Final Destination

Semangat pagi itu kugenggam dengan erat. Senin kemarin, proposal penelitianku telah kuhantarkan dengan harapan besar akan jawaban konfirmasi dari mereka. Bus Ksatria, begitu aku menyebutnya (inspirasi dari Harry Potter) yang membawaku dari bank ke bank. Panas hari itu juga lapar yang memenuhi perutku tak mampu lagi untuk ku hiraukan. PROPOSAL HARUS AKU ANTARKAN HARI INI… hanya itu yang aku pikirkan.

DESTINATION 1 (BNI SYARIAH KUSUMANEGARA)

Setelah menunggu Bus yang datang menjemput (halah…) akhirnya aku tiba di BNI Syariah Kusumanegara. Pagi itu cukup ramai, hingga akhirnya aku harus mengantri untuk bertemu costumer service. 116, nomor antrian yang ada di tanganku. Masih ada 3 orang lagi di depanku. Dalam hati aku berpikir, inilah budaya yang paling aku benci. Antri, dan yang pasti akan lama.

Sembari menunggu, seorang ibu duduk disampingku. Ibu berkerudung merah (jadi ingat red riding hood… hahahaha) yang suda paruh baya duduk dan mulai bermain dengan blackberry-nya. Sesekali ku intip ibu, kulihat dia sedang bermain fesbuk. hahahaha ingin rasanya aku tertawa keras saat itu. Sekali lagi aku intip kegiatannya bersama BB. Kali ini ibu berkerudung merah ternyata membalas status dari koleganya. “Welcome to ina, sir. You must visit us” (hahahaha dasar tukang intip!!!)

Tiba-tiba ibu itu langsung menatapku. “Ngantri disana juga yaa…” ucapnya sambil menunjuk ke arah costumer service.

“Iya, Bu,” jawabku singkat. Kulihat ibu itu yang balik mengintip apa yang aku pegang. Ternyata dia mengincar kartu antrianku.

“Bisa tuker, ga. say cuman bentar koq. Cuma mau cek transfer, udah sampe apa belum,” rayunya.

Aku pun langsung mengiyakan permintaannya. Tak ada salahnya, toh cuma beda satu aja. Aku 116, dia 117. Selang beberapa saat, dia kemudian mulai mengintreogasiku. Bertanya mau apa, kuliah di mana sampai asal saya dari mana. Semua berhasil aku jawab dengan benar (hahahahha…). Si kerudung merah kembali membuka percakapan denganku. Diceritakannyalah kalau ternyata dia baru saja tiba dari Macau. Aku ladeni saja ibu itu, sampai akhirnya dia menceritakan pengalamannya di Australia, HOngkong, Singapura, Malaysia. Lumayanlah, sambil nunggu antrian. Tapi tetep aja hanya kata IYA dan OOO yang keluar dari mulutku mendengar cerita-ceritanya. Menutup ceritanya, si ibu menyemangatiku untuk rajin kuliah dan tetap semangat menyelesaikan skripsiku. Dia pun menuju costumer service. Selang beberapa menit baru kemudian giliranku.

Di depan costumer service aku mulai menjelaskan bahwa aku ingin melakukan penelitian wawancara. Setelah kujelaskan panjang lebar, si mbak-nya malah jawab, “Maaf, Mas. Untuk penelitian, mas nya langsung saja ke bagian umum lantai dua”. DEG! Huuuuuh malu tenan jadinya, ngomong panjang lebar, malah salah alamat. Segera saja aku pamitan dengan mbak costumer service dan menemui bagian umum unutk mengantarkan proposalku.

DESTINATION 2 (BRI SYARIAH KRIDOSOSNO)

Masih dengan Bus Ksatria (walaupun bentuknya sudah agak reot). Kadang-kadang napas dan jantungku ikut berpacu ketika sopir bus menganggap jalan raya seperti arena balap bus. Saling salip-salipan, membuatku oleng ke kanan dan ke kiri bergantian. Tiba di BRI Syariah, aku mendinginkan diri, menghapus jejak keringat dan menarik napas. Dengan sengaja aku berjalan lambat-lambat (walaupun ternyata tidak berhasil).

