Saya Tidak Mau Jadi Anak Durhaka!

Kejadian ini terjadi 19 April kemarin. Usai shalat subuh, mata ini masih ingin terpejam. Segarnya air wudhu yang masih terasa di wajahku ternyata kalah oleh godaan bantal dan selimutku. Dalam hitungan menit, entah kemana lagi mimpi ini bertualang… zzz ZZZ zzz….

“Hello, hello, baby, you called?
I can’t hear a thing
I have got no service
In the club, you say? say?
Wha-wha-what did you say, huh?
You’re breakin’ up on me
Sorry I cannot hear you
I’m kinda busy
Kinda busy
Kinda busy…

Deringan handphone akhirnya membangunkanku. Dilayarnya yang kecil, terbaca olehku “My Father calling”. Dengan mata yang masih menerjap, akhirnya kuangakat telepon dari beliau. Beberapa kali aku berdehem, kubuat agar suaraku tak terdengar baru saja bangun.

“Assalamu alaikum,” sapaku sedikit parau karena belum sempat minum sebelum bangun.

” Wa Alaikum salam. Bagaimana, uanganya sudah diambil?” tanya Bapakku di sana.

“Belum, nantilah saya ambil uangnya…” kali ini aku bahkan kembali mengantuk.

“Bagaimana skrip…” tiba-tiba suara Bapakku menghilang dari ujung telepon.

Kuperhatikan waktunya, masih saja berjalan. Kudekatkan kembali handphone di telingaku, belum terdengar apa-apa. Sesekali aku berteriak “Halo… halooo” namun tak ada respon sedikitpun. Akhirnya kutekan tombol untuk memutuskan pembicaraan kami pagi itu. Kurangkul kembali bantal guling, kutarik selimut hingga mataku terlindungi dari cahaya matahari yang mulai menerobos masuk kamar.

***

“Pinjam hapemu naah…” pinta Shaleh padaku. “Ada pulsanya tooo,” sambungnya.

“Iya, dipake saja…” jawabku cuek.

Entah berapa lama Shaleh meminjam hape-ku. Tiba-tiba saja aku ingin menggunakannya dan memintanya kembali padanya. Saat itu sudah sore, ada pesan masuk dari jam 2 siang tadi. Ternyata SMS dari Bapakku.

“Kenapa tadi hape-nya dimatikan, nak. Saya kecewa sekali, sementara bicara langsung dimatikan…” (kira-kira seperti itu, sudah lupa dan SMS beliau sedauh terhapus)

DEG! Darahku tiba-tiba terasa berdesir kencang, bahkan sepersekian detik sepertinya jantungku berhenti karena membaca SMS beliau. Dengan panik langsung saja ku telpon kembali. Beberapa kali ku telpon tidak diangkat sama sekali. Bahkan langsung dialihkan oleh operator yang mengatakan bahwa nomornya sedang tidak aktif atau sedang sibuk.

Entah panggilan keberapa, aku mulai cemas. Sangat cemas tepatnya. Aku telah membuat kecewa Bapakku. aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka pada orangtua. Saat-saat yang mencemaskan itu kemudian kau redam dengan langsung mengirimkan permintaan maafku pada beliau melalui SMS.

Taddampengengka, Pak (Maafkan saya, Pak). Tadi nda ada kudengar suara ta, jadi kututup saja”. (kira-kira seperti itu SMS saya)

Beberapa saat aku kirimkan SMS itu, aku masih menanti jawabannya. Tak sabar, aku pun kembali menelponnya, namun hasilnya nihil. Nada SMS pun berbunyi.

“Lain kali jangan begitu lagi. Sakit hati ini rasanya di-begitu-kan”. (lagi-lagi bukan redaksi asli, tapi artinya seperti itu)

Akhirnya, perasaan lega menyelimutiku bahagia. Tetap saja ada sedikit yang mengganjal perasaan. Perasaan tidak enak karena membuat kecewa Bapakku. Akupun membalas pesannya dengan janji bahwa tidak akan mengulanginya lagi. dalam SMS juga ku jelaskan bahwa ini terjadi karena salah paham saja. Semua terjadi karena buruknya sinyal yanng membuat suara beliau tiba-tiba menghilang tanpa ada maksud untuk menutup teleponnya selama pembicaraan kami berlangsung.

Maafkan aku, bapak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s