-201

00.45.50

Sejak kepergiannya ke Jakarta, Tuhan tak pernah lagi membiarkan kami bersama. Kebersamaan yang indah mulai dari TK hingga SMA sepertinya belum cukup untuk kami. Namun, suratan Tuhan berkata lain. SMS nya mengagetkanku malam itu. Memang sudah lama juga aku memutuskan untuk benar2-benar melupakannya, tak ingin lagi berharap lebih padanya. tak ingin lagi membuang-buang waktuku untuk penantianku yang sia-sia. Tekadku yang sudah bulat tetap kupertahankan. Kali ini bukan hanya SMS nya yang aku hapus, tanpa pikir panjang nomornya pun ikut tersapu.

Sinar matahari menerobos masuk kamarku dan memaksaku untuk membuka mata. 09.16 tertera jelas di kotak kecil itu. Tanpa cuci muka sama sekali, langsung saja kuberlari menuju warnet dekat kost. Kebetulan hari ini hari terakhir pengumpulan tugas kuliahku. “44 menit lagi…” gumamku. Dengan pakaian tidur yang masih melekat, wajah lusuh bangun tidur tetap kupertahankan sampai benar-benar tugasku telah terkumpul.

Tiba di warnet, cepat saja ku buka emailku dan segera mengirimkan tugasku. Dan akhirnya muncul pesan “Terkirim”.  Entah semacam kebiasaan atau godaan, dipastikan saat aku online akan membuka akun facebook. Sepertinya tanganku sudah terlatih untuk mengetikkan alamat itu. Seperti biasa, kutanggapi semua notif yang muncul setelah itu kubuka kotak pesanku. Sedikit kaget dengan kotak masuk yang satu ini.

No subject

Between you and Putri at Paradise

“Aku minta maaf karena sudah mengganggu kehidupanmu. Aku tahu kau sudah bersama yang lain, dan aku tak ingin mengganggumu lagi. Dan sejak aku memimpikanmu, aku pun memutuskan untuk pergi selamanya dari kehidupanmu. Tapi kau tahu, kini perasaanku bukan lagi perasaan antara sahabat, tapi perasaan antara pria dan wanita. Terima kasih atas semuanya…”

Pesannya masih terngiang-ngiang dengan jelas. Aku bahkan mendengar suaranya mengatakan langsung isi surat itu. Menyesal, iya. Tapi sudah kuputuskan untuk melakukan hal yang sama untuk melupakannya.

“maafkan aku. Aku hanya berusaha untuk berhenti berharap lebih untuk jawaban yang kau janjikan dulu. Tapi kau malah pergi. Sekarang sudah lima tahun dan kau baru memberikan jawaban itu sekarang. Terima kasih atas jawabanmu, tapi terlambat. Kau juga sudah tau, aku telah menemukan orang yang telah menggantikanmu saat ini. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya…”

***

Ayo, Ron! Hujannya udah reda tuh… sekarang kita lanjutkan perjalanan. Tapi makan dulu yah, aku laper banget nih nungguin hujan,” Ari segera membuyarkan lamunanku seketika.

“Hah! Bayarin yah…” jawabku sedikit kaget.

“Iya, iya… ayo cabut”

Sejak saat itu, kami tak pernah lagi saling menghubungi. Aku telah mengganti nomor handphone ku untuk menghindari kemungkinan hatiku luluh oleh janjiku sendiri. Persahabatan kami, yang terjalin dari TK hingga SMA berakhir dengan cinta yang tak seharusnya seperti ini. Kini kami hidup dengan jalan yanng telah kami pilih dan putuskan sendiri dengan berbagai konsekuensinya. Biarlah cinta itu lenyap, walaupun masih menyisakan bekas yang cukup dalam. Cinta akan datang kembali dan biarkan cinta yang baru mengobati luka lama yang belum terobati.

(Pernah diikutkan Lomba, tapi sayang ga menang… T.T)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s