“Assalamu alaikum, ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya pak satpam padaku.

“Wa alaikum salam, pak. Saya mau nganter proposal penelitian, ketemunya sama siapa, Pak?” tanyaku takut salah seperti di BNI Syariah tadi.

“Iya, Mas tunggu di sini dulu,” Pak Satpam mengajakku duduk di ruang tunggu.

Sembari menunggu, kerongkonganku yang kering sedari tadi tiba-tiba semakin gatal ketika melihat air gelas di atas meja ruang tungggu. Kutelan ludahku berkali-kali, baru saja aku mau mengambilnya Pak Satpam sudah datang lagi.

“Ditunggu ya, Mas. Nanti ketemu sama Mbak Winda”.

“Iya, Pak. Makasih…”.

Akhirnya kuputuskan untuk mengurungkan niatku untuk mengambil air gelas itu. Mbak Winda pun datang. Matanya yang indah membuat rasa letihku hilang berganti semangat baru.

“Mas, ini nunggu dulu yah proposalnya. Soalnya harus ada konfirmasi dari pusat,” ucapnya merdu.

“Ooo gitu ya, Mbak”.

“Iya. Nomor kontaknya ada disini kan? Nanti saya hubungi lagi”.

Usai pertemuan kami yang singkat itu, aku salami saja tangannya sebelum keluar. Sebenarnya sih ga ada maksud lain, biar lebih akrab aja (hahahahaha).

DESTINATION 3 (BANK SYARIAH MANDIRI UII)

Jarak dari BRI Syariah dengan BSM tidak terlalu jauh. Jadi kuputuskan untuk jalan kaki saja. Akhirnya aku berjalan dengan lambat, walaupun terkadang cepat juga karena kebiasaan. Di perempatan Gramedia, Cakra dan Daddi sempat meneriakiku mau kemana ketika akan menyeberang. Aku hanya tersenyum menunjuk lurus ke depan.

Tiba di BSM, sungguh tak diduga. Aku hanya bertemu Pak Satpam yang mengambil alih proposalku. Mungkin sudah tugasnya seperti itu. Aku titipkan saja padanya dan meminta nomor kontak bank tersebut. Belum hilang peluhku berjalan kaki oleh ruang ber-AC di BSM, aku keluar lagimenunggu Bus Ksatria. hehehehe

DESTINATION 4 (BANK MUAMALAT MANGKUBUMI)

Bus Ksatria kali ini membawaku berkeliling mengitari UGM hingga akhirnya aku terkantuk-kantuk. Sesekali kutatap bayangan wajahku dicermin. Hanya untuk memastikan kalo wajahku baik-baik saja. Kurapikan rambutku yang tertiup angin, angin yang akhirnya juga membantuku menghapus keringatku.

Nasib sama aku alami juga di Muamalat. Aku hanya bertemu Pak Satpam dan menitipkan proposalku padanya tanpa lupa meminta nomor kontak banknya. Perjalananku kembali berlanjut dengan berjalan kaki menuju Indomaret terdekat unku mencari sebotol air minum. Aku pun membeli roti, aku lupa ternyata aku juga lapar. Kombinasi antara lapar, haus, panas dan capek baru terasa. Masih berjalan kaki sambil minum dan makan, kususuri jalan hingga akhirnya aku berada di depan Polsek untuk menunggu bus. Bus terakhir yang akan mengantarku kembali ke asrama.

Sungguh perjalanan yang melelahkan namun melegakan. Tugasku selesai sudah. Semua bank yang kukunjungi memberikan waktu satu minggu untuk konfirmasi mengenai penelitian wawancaraku. Aku sungguh berharap lebih pada mereka, agar dimudahkan dalam penantiannya. Jangan sampai terlalu lamalah aku menunggu jawaban mereka hanya untuk wawancara. Targetku sudah semakin molor sampai semester yang aku tak tahu lagi sudah semester berapa. Semester ini harus SELESAI..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s